Mungkin kamu akan mengernyitkan dahi kalau ada orang yang membicarakan bitcoin sekarang. Banyak yang bilang koin fiksi, ponzi game, maupun penipuan, apalagi setelah penurunan harganya dari sekitar $20.000an ke $3.000-an per bitcoin pada 2018 kemarin.

Perkenalan pertama saya dengan bitcoin sebenarnya sudah cukup lama. Andaikan saya beli pada waktu itu, mungkin saya sudah cukup banyak. Tapi saya merupakan orang yang skeptis, jadi dulu saya tidak membeli bitcoin karena belum cukup paham, saat itu sekitar tahun 2014 harganya sekitar $200-an.

Pada waktu itu, saya sedang belajar tentang website dan mau membeli domain dari luar negeri dan banyak orang memakai liberty reserve dan paypal, dan beberapa memakai bitcoin, tapi saya akhirnya memakai liberty reserve karena satuannya dalam dolar saat itu dan kebetulan banyak yang jual saldonya.

Pertemuan saya dengan bitcoin yang kedua sekitar tahun 2017. Saat itu banyak orang membicarakan bitcoin di internet karena kenaikannya yang sangat drastis sampai $20.000.

Kakak saya waktu itu menanyakan ke saya, punya bitcoin nggak? Karena kakak saya tahu saya merupakan seorang geeks yang biasa berjam-jam berselancar di internet membaca berbagai informasi yang menurut kakak saya tidak penting.

Ingatan saya lalu kembali saat 2014 dan menyesal karena tidak membeli saat harganya $200. Saat itu pengetahuan saya masih sangat dangkal tentang bitcoin. Saya hanya berpikir mirip saldo liberty reserve atau e-gold yang saat 2000-an sempat booming.

Lalu setelah beberapa bulan saya lupakan tentang bitcoin, ada beberapa youtubers gaming yang mencaci maki bitcoin karena harganya yang turun drastis. Saya cuma berpikir, untung saja saya nggak beli waktu harga masih sekitar $20.000-an dan menganggap bitcoin merupakan ponzi game dan bubble yang telah meletus.

Pada saat bersamaan, saya waktu itu sedang mempelajari tentang saham dan keuangan makro dunia. Kebetulan background saya adalah sarjana ekonomi, tapi saat kuliah saya tidak terlalu mendengarkan kuliah dari dosen. Tetapi saat 2018 pekerjaan saya yang santai membuat saya mulai mempelajari tentang keuangan dan mulai belajar saham yang ternyata juga menuntut kita memahami ekonomi global.

Saat mempelajari keuangan global tersebut, akhirnya saya tidak sengaja menemukan video ini di YouTube yang sangat menarik, yaitu tentang sejarah uang yang disampaikan oleh Mike Maloney berjudul Money vs Currency. Saya akhirnya menemukan fakta-fakta menarik tentang uang yang, walaupun saya adalah sarjana ekonomi berumur 28 tahunan, ternyata pemahaman tentang uang saya sangat terbatas.

Fakta pertama, yaitu ternyata uang sudah tidak dijamin lagi oleh emas.

Iya, dulu waktu SMP atau SMA kalau tidak salah, pernah ada pelajaran yang menyatakan bahwa uang kertas bisa bernilai karena dijamin oleh Bank Indonesia dengan emas yang juamlahnya terbatas. Pengetahuan tersebut melekat terus di otak saya sampai saya melihat video Mike Maloney tersebut. Ternyata uang sudah tidak dijamin dengan emas sejak diakhirinya perjanjian Bretton Woods oleh Presiden Nixon pada tahun 1972.

Fakta kedua, yaitu ternyata bank tidak meminjamkan uang sesuai jumlah tabungan orang lain yang ada di bank tersebut, tapi ternyata menggunakan fractional reserve banking system yang ternyata akhir-akhir ini saya tahu dari sumber lain juga ternyata pemodelan kurang tepat tentang bagaimana bank "menciptakan" uang.

