Ibu Rumah Tangga
2 bulan lalu · 380 view · 6 menit baca · Buku 46718_24344.jpg

Perjalanan, Romantika, dan Hal-Hal yang Belum Selesai Dituliskan

Membaca kumpulan cerpen Tunggu Aku di Sungai Duku karya Hary B Kori’un membuat saya merasa berada di dunia yang lain. Dari sebelas cerita pendek yang diterbitkan oleh Palagan Press tahun 2012 ini, beberapa cerpen yang sangat membekas dalam ingatan, yakni berjudul “Tunggu Aku di Sungai Duku” dan “Pulang”.

Awalnya saya tidak percaya bahwa prosa ini ditulis oleh seorang laki-laki.

Cerita ini menggunakan teknik penceritaan yang unik, yakni dari tiga sudut pandang: 1) Tokoh Aku sebagai Umi (perempuan yang menanti kekasihnya) ditandai dengan keterangan tempat Sungai Duku, 2) Tokoh Aku sebagai Martin (Pelaut yang juga kekasih Umi) ditandai dengan keterangan tempat Kepulauan Anambas, dan Cape Town, 3) Pelaut berikutnya yang menceritakan kisah Umi dan Martin kepada Alia, kekasihnya ditandai dengan keterangan tempat Pekanbaru.

Alur cerita diawali narasi dari sudut pandang Aku sebagai Umi dengan penanda tempat Sungai Duku, yakni Umi, wanita muda hendak melepas kepergian Martin berlayar mengarungi samudra yang jauh. Di sana mereka mengikrar janji bahwa Martin akan segera pulang dan Umi pun akan setia menanti kepulangan Martin di dermaga Sungai Duku. 

Alur kedua dilanjut dengan surat balasan Martin dengan penanda tempat Kepulauan Anambas di mana Martin memberikan kabar bahwa ia akan segera sampai Laut Cina Selatan kemudian ke Eropa. 

Alur ketiga adalah surat Umi untuk Martin, bermodal kepercayaan, Umi terus menanti Martin setiap hari di dermaga. Ia masih memercayai janji Martin. Alur keempat,, adalah narasi Aku sebagai Umi. Di sana ia bercengkerama dengan petugas dermaga. 

Alur kelima, berisi surat dari Martin yang berisi janji bahwa ia akan meminang Umi menjadi istrinya. Alur keenam, berisi surat Umi untuk Martin yang berisi bahwa meski sudah puluhan tahun ia menunggu sampai rambutnya memutih dan wajahnya penuh keriput, harapan membuatnya tetap ingin hidup dan menanti kepulangan Martin. Lalu tiba-tiba dikejutkan dengan alur terakhir. 

Alur ketujuh, surat pelaut yang lain (bukan Martin) yang mempertanyakan keraguannya cintanya pada kekasihnya Alia.

Selain menggunakan tiga sudut pandang dan teknik penceritaan yang unik, cerpen ini juga menggunakan diksi yang benar-benar puitis. Mirip dengan puisi panjang dengan genre romantik. Pembaca seolah terbawa dan hanyut dalam kepedihan yang dirasakan oleh tokoh-tokohnya. Hal inilah yang menjadikan cerpen tersebut tidak membosankan meski berulang kali dibaca. 

Di akhir cerita, Hary memunculkan kejutan. Ternyata kisah Umi, nenek tua yang setia menunggu kekasihnya di dermaga Sungai Duku, adalah dongeng yang diceritakan oleh seorang pelaut lain (bukan Martin) kepada kekasihnya bernama Alia. Jadi, bisa dikatakan cerita pendek ini merupakan cerita berbingkai.

Judul kumpulan cerpen tersebut Tunggu Aku di Sungai Duku tentu sangat tepat sebab cerita ini bisa mewakili cerita-cerita lainnya. Hary bisa dikatakan cerdas. Pengetahuannya tentang letak geografis ekspedisi perjalanan Martin mengarungi samudra membuat imajinasi pembaca menjadi lebih hidup. 


