Cerita perjalananku ke objek wisata Rammang-Rammang, Maros, Sulawesi Selatan kemarin sangat seru. Aku ke sana bersama adik-adikku, Arfah, Ammoz, dan Zulfi. Kami berangkat dari Makassar menuju Maros setelah molor sekitar tiga jam dari jadwal semula. Rencananya, kami akan berangkat jam 6 pagi, namun jam 9 pagi kami baru siap semua. 

Saat itu kegiatan di pagi hari penuh kesibukan. Kesibukannya mulai dari antri kamar mandi, mencari kue basah buat bekal, sarapan, menarik uang di anjungan tunai mandiri (ATM), sampai membeli kartu e-toll di salah satu jaringan toko swalayan karena adik laki-lakiku, Arfah yang menyopiri mobil akan melewati jalan tol.

Perjalanan kami tempuh sekitar sejam dari; kelurahan Buakana, melewati jalur padat kendaraan Jl. A. Pangeran Pettarani, masuk jalan tol, melalui bundaran, air mancur bandara baru atau bandara Hasanuddin. Kemudian, melewati bandara lama, Batangase, Macoppa, Maros kota, dan masuk ke kompleks semen Bosowa. 

Di jalanan areal Bosowa ini ada jalan yang berdebu, dan banyak juga jalan yang tergenang air. Tampak pembangunan stasiun dan jalur kereta api. Setelah melalui jalan ini, kami tiba di Dermaga 1.

Sebenarnya ada beberapa Dermaga, cuma Dermaga 1 yang paling dekat dari jalan poros dan perjalanan ke areal Rammang-Rammang lebih lama karena banyak tempat-tempat menarik yang akan kami lewati.

Dermaga ini sangat ramai, banyak warung makan yang menyediakan berbagai menu makanan. Ada gapura yang bertuliskan; Kampung Karst Rammang-Rammang, Salenrang, Kab Maros. Ada ruang-ruang yang merupakan ruang informasi, ruang penyewaan topi yang tertulis 5k, ruang salat atau musallah. Ada tempat mencuci tangan untuk mematuhi protokol Covid-19 dan sebagainya. 

Tadi pagi sebelum kesini, kami sudah buat janji dengan teman Arfah yang bernama Darwis. Ia warga kampung Berua yang akan menjemput dengan perahu dan diantar melihat kampungnya. Namun, ternyata, Darwis punya kesibukan lain. Kami pun menggunakan jasa perahu yang dinakhodai oleh pak Ridwan. 

Pak Ridwan ditemani anak laki-lakinya yang kutakir baru bersekolah di bangku sekolah tingkat SMP namun, anak itu tampak cekatan membantu ayahnya.

Beberapa tukang perahu duduk dan bersenda gurau di pinggir dermaga. Namun, aku hanya melihat perahu pak Ridwan yang tertambat di sana. Sebelum naik ke perahunya yang terlihat imut dengan kursi-kursi kecilnya dan warna-warni catnya. Aku membaca baliho tentang harga perahu yang tertera dengan jelas. Yaitu; tarif perahu pulang pergi (boat fare); 1-4 orang, 200k. 5-7 orang, 250k. 8-10 orang, 300k. Liputan prewedding, 350k. 

Lalu, ada juga tulisan, kata-kata dalam bahasa daerah setempat yang mengatakan; Rampea Golla, na kurampeki kaluku. Artinya; ceritakan diriku semanis gula, akan kuingat dirimu segurih kelapa. Dalam bahasa Inggrisnya dituliskan, say for me as sweet as sugar, i will be know yourself as tasteful of coconut. 

Siaran Langsung

Aku senang sekali melakukan perjalanan kali ini. Baru tiba di dermaga saja, pemandangannya sangat indah. No wonder, aku tidak berhenti mengambil dokumentasi di sekitar dermaga yang terlihat sangat tenang, dan air yang tak beriak tanda dalamnya danau. Terlihat batu-batu karang yang besar, dan pohon-pohon nipah yang sangat besar.

Ketika perahu membawa kami membelah danau dengan bunyi khasnya yang membahana di kawasan danau, aku di atas petahu melakukan siaran langsung. Baik di Instagram (IG) dan Facebook (FB). 

