2 bulan lalu · 19 view · 4 min baca menit baca · Budaya 97732_69242.jpg

Peristiwa yang Bernilai

Refleksi atas Peristiwa Pengeboman 13 Mei 2018

Saya tidak bisa membayangkan betapa banyak kesedihan yang ditanggung oleh mereka.

Peristiwa itu terjadi begitu saja. Saya berjalan menuju ruang Angelo Roncalli (nama ruang pertemuan di Seminari Tinggi Providentia Dei) untuk mengikuti rekoleksi bulanan bersama dan mendengarkan bahwa telah terjadi pengeboman di Paroki St. 

Maria Tak Bercela Ngagel. Begitu saja, saya mendengarkan informasi ini. Rasa percaya dan tidak percaya pasti ada karena saya tidak melihat dan mendengarnya secara langsung dari berita ataupun informasi yang terpecaya. Intinya, saya masih meragukan peristiwa tersebut meski teman di kanan dan kiri saya berbisik-bisik.

Seusai rekoleksi dan melakukan foto bersama dengan romo, saya dan teman-teman bergegas menuju ruang rekreasi untuk segera menyalakan televisi. TV pun kami nyalakan, nyatanya, hampir seluruh stasiun televisi menayangkan berita tentang pengeboman. Lantas, kami berganti-ganti saluran (channel) untuk memperoleh penayangan yang pas. Pada titik ini saya menyadari bahwa kejadian atau fenomena itu sungguh nyata adanya.

Salah satu informasi yang saya sadari berikutnya adalah pengeboman itu tidak hanya dilakukan di satu tempat saja (Gereja Katolik St. Maria Tak Bercela), melainkan di beberapa Gereja lain, yakni Gereja Kristen Indonesia di Jalan Diponegoro dan Gereja Pantekosta di Jalan Arjuno. 

Dua tempat peribadatan umat Kristen menjadi sasaran pengeboman pada hari yang sama. Lantas, saya bertanya dalam hati maupun berujar kepada teman sebelah saya, “siapa yang tega melakukan hal ini kepada orang-orang yang tidak berdosa?” Keesokan harinya, hal serupa terjadi di Polrestabes Surabaya. Kota Surabaya telah diributkan dengan ledakan bom.


Beberapa stasiun TV acap kali menayangkan satu hasil rekaman dari CCTV (Closed Circuit Television). Penayangan itu dilakukan secara berulang-ulang. Tayangan tersebut menampakkan kejadian pengeboman di Gereja SMTB. Ada seorang yang berusaha untuk menghadang masuk sepeda motor yang dikendarai oleh seseorang yang bercadar hitam dan seketika itu juga bom meledak. 

Lalu, banyak orang yang berlarian keluar gereja untuk menyelamatkan diri. Kemudian, satu orang di depan pintu gereja terjatuh karena efek ledakan yang persis di sebelahnya. Dalam penayangan ini, saya meyakinkan diri bahwa ini adalah aksi jihad. Aksi jihad (melawan kafir dengan mengorbankan apa pun) sangat jelas merupakan agama “Islam”. 

Saya berprasangka demikian dan mengecam perbuatan tersebut serta secara frontal berpikiran buruk terhadap agama Islam. Sisi emosional saya meluap-luap dengan penuh amarah dan kejengkelan. Siapakah gerangan yang tega berbuat demikian buruknya?

Seiring berjalannya waktu, saya mencoba untuk menenangkan diri dan menjernihkan pikiran. Saya berusaha secara terbuka untuk menyimak berita yang ada (dari berbagai sumber: TV, radio maupun internet). 

Kemudian, suatu hal yang mencengangkan adalah pengeboman tersebut dilakukan oleh satu keluarga (suami-istri beserta anak-anak). Bagi saya, hal ini suatu kegilaan. Pengeboman menggunakan modus baru, yakni menyertakan anggota keluarga. “Apa maksud dari semua ini?” pikir saya.

Ketakutan dan kecemasan mungkin melanda warga di kota Surabaya. Saya yakin demikian. Pengeboman bisa terjadi kapan saja tanpa ada seseorang pun yang memberitahu walau hoaks merebak di mana-mana. 

