“Tubuh boleh terpasung, tetapi jiwa dan pikiran harus terbang sebebas-bebasnya.” – R.A Kartini

“Never surrender. Never give up the fight.” – Emily Davison

“There is a moment when you have to choose whether to be silent or to stand up.” – Malala Yousafzai

Masih banyak lagi pejuang perempuan yang peninggalan kutipan pemikirannya yang tidak bisa saya cantumkan satu per satu. Kartini meninggal muda tetapi warisan pemikirannya ajeg tertanam kuat hingga kini di Indonesia.

Emily Davison pejuang Suffragette (organisasi perempuan akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 yang memperjuangkan kesetaraan hak pilih bagi perempuan di Inggris) pasti juga sudah memikirkan akibat dari kematiannya ketika ia menerjang kuda yang sedang balapan di hadapan Raja.

Kematian Emily Davison akan membawa dampak perubahan. Begitu pula dengan Malala yang menerima tembakan timah panas yang melubangi kepalanya, juga pasti menyadari bahwa perjuangan pastilah butuh pengorbanan.

Saya merasa sangat sedih dengan banyaknya ‘pasungan’ yang dialami oleh kaum perempuan bahkan hingga hari ini. Dimulai dari korban kdrt, pelecehan seksual dan verbal, sunat perempuan, keterbatasan perempuan dalam hak-hak politik, ketidakadilan gaji perempuan dan gaji laki-laki dan untungnya pendidikan sudah seimbang antara perempuan dan laki-laki.

Walaupun begitu, masih ada saja omongan nyinyir yang berkata bahwa perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, perempuan tidak perlu berkarier, perempuan wajib dipingit dalam rumah selama-lamanya. 

Fanatisme agama membuat orang-orang keblinger dengan budaya patriarkinya yang mengagung-agungkan laki-laki, padahal Rasulullah SAW pernah bersabda, “Ambillah setengah ilmu pengetahuan agama kalian dari Humaira” (panggilan Aisyah r.a). Sementara itu, Asy-Syaikhah Syuhrah yang bergelar “Fakhr an-Nisa” merupakan salah seorang ulama perempuan yang adalah juga guru Imam Syafi’i, tokoh madzhab yang menjadi anutan banyak umat islam di dunia.

Rabi’ah al-adawiyah juga merupakan sufi perempuan tersohor, guru dari beberapa sufi terkenal seperti Sufyan ats-Tsauri, Rabah al-Qais, dll. Dan Amra binti Abdurrahman adalah seorang alimah dan pemberi fatwa di Madinah setelah sahabat-sahabat Nabi, karena ilmunya yang luas. Tokoh-tokoh diatas adalah pembuktian bahwa perempuan tidaklah bodoh bahkan bisa mengeluarkan fatwa seperti Amra binti Abdurrahman.

Di era modern ini gempuran pola pikir konservatif terus bergerak untuk kembali memasung para perempuan. Kita perempuan yang sadar harus dengan gigih juga berjuang dan bertahan demi kaumnya sendiri.

Bahkan, untuk bermimpi dan bercita-cita saja perempuan harus dikotak-kotakkan. Saya bercita-cita menjadi seorang teknokrat. Entah, akan tercapai cita-citanya atau tidak yang penting punya keinginan dulu. Tapi anehnya, mimpi saya sama sekali tidak diapresiasi oleh ibu saya.

Sewaktu saya mengutarakan cita-cita saya kepada ibu saya, beginilah jawaban beliau, “Itu kan cita-cita untuk laki-laki. Kalau hal-hal seperti itu biarlah laki-laki saja. Perempuan kan nantinya harus di dapur dan mengurus anak”. Hmmm... mulut saya terkunci karena shock saat itu. Di lain pihak bila membantah saya takut kualat, maka saya putuskan diam saja dan membuktikannya.

Belum lagi korban perkosaan yang biasanya selalu disalahkan. Sudah menjadi korban, malah disalahkan. Tidak heran biasanya justru korban perkosaan yang melapor malah bunuh diri karena tak tahan ejekan dari masyarakat. Banyak dari kita yang masih beranggapan bahwa korban perkosaan itu disebabkan karena si korban yang memancing birhai pelaku dengan berpakaian minim atau keluar tengah malam di jalanan sepi.

Padahal, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa yang harus menjaga pandangan adalah laki-laki. Adalah kebodohan besar bahwa birahi laki-laki hanya bisa dipancing karena pakaian minim wanita atau si gadis. Yang namanya birahi laki-laki akan tetap muncul bahkan terhadap perempuan bercadar sekalipun, ditengah hari siang bolong, di tempat keramaian.

Dengan banyaknya pola pikir ‘pasungan’ untuk perempuan masa kini, banyak yang harus dikerjakan kartini masa kini untuk memperjuangkan hak-hak kaumnya di masa ini. Terutama di tengah derasnya arus pola pikir konservatif. Kita sebagai perempuan harus terus meningkatkan kepercayaan diri para perempuan. Mulai dari bicara. Bicarakanlah apa pun yang mengganggu kalian.

Beranilah berkata tidak jika ada orang yang memaksakan kehendak kalian. Beranilah bersuara ketika hak-hak kalian diberangus. Mulailah berani bermimpi dan bercita-cita, kejar dan wujudkan. Jadilah perempuan kuat, mandiri, dan berdikari. Keluarkan karya dan jadilah orang yang bermanfaat untuk negara dan bangsa.