Sosial Relations
5 bulan lalu · 215 view · 4 min baca · Lingkungan 97923_56331.jpg

Perjalanan Hidup Akasia

Akasia, begitulah kami memanggilnya. Ia bagaikan anak kesayangan dari suatu perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI).

Dari biji, akasia dilahirkan, disemaikan dengan penuh kasih sayang.

Ketika masih kecil, tubuhnya kami jaga dalam naungan agar tidak terkena sinar matahari secara langsung. Setiap pagi dan sore hari, kami menyirami badannya agar pertumbuhannya baik dan bisa hidup dengan prima sampai masa panen tiba.

Akasia kami sudah besar. Kini ia siap untuk hidup mandiri di lapangan.

Mobil-mobil telah tiba di areal pembibitan. Didamping bapak-bapak berbaju kuning, akasia itu kini siap diantar menuju lapangan. Dengan kotak bewarna hitam berukuran persegi panjang, akasia disusun di dalam mobil.

Akasia kemudian diangkut menuju kapal. Ia dikirim dengan menempuh perjalanan air yang jauh, yaitu dari Jambi menuju Palembang. 

Akasia-akasia ini kami jaga di dalam perjalanan agar tidak mati dan layu. Di siang hari, kami beri naungan. Di pagi dan sore hari, badannya kami sirami agar tetap segar dan prima.

Satu hari satu malam memakan waktu di perjalanan, akhirnya akasia yang kami cintai ini pun telah tiba di Dermaga Jeti. Kami menyambutnya dengan hati yang senang.


Ribuan akasia kami telah tiba dalam keadaan segar dan prima. Kami menggendongnya satu per satu. Kami letakkan di rak-rak mobil yang telah tersusun rapi, lalu kami antar menuju areal tanam distrik Sungai Jelutung.

Di lapangan, telah ada teman yang bersedia meluangkan waktu dan kasih sayangnya untuk akasia tercinta ini. Ia menyambut ribuan akasia ini di arealnya untuk ia tanam, untuk ia besarkan, dan ia rawat dengan penuh kasih sayang. Pak Beye, demikian saya memanggilnya dengan sapaan akrab.

Pak Beye adalah seorang karyawan yang bertanggung jawab sebagai pengawas plantation. Pada saat bibit akasia-akasia ini tiba, ia memfasilitasi agar mereka datang dengan selamat dan sehat. 

Pak Beye sering pulang kemalaman. Jika musim tanam telah tiba, tidak peduli hujan, panas, badai, ia tetap tegar dan sabar menunggu dan memastikan akasia-akasia tercinta ini tiba di rumah barunya.

Pak Beye tersenyum bahagia setelah memastikan 20.000 bibit akasia telah tiba dengan selamat di rumah barunya. Hal yang kemudian dilakukan Pak Beye di hari berikutnya adalah menanam akasia-akasia tercinta ini di rumah barunya. 

Keesokan harinya, Pak Beye tiba dengan membawa 8 orang personil tenaga tanam. Ia mengarahkan tenaga tanam untuk menanam dengan hati-hati.

Akasia disusun dan diletakkan di samping lubang tanam yang telah ada, lalu ditanam dengan penuh rasa kasih dan sayang.

Setelah ditanam, akasia lalu diberi pupuk untuk mempercepat pertumbuhan. Satu demi satu diletakkan pada tempat hidupnya yang baru. Harapan, akasia ini dapat tumbuh dan besar secara baik dan prima.

Pak Beye menyampaikan, "Tanggung jawab saya menjaga akasia-akasia ini sampai satu tahun."

Baca Juga: Pengantin Kertas

Setelah ditanam, akasia-akasia itu masih merupakan tanggung jawab Pak Beye. Ia bertanggung jawab untuk menjaga populasi tanaman, menjaga pertumbuhan akasia bebas dari ganguan hama maupun gulma. Hal ini sesuai dengan target yang telah diarahkan oleh management perusahaan.

Saya bertemu Pak Beye pada bulan Febuari tahun 2018 dan kini telah memasuki bulan Februari tahun 2019. Itu berarti bahwa akasia yang ditanam dan dijaga oleh Pak Beye telah selesai menjadi tanggung jawabnya.

Akasia yang ia tanam dan ia besarkan kini telah tumbuh kokoh, tak goyah diterpa hembusan angin kencang. Pak Beye tersenyum bahagia, akasia yang ia jaga itu bisa hidup dengan sehat dan kuat.

Lalu setelah berumur satu tahun, tanggung jawab kelangsungan hidup akasia ini menjadi tanggung jawab Mas Agus dkk. Agus merupakan koordinator seksi Forest Rangers atau penyelamat hutan. Agus dan personilnya bertugas untuk menjaga akasia agar terbebas dari hama dan penyakit yang mengganggu.

Agus dan personil setiap harinya melakukan pengecekan pada areal tanaman akasia. Hal ini iklas dilakukan dengan harapan tanaman yang mereka jaga bebas dari hama dan penyakit tanaman. Tanggung jawab ini berat karena harus menjaga tanaman akasia sampai berusia 5 tahun.

Akasia bisa mati oleh hama dan penyakit. Akasia juga bisa mati oleh api yang datang membakar. 

Untuk menjaga akasia yang kami cintai ini terbebas dari peristiwa kebakaran, ada seksi yang bernama Forest Protection atau pelindung hutan yang diketua oleh Pak Dedi. Ia dan personil wajib melindungi keamanan akasia dari bencana kebakaran. Hal ini dilakukan dengan cara pencegahan dan penanganan bencana kebakaran.

Pencegahan secara persuasif juga penting dilakukan, agar tidak terjadi gangguan yang mengakibatkan terjadinya kebakaran. Dan ini menjadi tanggung jawab Areal Protection dan Community Development untuk menjaga hubungan baik dengan masyarakat agar terhindar dari konflik sosial, yang salah satu dampaknya terjadi kebakaran hutan dan lahan.

Akasia-akasia tercinta ini kami jaga degan sepenuh hati agar tumbuh besar, bebas dari hama dan penyakit, serta tidak terjadi kebakaran. 


Setelah 5 tahun lamanya, akasia-akasia yang kami cintai ini telah tumbuh besar dan siap dilakukan pemanenan. Dalam hati, sangat senang akasia yang kami besarkan kini sudah bisa dipanen.

Proses panen dilakukan secara baik dan hati-hati agar kualitas yang diharapkan tetap terjaga. Hal ini menjadi tanggung jawab Pak Roy selaku pengawas harvesting di areal ini. Ia harus memastikan kayu-kayu akasia yang dipotong ini memenuhi standar, baik dari diameter tanaman, panjang tanaman, dll.

Tanaman akasia yang telah dipanen dikumpulkan menjadi satu di tempat yang bernama TPK (Tempat Pengumpulan Kayu). Lalu disusun di dalam mobil loging. 

Setelah kayu akasia ditumpuk secara rapi, mobil loging menuju pabrik pengolahan yang bernama PT OKI Pulp & Paper Mills. Kami senang karena akasia yang kami jaga dengan baik kini bisa menjadi bahan baku berupa bubur kertas.

Bubur kertas yang dihasilkan oleh PT OKI Pulp & Paper Mills dapat dirasakan manfaatnya, yaitu untuk diolah menjadi buku tulis, tisu, dll.

Wahai, akasia, semoga keberlangsungan hidupmu tetap menjadi manfaat bagi kami yang menjagamu, dan menjadi manfaat bagi semua masyarakat Indonesia dan dunia. Terima kasih, akasia.

Artikel Terkait