Mekanisme penciptaan uang oleh bank umum di indonesia:

Misalnya, semua bank umum hanya mempertimbangkan pemenuhan kewajiban atas ketentuan GWM yang telah ditetapkan, yaitu 5%. Dengan demikian, Bank A harus menyisakan untuk cadangan sebesar 5% x Rp1 juta atau sebesar Rp50 ribu sehingga Bank A masih dapat memberikan kredit sebesar Rp950.000,00.

Proses tersebut tidak berhenti sampai di sini. Misalnya, penerima kredit tersebut menyimpan dana tersebut di Bank B, maka proses yang terjadi adalah seperti pada Bank A. Selanjutnya, Bank B menahan dana sebesar 5% dari Rp950.000,00 atau sebesar Rp47.500,00 dan menyalurkan sisanya sebesar Rp902.500,00 ke pihak
lain dalam bentuk kredit.

Demikian pula, seandainya pihak lain tersebut menyimpan dana tersebut ke Bank C, maka proses yang terjadi adalah seperti pada Bank A dan Bank B. Dalam hal ini, Bank C menahan dana sebesar 5% dari Rp902.500,00 atau sebesar Rp45.125,00 dan menyalurkan sisanya sebesar Rp857.375,00 ke pihak lain dalam bentuk kredit. Proses ini berlangsung seterusnya sampai waktu yang tidak terhingga.

Apabila diasumsikan bahwa ketentuan GWM sebesar 5% tersebut berlangsung
terus dan dalam proses tersebut tidak terdapat kebocoran, baik berupa biaya transaksi/administrasi maupun penyimpangan perilaku bank umum dan masyarakat dalam mengelola dananya, maka potensi penyaluran kredit dapat dihitung secara sederhana, yaitu: 1 juta + [(1 - 5%) x 1 juta] + [(1 -5%)2 x 1 juta] + [(1 - 5%)3 x 1 juta] + … = 1 juta + 950.000 + 902.500 + 857.375 + ….. = 20 juta. Penjumlahan angka tersebut dapat dituliskan dalam rumus sederhana, yaitu: 1/(5%) x 1 juta = 20 juta.

Uraian di atas menunjukkan bahwa dalam proses penciptaan uang beredar penambahan uang primer sebesar Rp1 juta dapat mengakibatkan pertambahan uang beredar menjadi sekitar Rp20 juta, yaitu dalam bentuk kredit. Hal ini terjadi karena terdapat faktor yang “melipatgandakan” uang primer tersebut, yaitu sekitar 20 kali.

Besarnya pelipatgandaan yang terjadi tentunya tergantung pada perilaku otoritas moneter, bank umum, dan masyarakat. Berdasarkan contoh di atas, misalnya otoritas moneter mengubah rasio GWM dari 5% menjadi 1%, maka uang beredar akan dapat bertambah menjadi 1/(1%) x 1 juta, atau Rp100 juta. (Suseno Solikin, 2002: 24)

Sementara teori lain dari Prof Richard Werner mengatakan bahwa bank menciptakan uang setiap ada orang yang meminjam uang, dan baru meminjam dengan bank lain ataupun bank central pada waktu kekurangan uang, yang berarti jumlah uang beredar tergantung dari kepercayaan diri bank saat meminjamkan uang antar bank. Karena sebab inilah maka terjadi credit crunch saat krisis global 2008 yang memaksa The Fed melakukan Quantitative Easing atau menciptakan uang "out of nothing" agar bank mau meminjamkan uang ke antar bank lagi.

Fakta ketiga, ternyata tidak ada uang fiat yang berumur panjang.

Di dalam video Mike Maloney, diperlihatkan bagaimana weimar republic mengalami hyperinflation dan kekacauan ekonomi karena mencetak uang dengan tanpa batas.

Dan fakta fakta lain yang sangat banyak antara lain bagaimana kekaisaran Romawi runtuh karena mencampurkan emas dengan bahan lain untuk diberikan ke prajurit untuk berperang yang menyebabkan ketidakpercayaan masyarakat karena uang makin tidak bernilai.

