Dini hari ketika tubuhnya dilempar dari dalam mobil dan berbaur dengan berbagai sampah yang mengeluarkan bau busuk, bumi sedang dalam keadaan basah. Udara di sekitarnya menjadi lembab. Berbau busuk. Amat busuk.

Ia merasakan dirinya masih hidup, namun entah mengapa, ia tak kuasa menggerakkan anggota tubuhnya atau sekadar mengeluarkan suara. Tubuhnya terbungkus dalam kantong plastik berwarna gelap.  Wajahnya terasa dingin saat rintik-rintik hujan menjatuhi permukaan kantong plastik. Namun ia belum mati. Ia masih bisa bernapas dengan normal, meski tak merasakan udara keluar dari jalan napasnya. Sekujur tubuhnya hanya merasakan dingin. Dingin sekali.

Pagi harinya, hujan telah reda, namun masih menyisakan dingin di sekujur tubuhnya. Suara deru mesin mendekatinya. Beberapa tubuh berlompatan keluar, menuju tempat di mana tubuhnya tergeletak. Dengan cepat tangan-tangan meraih tubuhnya dan sampah-sampah yang lain. Tubuhnya yang terbungkus kantong plastik gelap itu dilempar untuk kedua kalinya. Kali ini ke dalam bak truk pengangkut sampah. Bertindihan dengan sampah-sampah lain yang berbau busuk.

Deru mesin mengeras. Truk yang  melaju menggulingkan tubuhnya, menelentangkan, menengkurapkan, menjungkir-balikkan, membentur-benturkannya dengan sampah-sampah lain, menghantam pinggiran bak truk. Namun ia tak merasakan sakit. Ia hanya mencium bau busuk. Amat busuk. Perlahan ia mencium sekujur tubuhnya pun  mengeluarkan bau busuk. Seolah ia sampah itu sendiri.

Setelah terombang-ambing dalam beberapa waktu, truk berhenti. Tubuhnya bersama sampah-sampah seperjalanan meluncur oleh bak truk yang terangkat.  Sebuah liang besar menganga menerimanya. Jatuh di antara tumpukan sampah-sampah lain yang lebih dulu tiba. Berbaur dan   menguarkan bau busuk bersama-sama.

“Kau hanya akan sebentar di sini.” Suara itu membawa bau busuk pula, dan hanya seperti desiran angin. Ia tak yakin, apakah sampah-sampah itu yang mengeluarkan suara, karena di sini tak ada siapa-siapa selain dirinya dan sampah-sampah itu.

Tubuhnya miring, sebelah matanya bisa melihat ketinggian langit yang mulai diterangi matahari, dan sebelah matanya yang lain bisa melirik berbagai sampah; botol kaca, botol plastik, pembalut wanita, popok bayi sekali pakai yang penuh taik, kaleng-kaleng bekas berbagai ukuran, kardus, sendal, sepatu, sisa-sisa makanan, dan banyak lagi, yang semuanya menciptakan satu bau saja, busuk.

Ia sendiri heran, mengapa ia bisa melihat dengan jelas dan detail sekitarnya dari balik kantong plastik gelap ini.

Aku masih hidup. Aku masih hidup. Sekali lagi, ia masih hidup. Namun, ia tak bisa menggerakkan tubuhnya. Seakan tubuh itu tak menjadi miliknya lagi.

Dalam kantong plastik berbau busuk itu ia menangis. Lirih, lalu tersedu. Dan hal pertama yang ia ingat adalah wajah perempuan itu. Wajah pertama yang ia lihat saat pertama kali membuka mata. Wajah pucat yang dikuasai takut. Sepasang matanya memandang. Tertegun sejenak. Lalu wajah itu mendadak berubah. Dan dengan ranggas kedua tangan itu memasukkan tubuhnya ke dalam kantong plastik gelap. Ia sempat menjerit. 