Barangkali hal tersebut dikarenakan latar belakang pendidikan Hary dari jurusan Sejarah, jadi wajar bila ia sangat memahami alur sejarah ekspedisi terbesar yang pernah dilakukan oleh Vasco De Gama, Marcopollo, Christoper Colombus, dan pelayar lainnya.

Namun, di balik kekuatan struktur dan teknik yang digunakan Hary, ada beberapa hal yang menurut saya mengusik keutuhan cerita, yakni cerita mengenai Umi. Sebagai tokoh rekaan, konon Umi adalah nenek berkebaya yang sangat setia menunggu kekasihnya di dermaga. 

Cerita tersebut berkembang dari mulut ke telinga, yang hingga kini dipercayai oleh tokoh utama (pencerita dalam cerpen) bahwa si nenek tersebut masih senantiasa ada di dermaga menunggu kekasihnya sembari mencelupkan kedua kakinya. 

Bila kita menggunakan nalar dan logika, tentu saja cerita ini sangat tidak logis. Apalagi di era sekarang ini, apakah masih ada wanita yang dengan setia menunggu kekasihnya pulang selama puluhan tahun, sementara mereka tidak terikat dalam tali pernikahan? 

Di akhir cerita pun, Hary memunculkan tokoh pelaut lain yang menanyakan kepada kekasihnya, Alia, bila kepulangannya akan memakan waktu lama, apakah Alia rela menunggunya seperti yang dilakukan nenek bernama Umi?

Hal lain berikutnya, yakni adanya loncatan cerita dari sudut pandang Aku sebagai Umi ke Aku sebagai pelaut (bukan Martin). Tentu saja, loncatan ini sangat mengejutkan saya sebagai pembaca dan menuntut konsentrasi yang tinggi. Sebab bila tidak, pembaca akan dibuat bingung. 

Saya yang memosisikan diri sebagai pembaca merasa kecewa mengapa penulis tiba-tiba memunculkan tokoh lain karena saya sudah telanjur jatuh cinta pada narasi  surat-menyurat antara Umi dan Martin.

Cerita pendek berikutnya yang menyita perhatian berjudul “Pulang”. Hary memang memiliki kemampuan mengemas hal-hal sederhana menjadi cerita yang menarik dan luar biasa. 

Saya menduga barangkali ini adalah kisah nyata yang pernah dialami Hary. Barangkali? Sebab ceritanya begitu mengalir dan mengobrak-abrik emosi pembaca? Di akhir cerita, saya tiba-tiba menitikkan airmata dan seolah merasakan kehilangan sesuatu yang tak pernah saya ketahui.

Cerita ini diawali dari kabar bahwa ayah tokoh Aku masuk rumah sakit. Tokoh Aku mendapat kabar itu dari kakak lelakinya yang berada di kampung halaman. Sementara tokoh Aku sudah tinggal jauh dari kampungnya. 

Baca Juga: Winter is Coming

Semenjak tamat SMA, tokoh Aku merantau untuk kuliah dengan biaya sendiri. Setelah mendapat pekerjaan, memiliki dua anak dan seorang istri, tokoh Aku tidak pernah pulang mengunjungi kedua orang tuanya di kampung meskipun kerinduan terhadap ibunya selalu ia simpan. Sebab ia masih menyimpan dendam masa lalu terhadap ayahnya.

Tokoh Aku merasa dianaktirikan oleh ayahnya ketika ia masih kecil. Ia merasa dikucilkan dibanding saudara-saudara lainnya. Ingatan-ingatan tentang masa kecil itu terus tumbuh sehingga membekas dalam dan menimbulkan kesakitan yang entah. 

Dari kesakitan-kesakitan masa kecil itulah tokoh Aku tumbuh menjadi pribadi yang kuat sehingga ia memutuskan meninggalkan kampung halamannya sebab ia percaya ada sesuatu yang akan bisa ia capai di luar sana.

