Di bagian awal dalam buku ini, dipengantari oleh Emha Ainun Najib (Cak Nun) yang mengulas bagaimana “mencintai Allah secara merdeka” yang merupakan salah satu tataran ilmu kebatinan atau laku dalam tasawuf. Hal ini yang menjadi pembahasan penting dalam buku yang berjudul Mencintai Allah Secara Merdeka: Buku Saku Tasawuf Praktis Pejalan Maiyah karya Dr. Muhammad Nursamad Kamba yang merupakan marja’ Maiyah dan kepakaran serta keluasan keilmuannya tentang laku tasawuf dan ilmu keagamaan tentu tidak diragukan lagi. Buku ini memuat tiga bagian pembahasan, yakni pertama, diskursus tentang tasawuf dan kenabian, kedua, sufisme Al-Junaid Al-Baghdadi, dan ketiga, mengulas mengenai jalan kenabian sebagai jalan peradaban.

Pembahasan awal dalam buku ini menyajikan bagaimana genealogi dan definisi tasawuf, tasawuf falsafi versus tasawuf Sunni, dan eksoterik versus esoterik. Didalam pembahasan tersebut, Pak Kamba mengulas secara kronologis berdasarkan pada historisnya, bagaimana tasawuf awal hingga sampai berkembang saat ini. Selain itu, banyak ulama’ sufi yang mengalami pengalaman spiritual sesuai dengan maqam mereka masing-masing dalam menemukan dan mencintai Allah. Di lain pihak, ada benturan yang terjadi dalam diskursus tentang tasawuf falsafi dengan tasawuf Sunni, dimana keduanya sering terjebak pada persoalan tasawuf sebagai ilmu, dimana ilmu harus merumuskan suatu teori, epistemologi dan paradigma yang melatarbelakangi praktik keberagaman dan ritual yang harus dijalani oleh seorang sufi. Sedangkan, tasawuf adalah persoalan tentang pengalaman dan intuisi seorang pejalan spiritual (sufi) untuk menemukan Allah.

Selain itu, Pak Kamba juga mengulas dengan detail dan mendalam, bagaimana perjalanan spiritual dan sufisme Al-Junaid Al-Baghdadi sebagai salah satu sufi yang menjalani laku tasawuf dengan melakukan perjalanan menuju makrifat. Dalam pandangan Al-Junaid, bahwa melawan hawa nafsu itu berat dan sulit sebab cara menangkalnuya pun sangat sulit (halaman 97). Bagi Al-Junaid, dua langkah yang mesti ditempuh dalam menangkal hawa nafsu, yakni Pertama, menyalahi apapun isyarat dan kecenderungan serta keinginannya. Kedua, melakukan aktivitas-aktivitas yang melelahkan jiwa. Namun, hal itu pun tak akan berhasil, jika Allah tidak hadir dalam menghapus segalanya, karena hawa nafsu sarat dengan tipu muslihat.

Dari berbagai topik dan pembahasan yang diulas dalam buku ini pada dasarnya memuat mengenai pengalaman dan proses yang dialami oleh para ulama’ sufi dan bagaimana lelaku tasawuf yang mereka jalani menjadi pengingat dan membuat kita paham tentang hakikat perjalanan spiritual dalam mendekatkan diri dan “mencintai Allah secara merdeka” seperti apa yang menjadi judul dalam buku ini. Berbagai pengalaman dan lelaku tasawuf yang dialami oleh para ulama’ sufi tersebut juga berbeda-beda sesuai dengan apa yang telah mereka perjuangkan.

Di akhir pembahasan buku ini, Maiyah menurut Pak Kamba dinilai sebagai jalan kenabian. Meski dalam pandangan Cak Nun, hal ini bukan klaim bahwa Maiyah merupakan shirath al-nubuwwah, sedangkan lainnya bukan atau tidak dari bagian tersebut. Dalam pandangan dan pendapat Pak Kamba, bahwa hal tersebut meneguhkan atas suatu pengetahuan yang baqa’, bahwa tidak ada jalan lain yang seyogyanya ditempuh oleh umat manusia kecuali dengan jalan Nubuwwah (halaman 22). 

Perjalanan spiritual dalam mempraktikkan kebijaksanaan, berlaku jujur dalam segala hal, dan menyebarkan kasih sayang dan cinta kasih adalah kewajiban mutlak yang harus dilakukan dan dijalani oleh seorang pejalan spiritual dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah dan mencintai-Nya secara merdeka.

Narasi tulisan yang kaya akan perspektif tasawuf sebagai jalan hidup bagi para sufi menjadikan buku ini layak untuk dibaca oleh para pembaca. Apalagi di tengah berbagai kesulitan hidup di masa pandemi Covid-19 seperti saat ini. Ketenangan dan ketentraman hidup menjadi hal yang diinginkan oleh semua orang. Tingkat stres dan kekhawatiran yang dialami oleh masyarakat serta kondisi psikologis yang tak stabil menjadikan mereka selalu merasa dihantui oleh berbagai tekanan hidup.

Saya rasa buku karya pak Kamba ini adalah oase di tengah gurun yang gersang. Apalagi masa-masa sulit ini, keteladanan dan jalan hidup yang mengajarkan ketenangan adalah solusi yang tidak dapat dipisahkan.

Jika pembaca selesai membaca buku ini, maka akan mendapatkan pemahaman dan pengetahuan tentang ilmu tasawuf dan lelaku yang dilakukan oleh para sufi dalam menjalani jalan tasawuf, serta bagaimana proses yang harus ditempuh hingga akhirnya mereka menemukan Allah dan bergumul dengan cinta dan kasih sayang-Nya. Buku ini sangat penting dibaca untuk membuka cakrawala berpikir, terutama bagi mereka yang berupaya menjalani perjalanan spiritual dalam mendekatkan diri pada Allah dan mencintai-Nya dengan cinta dan kasih sayang atau dalam bahasa Pak Kamba, “mencintai Allah secara merdeka”.

Judul Buku: Mencintai Allah Secara Merdeka: Buku Saku Tasawuf Praktis Pejalan Maiyah
Penulis: Dr. Muhammad Nursamad Kamba
Penerbit: Penerbit Imania
Cetakan: Agustus 2020
Jumlah Halaman: 334 halaman