Kita tentu masih ingat peristiwa yang terjadi pada tanggal 18 Desember 2018 lalu di mana permukaan Jalan Raya Gubeng di Surabaya, Jawa Timur mengalami ambles. Lubang sebesar ukuran kolam renang olimpiade terbentuk setelah alat berat (crane) yang digunakan untuk membuat areal parkir bawah tanah sebuah rumah sakit swasta jatuh. Fenomena ini dalam geologi disebut sinkhole, sebuah istilah yang diperkenalkan pertamanya kalinya oleh R. W. Fairbridge dalam bukunya, The Encyclopedia of Geomorphology pada tahun 1968 (Sinkhole Monitoring and Early Warning: An Experimental and Successful GB-InSAR Application - https://www.sciencedirect.com).

Fenomena yang sama terjadi di lahan pertanian Gunung Kidul yang kerap mengalami fenomena sinkhole. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul, sejak 2017 sudah terbentuk 32 sinkhole yang tersebar di Kecamatan Semanu, Rongkop, Ponjong, Girisubo, Purwosari, Tanjungsari, dan Paliyan. Semua sinkhole tercatat terbentuk di lahan pertanian.

Sinkhole biasanya terjadi di wilayah medan karst. Ini adalah wilayah di mana jenis batuan di bawah permukaan tanah secara alami dapat larut oleh air tanah yang mengalir melaluinya. Batuan yang larut meliputi lapisan garam dan kubah, gipsum, dan batu kapur serta batuan karbonat lainnya. Florida, misalnya, adalah daerah yang sebagian besar didasari oleh batu kapur dan sangat rentan terhadap lubang runtuhan. Ketika air hujan turun melalui tanah, batuan jenis ini mulai larut. Ini menciptakan ruang dan gua bawah tanah (https://www.usgs.gov).

Faktor eksternal berupa tekanan di atas permukaan tanah dan faktor internal berupa rongga yang terbentuk di dalam tanah oleh karena aliran air yang melarutkan sejumlah batuan mampu menciptakan sebuah lubang bernama sinkhole.

Disadari atau tidak, perjalanan kehidupan manusia kerap mendapati sejumlah lubang yang tiba-tiba mengangga dan membuat perhatian kita teralih. Lubang-lubang yang terjadi dalam kehidupan lebih banyak terjadi karena faktor eksternal yaitu sejumlah peristiwa yang menimbulkan kegentingan dan keguncangan.

Apa sajakah peristiwa-peristiwa yang dapat melubangi kehidupan kita?

Peristiwa traumatik

Peristiwa traumatik seperti kecelakaan yang menyebabkan seseorang mengalami sejumlah kegagalan fungsi tubuh dapat menciptakan lubang yang mengubah kesadaran. Seseorang menjadi murung dan terus menerus hidup dalam penyesalan serta menyalahkan diri sendiri atau orang lain. Peristiwa traumatik lainnya berupa seseorang yang selamat dari sebuah kecelakaan pesawat di sebuah hutan dapat menciptakan sebuah lubang. Seseorang mungkin melihat bagaimana detik-detik pesawat jatuh, teriakan dan lolongan orang-orang yang melihat maut, melihat sejumlah tubuh terbakar dan terlempar sementara dirinya selamat sendirian di sebuah hutan. Sebuah lubang membekas dalam kesadarannya selama bertahun-tahun.

Penyakit berbahaya

Ketika seseorang divonis mengalami sakit penyakit berbahaya dengan stadium akhir dimana batas kehidupannya dapat diprediksikan tentu akan menciptakan sebuah lubang mengangga yang mempengaruhi kesadaran dan cara dirinya memandang kehidupan yang dijalaninya. Demikian pula seseorang yang memiliki penyakit menahun yang tidak kunjung sembuh dan mengganggu aktivitas kerja dan menghambat aktivitas sosialnya dengan sesama dapat menciptakan lubang yang mempengaruhi gairah kehidupan dan menciptakan ketidakseimbangan emosi.

Kebangkrutan

Ketika krisis ekonomi melanda sebuah negara dan kota (ingat malaise atau great depression di Amerika tahun 1929 atau krisis ekonomi Indonesia 1998) menciptakan sejumlah masalah mulai dari orang-orang tertentu kehilangan pekerjaan akibat bangkrutnya sebuah perusahaan. Para pemilik perusahaan yang bangkrut dan tidak bisa bangkit kembali dari kebangkrutannya dan para karyawan yang di PHK masuk dalam sangkar persoalan yang sama yang melubangi kehidupan yang mereka jalani.