Tetapi setelah melihat video dari Mike Maloney tersebut, saya menyimpulkan bahwa aset terbaik untuk menyimpan uang adalah emas dan perak. Masalahnya, pada tahun 1930-an, Amerika pernah menyatakan ilegal bagi warga negaranya untuk memiliki emas, yang berarti kelemahan emas terbesar adalah pemerintah masih bisa menyita emas kita sewaktu-waktu atau tidak censorship resistant yang merupakan salah satu kelebihan bitcoin dibandingkan emas.

Lalu saya juga melihat beberapa video dari Max Kaiser dengan acaranya di YouTube yang sering membahas ekonomi di dunia secara jujur yang ternyata banyak penipuan dilakukan oleh bank-bank besar dunia.

Misal bagaimana HSBC bekerja sama dengan kartel Mexico dalam mencuci uang dan hanya dihukum sedikit denda oleh otoritas Amerika, atau bagaimana The Fed memberikan bantuan $700 Billion saat terjadi krisis ekonomi 2008 kepada bank-bank besar Amerika padahal mereka sendiri yang menyebabkan krisis tersebut.

Bahkan praktik naked short sell yang dilakukan JP Morgan untuk mengendalikan harga emas agar tidak naik, dan bagaimana banyak perusahaan Amerika meminjam uang di bank dengan bunga yang sangat rendah untuk share buyback menyebabkan jurang pemisah antara si kaya dan si miskin makin lebar.

Dengan bitcoin, kekuatan keuangan seseorang tidak akan terlalu kuat karena decentralized system berbeda dengan sekarang di mana semua masyarakat di dunia sangat tergantung kepada dolar karena kebijakan petrodollar sejak tahun 1970-an. Sehingga ekonomi suatu negara sangat tergantung oleh kebijakan The Fed dan Amerika yang terbukti berkali-kali tidak dapat dipercaya.

Mulai dari diakhirinya perjanjian Bretton Woods, quantitaive easing, maupun kebijakan interst rate yang hampir 0% atau bisa dikatakan banyak perusahaan bisa meminjam tanpa bunga, bahkan dengan semena-mena meng-embargo negara lain seperti Venezuela dan Iran.

Seperti kita ketahui, uang merupakan konsensus paling banyak ditoleransi oleh orang di dunia. Banyak manusia berbeda agama negara suku sering bergesekan, tapi memiliki toleransi yang luar biasa dalam masalah uang. 

Uang juga merupakan alat kita untuk mengubah tenaga dan waktu kita untuk dipergunakan di masa depan. Di mana, sebelum terciptanya uang, manusia purba tidak memiliki kemewahan tersebut. 

Tetapi manusia telah memberikan otoritas yang terlalu besar kepada bank central dalam mengendalikan uang sehingga apabila terjadi gangguan dalam sistem tersebut akan timbul kekacauan yang luar biasa, bahkan nilai waktu dan tenaga kita yang telah kita konversikan ke dalam bentuk uang tersebut bisa tiba-tiba hilang akibat kesalahan bank central.

Misal, saat krisis global 2008 atau kalau di Indonesia saat kebijakan cenering maupun krisis ekonomi 1998. Bahkan kita tidak pernah tahu, misal tiba-tiba Amerika meng-embargo Indonesia seperti di Venezuela atau Iran yang bahkan akhirnya banyak warganya menggunakan bitcoin untuk bertransaksi antarnegara karena pemerintah tidak bisa meng-embargo bitcoin.

Maka akhirnya saya putuskan untuk membeli beberapa bitcoin, emas, perak karena saya tidak mau tiba-tiba kemampuan finansial saya berkurang drastis hanya karena kerakusan oligarki perbankan dan bank central yang sudah menyebabkan banyak orang tidak sadar bahwa daya belinya tiap tahun berkurang akibat inflasi karena banyak central bank yang mengikuti aliran Keynesian yang menurut saya kata-kata yang paling menggangu pikiran saya adalah:

The best way to destroy the capitalist system is to debauch the currency. By a continuing process of inflation, governments can confiscate, secretly and unobserved, an important part of the wealth of their citizens.