Aku sempat membaca komentar orang-orang yang melihat siaran langsungku. Ada yang berkomentar bilang; kemana itu? ingin ke Rammang-Rammang! Bawa pelampung. Sampai pada komentar, awas ada buaya.

Komentar tentang buaya ini sempat membuatku takut. Aku kemudian membaca doa dalam hati, semoga Tuhan memberi keselamatan dan memberikan kebaikan pada perjalanan wisata kali ini. Selesai berdoa, aku menjadi tenang dan ceria kembali. 

Tadi  saja,  sebelum berangkat naik  perahu. kami sudah bertemu dengan rombongan yang melakukan pengambilan gambar untuk mendapatkan momen sunrise di jam 6 pagi yang pulang dengan wajah bahagia yang artinya mereka puas dan aman-aman saja. 

Apalagi, ketika melewati kafe di pinggir danau dimana ada beberapa orang yang sedang berada di sana asyik mengambil gambar di sekitarnya. 

Kami juga melewati terowongan, rumah penduduk di pinggir danau dimana si pemilik rumah seorang ibu sedang asyik-asyiknya mencuci panci di danau. Sedangkan, tampak seorang bapak sibuk memalu kayu. Hidup yang alami sekali.

Setelah menempuh perjalanan sekitar kurang lebih tiga puluh (30) menit, kami akhirnya tiba di kampung Berua. Kampung Berua menurut penjelasan di sebuah papan reklame mengatakan bahwa kampung Berua pada ribuan tahun yang lalu merupakan danau besar di sebuah perbukitan karts. 

Kini, bukti-buktinya terlihat dari retakan dinding-dinding bukit karts yang menjulang dan cekungan batu di sisi bukit. Kemudian cekungan-cekungan tadi membentuk aliran air di perkampungan Berua.

Berua berarti baru, artinya kampung Berua adalah kampung yang baru yang secara adminisratif merupakan kampung termuda di dusun Rammang-Rammang. Sebuah kampung dengan segala kearifan dan budaya lokal yang tetap terjaga. Kampung Berua adalah ikon geowisata kampung karts Rammang-Rammang, Salenrang, Maros, Sulawesi Selatan. 

Ketika masuk ke kampung ini, kami membayar registrasi dan restribusi kawasan ini sebesar 5k per orang. Dana ini dikelola oleh warga setempat. 

Pak Ridwan si tukang perahu juga mau  menjadi guide kami. Ia memandu kami menjelaskan tentang pengelolaan pariwisata di kampung ini. Katanya, membuat kampung ini sebagai objek pariwisata sebagai bentuk perlawanan pada pemerintah yang terus mengeksploirasi gunung karts pada pengusaha. Diharapkan dengan adanya pariwisata ini, "karts" ini tetap terjaga.

Aku jadi ingat pada sekolah alam Salulebo, Mamuju Tengah. Salah satu cara mereka melakukan perlawanan pada pemerintah yang ingin mengambil alih pengelolaan alam di sana dengan cara mempertahankan sekolah alamnya. 

Kembali ke kampung Berua, kami semua tak henti-hentinya memuji ciptaan Tuhan yang Maha Esa atas ciptaan alamnya yang sangat indah dan mempesona di sini. Gunung-gunung karts ditambah aliran sungai, danau, areal persawahan, perkampungan penduduk yang damai yang penduduknya hanya berjumlah sekitar 18 kepala keluarga (KK).

Di setiap rumah panggung, aku melihat perahu penduduk yang tertambat disana. Akses mereka untuk berhubungan dengan dunia luar memang melalui jalur air. Mereka naik perahu ketika keluar dari kampung menuju pasar, sekolah, dan lain sebagainya.

Kampung ini juga dingin. Kata pak Ridwan, daerah ini selalu hujan. Rasanya kami menemukan kedamaian di sini. Sampai-sampai Arfah berkata; jika di sini, kita melupakan utang.

Selain melupakan utang, di sini, kita juga bisa menikmati membaca buku tanpa gangguan hp android karena jaringan yang tidak sekencang di kota. Ah, kampung Berua Rammang-Rammang memang ruang yang paling damai. Ayo, ke sini!