Kematian

Kematian tiba-tiba orang yang kita kasihi – entah karena sakit atau sebuah kecelakaan serta peristiwa kejahatan – dapat  menciptakan lubang yang mewujud dalam sejumlah bentuk instabilitas dalam jiwa berupa rasa bersalah, kesedihan mendalam, penyesalan yang tidak kunjung habis. Pandemi Covid-19 yang merengut keluarga, teman kerja, sahabat, jemaat sebuah komunitas umat beriman tentu menciptakan lubang tersendiri dalam kehidupan seseorang.

Peristiwa-peristiwa yang melubangi kehidupan seseorang ternyata menimbulkan sejumlah respon dan dampak yang tidak sama. Bagi sementara orang mereka membiarkan lubang yang masuk dalam kehidupan mereka semakin dalam dengan memelihara rasa bersalah, hidup dalam penyesalan, tidak berdamai dengan masa lalu, menyalahkan orang lain sehingga hidup dalam kepahitan dan dendam, menyalahkan Tuhan yang telah mengambil hal-hal baik dalam kehidupan mereka.

Namun bagi sementara orang mereka berusaha untuk menutup lubang itu sekalipun tidak sempurna dan akan tetap terus terlihat bekasnya dalam ingatan dan kesadaran. Lubang dalam kehidupan mereka menjadikan mereka mengalami sebuah kesadaran dan penyingkapan eksistensial. Mereka yang mengalami kehilangan anggota tubuh berupaya mengganti dengan benda teknologi buatan untuk menggantikan fungsi tubuh yang rusak dan melanjutkan aktivitas kehidupan. Mereka yang telah kehilangan orang-orang yang dikasihi berusaha berdamai dengan masa lalu dan terus menlanjutkan kehidupan. Mereka yang bangkrut berupaya membangun koneksivitas dan jaringan sehingga mereka dapat bangkit kembali.

Manusia tidak bisa menghindar dari semua peristiwa yang harus terjadi dalam kehidupan ini. Kehidupan bukan hanya berisikan kegembiraan dan kedamaian melainkan kesedihan dan kekacauan. Peristiwa-peristiwa tertentu tidak dapat kita cegah terjadi dalam kehidupan kita seperti sebuah kata pepatah, malang tidak dapat ditolak untung tidak dapat diraih. Atau jika pembaca setuju dengan penulis kenyataan ini setara dengan istilah absurd yang digagas oleh Albert Camus dalam bukunya, The Myth of Sisyphus (1942) sebagai“konfrontasi antara kebutuhan manusia dan ketidakberadaan dunia”.

Sekalipun manusia tidak bisa menghindar dari sejumlah peristiwa yang tidak dikehendakinya dan tidak masuk akal namun manusia bisa mengambil sebuah pilihan dan keputusan di mana mereka akan berakhir dalam perjalanan kehidupan. Mereka bisa memilih dan memutuskan apakah sejumlah peristiwa yang melubangi hidup akan terus meninggalkan bekas yang mendistabilisasi keyakinan diri dan melumpuhkan keberanian untuk mencintai kehidupan atau sebaliknya menjadi sebuah titik perubahan dalam menjalani kehidupan menuju sesuatu yang lebih baik. Mereka bisa memilih untuk menutup lubang dan melanjutkan kehidupan yang seharusnya karena lubang hanyalah sebuah kesementaraan dan patahan dalam kehidupan bukan akhir kehidupan itu sendiri.

Albert Camus boleh saja menyatakan bahwa penjangkaran terhadap nilai-nilai religius untuk menghadapi absurditas kehidupan adalah sebuah “bunuh diri filosofis” yang tidak ada bedanya dengan “bunuh diri secara fisik” (John Foley, Albert Camus: From the Absurd to Revolt, 2008:9), namun fakta-fakta yang tidak begitu saja dapat diabaikan adalah banyak orang mampu mengatasi sejumlah peristiwa yang melubangi hidup melalui sebuah keyakinan religius. Maka penjangkaran terhadap nilai religius untuk mengatasi lubang dalam hidup adalah sebuah pilihan dari sekian banyak pilihan.

Entahkah akan melakukan penjangkaran dalam nilai-nilai religius atau non religius, manusia bisa memilih untuk menutup lubang akibat sejumlah peristiwa dalam kehidupan atau membiarkannya menganga. Jika pilihan untuk menutup lubang menimbulkan kebaikan dan perubahan yang lebih baik, mengapa kita tidak memilih untuk menutup lubang dan melanjutkan kehidupan yang entah kapan berakhir?