Di tengah kebimbangan yang menerpanya, sang istri mendesak agar tokoh Aku pulang ke kampung untuk menjenguk ayahnya. Lalu tokoh Aku akhirnya memutuskan pulang. Ia sendirian mengendarai mobil dari Pekanbaru menuju Jambi.

Di sepanjang perjalanan malam yang disertai hujan lebat, tokoh Aku memasuki perbukitan dengan jalan berkelok. Kiri kanan jalan yang tampak hanya pepohonan karet, lalu ada tikungan tajam dan turunan curam. Di saat itulah,  Aku mengalami kegelisahan yang luar biasa. 

Dalam perjalanan pulangnya itu, ingatan tentang masa kecilnya muncul dan membayang-bayangi perasaannya. Ia seolah kembali ke masa lalu. Menjadi anak kecil lagi yang haus kasih sayang seorang ayah. Kenangan itu sungguh mengiris perasaannya. 

Hujan masih tidak mau berhenti. Ia sudah memasuki perkampungan yang sudah banyak rumah-rumah. Ia pun  menepi ke sebuah warung kecil yang jaraknya sekitar 7 km lagi dari rumah ayahnya. Lalu sekitar beberapa menit lagi ia sampai di rumahnya, tiba-tiba tokoh  Aku menerima sms dari kakak lelakinya yang isinya begini:

“Bapak tidak sempat menunggumu untuk pulang. Kami semua sudah merelakannya dan kami berharap kamu merelakannya. Kata Bapak kamu tetap anaknya, tidak seperti yang selalu ada dalam pikirannya sejak kamu lahir karena kecemburuannya pada seorang laki-laki lain yang pernah mencintai ibu kita. Bapak bilang, kamu anak terbaik dan dia bangga dengan apa yang kamu dapatkan selama ini. Relakan dan maafkan Bapak...”

Kesubjektifan Hary sungguh mampu membius pembaca melalui tulisannya. Namun, realitas yang terjadi di luar tidak semata-mata mengurusi emosi semata. Sejarah dan ingatan menjadi medium lain untuk ditemukan kemungkinan pemaknaan lain, selain dari tokoh-tokohnya yang bersifat romantik. 

Dalam beberapa cerita lainnya, selain penantian dan perjalanan, pembaca juga akan menemukan cerita tentang kematian. Yang barangkali, ini menjadi salah satu cara Hary untuk mengingatkan kepada fitrah manusia, bahwa setiap yang hidup pasti akan mati. 


Secara umum dalam karya ini, entah disadari atau tidak, Hary sepertinya mengalami sensibilitas dengan kata “menunggu”. Jika diasumsikan kata ini berkonotasi dengan janji dan kesetiaan. Kesuluruhan tematik cerpen ini lebih mengarah pada romantika tentang kesetiaan.

Tak banyak yang tahu bahwa Hary B Koriun  pernah merantau dan besar di Jambi, tepatnya di Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi. Meski ia sekarang sudah bermukim di Riau, saya rasa Jambi merupakan bagian yang penting bagi psikologis dan ingatan-ingatan tentang masa lalunya yang terjaga. 

Sebagai seseorang yang sedang belajar menulis di Jambi, saya takjub dengan cerpen berjudul “Pulang” ini. Kiranya tidak berlebihan jika fokus utama keseluruhan cerpen dalam buku Tunggu Aku di Sungai Duku memang memfokuskan kepada narasi “perjalanan”. 

Hal ini menunjukkan adanya pengaruh yang kuat tentang latar belakang penulis dalam memaknai perjalanan-perjalanan hidupnya yang masih terus berlangsung dan belum selesai. 

Dalam keterkaitannya dengan momen Kartini yang tiba pada 21 April, ada hal yang menarik tentang perempuan yang dikisahkan dalam buku ini. Saya melihat bahwa “perempuan” digambarkan sebagai objek yang pasif. Meskipun dalam kepasifannya mereka adalah pribadi yang konsisten, setia, dan tegar.

Artikel Terkait