Keselamatan dan keamanan menjadi prioritas. Tak seorang pun mau kehilangan nyawa karena ledakan bom. Kehilangan nyawa sama dengan kematian. Kematian adalah situasi terbatas dalam diri manusia. Tak mengherankan, suasana Surabaya menjadi sepi. Sepi yang punya dua arti, antara berkabung dan gentar.

Saya merasakan dan mengalami ini. Mengendarai sepeda motor, setelah peristiwa pengeboman di berbagai tempat, dengan suasana yang tidak seramai seperti aktivitas sediakala. Semua orang terlihat merasakan dan mengalami ini. Dalam hal ini, suatu kebenaran yang terungkap tatkala bom itu mampu menggelisahkan sebegitu banyak orang. 

Pengalaman, lagi dan lagi, makin membenarkan di saat saya bertanya kepada salah seorang teman yang baru saja saya kenal di kegiatan Badan Perwakilan Mahasiswa Universitas di Kampus Dinoyo. Kebetulan, tempat tinggalnya berada di wilayah  Paroki Santa Maria Tak Bercela. Saya pun langsung bertanya tentang peristiwa 13 Mei itu. 


Katanya, ada rasa takut dan cemas bila peristiwa itu terjadi lagi. Untuk sementara, dia memilih untuk mengikuti Perayaan Ekaristi di tempat lain. Keselamatan diri menjadi acuan tertinggi. Seseorang tidak mau mengambil risiko. Walaupun demikian, saya ingat betul dalam suatu cerita yang mengatakan bahwa Romo Paroki SMTB sendiri tetap mengadakan Perayaan Ekaristi selama berstatus awas maupun siaga. 

Perayaan Ekaristi adalah sumber kekuatan bagi iman umat Katolik. Saya pun berpikir bahwasanya terdapat dua nilai yang sama-sama kuat, yakni badaniah dan rohaniah. Kedua nilai ini saling tarik-menarik dan hadir dalam penilaian seseorang untuk memutuskan suatu tindakan.

Peristiwa pengeboman di beberapa tempat di Surabaya seperti halnya goresan tajam dan mendalam yang membekas di ingatan. Selang beberapa bulan, saya tetap mengingat peristiwa itu yang tampak menyejarah. 

Ada bayangan-bayangan yang menghadirkan prasangka-prasangka buruk, semisal tiba-tiba bom meledak di pinggir jalan, di rumah makan, di sekolah, dan di mana pun. 

Kekhawatiran ini memang cenderung mengarahkan saya kepada nilai yang badaniah yang jauh dari rasa sakit dan mengenai nilai rohaniah masih dipikirkan dan direnungkan. Nilai rohaniah kadang menyakitkan tetapi adapun seseorang maupun banyak orang mengejarnya.

Keterangan

Tulisan ini dibuat dengan maksud untuk mengaplikasikan fenomenologi Max Scheler dalam pengalaman peristiwa pengeboman di tiga gereja (rumah ibadah) dan Polrestabes yang terjadi pada tanggal 13-14 Mei 2018. Inti fenomenologinya adalah mengenai penghayatan atas pengalaman intuitif secara mendalam dan mengadakan refleksi terus-menerus. 

Jika demikian, penulis berusaha menyadari fenomena dengan cara mendeskripsikan pengalaman-pengalaman dan mengaitkannya dengan nilai-nilai yang disadari. Untuk itu, tulisan ini diuraikan berdasarkan pengalaman pribadi penulis.

Dari hal itu, penulis menemukan dan merasakan nilai apa yang perlu didahulukan. Pendek kata, fenomenologi Max Scheler memang melekat dalam tatanan pengalaman hidup sehari-hari dan dari pengalaman itu diperoleh suatu nilai. 


Adalah benar apabila semua pengalaman sudah mengandung secara tersembunyi nilai. Manusia dapat menemukan nilai dengan merasakan atau seturut fenomena yang menyatakan dirinya. Adanya nilai tidak lepas dari pengalaman hidup sehari-hari.

Referensi:

  • Chandra, Xaverius, Bahan Ajar Sejarah Etika, Surabaya, 2016.
  • Untara, Simon, Bahan Ajar Fenomenologi, Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya Semester 6, 2019.

Artikel Terkait