kuota telah Kubagikan
wifi telah Kupasang
kau lebih asyik streaming-an, bingo-an, dan vidcall-an
sedang pintamu sangatlah panjang
dan hanya mempersilakanku mengucap

“laksanakan”


Wasiat Digital

Terimalah dan gunakanlah
inilah kuota dari kuota-Ku
yang always on dan unlimiteds eperti cintaKu
yang dibagikan bagimu dan bagi semua insan
demi streaming-anhingga larut malam
berjagalah satu jam saja
untuk menemaniKu vidcall-an bersama Bapa


Insan Milenial

“Han, pesta terlalu kuno, ini kan zaman now.

“Bro,pesta dengan perjumpaan empat mata
di dunia nyata lebih bermakna
daripada sekadar selayang pandang
di layar kaca.”

“Han, pesta nge-live sama streaming-an
kurang mendalam. Ayo ketemuan!”

“Jangandulu bro,
sampai waktu yang tak ditentukan,
yang penting bertemu pandang
dalam pesta perjamuan.”

“Han,gawaiku lowbat,kuota-kumepet.”

“Tenang,ada tv, pesta siap ditayangkan di sana-sini.”

“Han,kantongku kering, listrikku kampret.”

“Nimbrungtetangga dulu ya, nanti aku ganti 30 dinar pulsanya.”

dm-an terus berputar
antara Tuhan dan insan millenial yang fenomenal
dengan dunia virtual dan hati digital
padahal Tuhan sudah diam
dalam dirinya sejak dunia dijadikan


Senewen

Mau online atau offline
Tuhan yang imanen
tetap merayakan perjamuan
pada hati hamba-Nya yang
acapkali senewen


Ujian Nasional

saat ujian nasional mata pelajaran kehidupan
yang riuh dengan kegelisahan
amin
berjaga bersama iman
untuk menjamin
semuanya tenang dan aman


Doa

Berbincang denganmu
menyadarkanKu
bahwasanya Aku telah lama
mendiami hatimu yang penuh prahara


Pembasuhan

Kau membasuh kakiku dengan antiseptik
menyekanya dengan kain terbaik
mengapa tidak juga tangan dan kepalaku?

karena Aku tahu tanganmu telah berlumurkan hand sanitizer
dahimu berstempelkan termometer
kepalamu tertutup helm
dan hati yang telah lama membisu
mulai meracau
bersama kegelisahan di kepalamu


Gabriel 

Senang sekali kau memberikan kejutan kepadaku,
Zakaria, dan orang-orang lainnya.
Kabar sukacita kau beritakan,
namun
pada akhirnya luka dan siksaan yang aku dapatkan.

Pedang telah menghujam dada,
di usia anakku yang ke tiga puluh tiga.
Beritamu adalah berita tuan,
yang tak pernah meleset dari kenyataan.

Tak seperti burung-burung
yang terbang ke sana ke mari
memberikan kabar yang tak pasti.

Kau beritakan kabar lagi.
Bahwa anakku yang telah mati
kini semakin kece dan asyik sekali.

Dagingnya benar-benar makanan
dan darahnya memang benar adalah minuman.

Sayang seribu sayang.
Dirimu tak bisa memakan dan meminumnya.
Itu khusus hanya untuk manusia.
Hosti dan anggur misa.


Enumerasi

Setiap angka utuh
dan pecahan
yang aku hitung
selalu berlebihan,

karena ternyata
yang aku hitung adalah cinta,

bukan uang.


Jendela

darimu aku dapat memandang
bukan dunia
namun dia
di ujung korona


Dari Elisabeth

Hai gadis
terpujilah engkau diantara wanita
dan
terpujilah paras cantikmu


Mengeja

Aku pun telah usai
namun mengejamu aku tak selesai
karena rindu yang berderai-derai
dan sendu yang sesungai-sungai


Novena

Sembilan kali aku mengesah
Sembilan kali pula Kau memberiku
tempat rebah


Rekoleksi

akupun mengumpulkan lagi.
kenangan–kenangan indah yang telah pergi
bersama sunyi dan hari.

akupun mengumpulkan lagi.
lagu–lagu rindu tentang aku dan kamu
yang telah melahirkan puisi dan melodi
di masa lalu.

akupun mengumpulkan lagi.
sajak–sajak yang telah lama pecah
karena rasa dan cinta yang resah gelisah
di balik tubuh yang ingin rebah ke tanah.

akupun mengumpulkan lagi
kembali lagi aku mengumpulkan lagi
sekali lagi dan lagi
dan terus terulang lagi

tubuh yang mulai ringkih tertatih
tak kuasa melawan rindu
yang terus menggerogoti diri

karena jarak dan waktu
memisahkan yang abadi dan semu
kau dan aku.


Setumpuk Rindu

Pancaran sutengsu di malam kelam
menyinari segalanya yang suram
Dalam jendela rumah di dekat kolam
Terlihat setumpuk karung tak karuan
Sendirian

Tak ada teman memang
Pralambang kesepian dalam kegelisahan
Yang selalu menggerogoti badan

Setumpuk karung tak karuan
bak setumpuk kerinduan pada seseorang
Seseorang yang disayang memang
Tiada yang menanggapi dan takkan pernah bersua

Selalu sendiri
Dalam kekelaman malam yang teramat sunyi
Sendiri
Tiada yang menemani

Setumpuk karung kerinduan
Pralambang seseorang yang memendam rindu tak tersampaikan
Terasa getir dirasakan
Seperti petir yang menyambar–nyambar

Setumpuk rindu tak tersampaikan
untuk seseorang yang teramat disayang