Namun jeritannya tertahan bersamaan dengan masuknya  buntalan kain yang menyumbat liang mulutnya.  Kantong plastik diikat dengan kuat. Dan akhirnya ia memilih pasrah dalam ketidakberdayaan. Tak berselang lama, sebuah mobil datang. Seseorang dari dalam mobil keluar dan menyambut tubuhnya. Tubuhnya dimasukkan ke dalam mobil. Di bawah gerimis, pada jalanan yang sepi, mobil itu berhenti. Ya. Ia masih mengingatnya.

Lalu apa sebenarnya yang terjadi pada dirinya? Apakah seseorang telah membuangnya? Menganggapnya sampah? Apakah ia sudah mati? Tentu belum. Tentu ia masih hidup. Sebab, ia bisa mengingat semuanya dan bisa mencium bau busuk yang menyengat. Ia kembali menangis. Ia ingin kembali pulang. Ia merindukan wajah perempuan itu. Ia ingin meminta maaf karena mungkin tak bisa membuatnya bahagia.

Ia membayangkan dirinya bangkit, menggerakkan tangan, membuka kantong plastik, merangkak keluar dari tumpukan sampah, memanjat tebing liang yang tak terlalu curam, lalu menuju jalan besar, dan akhirnya pulang  ke rumah di mana ia bisa menemui pemilik wajah perempuan itu.

Tapi sungguh, sekeras apa pun usahanya untuk bergerak, tak satu pun anggota tubuhnya yang mampu digerakkan. Sampai-sampai ia merasa lelah. Kemudian ia jadi sangat mengantuk.

Pagi pertama di lautan sampah itu, ia lalui dengan tidur sambil mendengkur.

Saat terbangun, ia melihat matahari sudah tinggi, bersinar terang menyilaukan. Pohon-pohon melambaikan daun hijau kekuning-kuningan. Ia mendengar pohon-pohon itu berbisik. Ia bertanya, apakah pohon-pohon itu mencium bau busuk dari sampah-sampah yang memenuhi sekitarnya. Dan pohon-pohon itu menjawab, mereka di sini sejak puluhan tahun silam, menyaksikan sampah-sampah ditumpahkan truk-truk pengangkut, bertumpuk-tumpuk untuk kemudian dibakar atau dikubur. Mereka sudah tak mengenali bau lain selain busuk.

Ia kembali heran, mengapa ia bisa berkata-kata pada pohon, dan mengapa pula pohon-pohon itu  bisa bercerita dan menjawab pertanyaannya. Hingga ia sadar, sebelumnya ia juga bisa memandang keluar dari balik kantong plastik gelap yang membungkusnya.

Baru saja ia menyadari hal itu, sayup-sayup, ia mendengar suara gemerisik dari semak di pinggiran lubang besar yang menampungnya, diikuti lompatan lincah memasuki lubang. Didengarnya langkah kaki cepat-cepat bercampur dengus menggeram. Ia sontak terdiam, lantas wajahnya mengukir seulas senyum. Mungkin pemilik wajah perempuan itu yang telah datang menjemput, pikirnya. 

Namun, matanya yang masih bisa melirik, memastikan bukan wajah perempuan itu yang menghampirinya, melainkan wajah lain dengan tatapan lapar disertai lelehan liur yang menetes dari sela-sela gigi taringnya. Sebuah wajah buas. Ia terbelalak.

Dari kejauhan, kembali muncul suara. Suara riuh beberapa orang yang meracau sambil berlompatan memasuki liang sampah. Membawa karung kosong di tangan-tangan mereka. Kehadiran orang-orang yang membawa keriuhan itu, membuat wajah buas itu menggonggong berulang-ulang. 

Harapannya yang sempat patah, tersambung kembali. Membuat jantungnya bagai berdebar. Ia sadar, salah seorang dari orang-orang itu telah mengawasinya karena gonggongan tadi. Mendekat. Semakin dekat. Ia berusaha tersenyum menyambutnya, sampai pekikan keras itu muncul, “Mayat bayi! Mayat bayi!”