Sastra merupakan karya manusia yang berisi ungkapan pemikiran dan imajinasi manusia yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Sastra juga dapat dituangkan melalui lukisan, seperti pada zaman pra sejarah yang terdapat di dinding gua ataupun tebing. Sandiwara juga merupakan salah satu karya sastra yang menampilkan seni pementasan sebuah cerita yang dimainkan oleh pemeran. Pada kali ini, saya akan membahas mengenai kesusastraan Indonesia di setiap periode.

Alasan saya memilih topik ini karena ingin mengetahui lebih dalam mengenai sastra Indonesia pada setiap periode.

Tujuan saya memilih topik ini adalah untuk mengetahui ciri-ciri, karakteristik, beserta para tokoh sastrawan Indonesia di setiap periode.

Dalam bukunya yang berjudul “Kapankah Kesusastraan Indonesia Lahir” Ajip Rosidi mengungkapkan pendapatnya mengenai kelahiran sastra Indonesia. Ia mengakui bahwa sastra tidak mungkin ada tanpa bahasa. Tetapi, sebelum sebuah bahasa diakui secara resmi, sudah pasti bahasa itu sudah ada sebelumnya dan sudah dipergunakan. Sehingga, Ajip tidak setuju diresmikannya suatu bahasa menjadi patokan lahirnya sebuah sastra. Namun, di lain pihak Ajip berpendapat bahwa kesadaran kebangsaanlah yang seharusnya dijadikan patokan.

Di Indonesia, terdapat 6 periode sastra sampai sekarang. Yaitu Angkatan Balai Pustaka, Angkatan Pujangga Baru, Angkatan 45, Angkatan 50, Angkatan 66, dan Angkatan 77 hingga sekarang.

A. Angkatan Balai Pustaka

Balai berarti bangunan atau tempat yang luas untuk melakukan kegiatan, sedangkan Pustaka berarti buku-buku. Balai Pustaka beralamat di Jalan Dr. Wahidin, Jakarta Pusat. Tugas Balai Pustaka berkaitan dengan karang-mengarang dan mencetak buku bacaan dan buku-buku lain. Bahasa yang dipakai dalam Balai Pustaka adalah bahasa Melayu, karena para pengarang di Balai Pustaka kebanyakan orang Melayu.

Latar belakang berdirinya Balai Pustaka di Indonesia berkaitan erat dengan hubungan kebijakan pemerintahan Belanda. Kaum liberal yang berkuasa di Negeri Belanda memandang perlu untuk meningkatkan taraf hidup rakyat bumi putera (rakyat Indonesia dahulu. Kemudian, pada tahun 1870 lahirlah politik etis yang bertalian dengan moral. Politik etis ini meliputi edukasi, transmigrasi, dan irigasi.

Ciri-ciri sastra pada angkatan ini adalah:

a. Gaya bahasanya menggunakan bahasa yang klise.

b. Alur roman sebagian besar alur lurus.

c. Teknik penokohan dan perwatakannya banyak menggunakan analisis langsung.

d. Tokoh-tokohnya berwatak datar.

e. Settingnya berlatar kedaerahan.

f. Pada umumnya, pengisahannya menggunakan metode orang ketiga atau dia

g. Banyak terdapat digresi, yaitu sisipan yang secara tidak langsung berkaitan dengan cerita.

Berikut beberapa tokoh pengarang Balai Pustaka

1. Marah Rusli.

2. Nur Sutan Iskandar.

3. Abdul Muis.

4. Muhammad Kasim.

5. Merari Siregar.

B. Angkatan Pujangga Baru

Pujangga Baru merupakan salah satu gerakan dalam kebudayaan yang di dalamnya mencakup sastra. Angkatan Pujangga Baru di latar belakangi oleh semangat persatuan yang hidup dalam masyarakat Indonesia. Semangat ini dipelopori oleh kaum muda karena telah mencetuskan Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928.

Majalah Pujangga Baru bertujuan untuk membawa atau menyebarkan semangat baru dalam kesusastraan, kesenian, kebudayaan, dan sosial yang tujuan akhirnya terbentuknya persatuan bangsa.

Karakteristik karya sastra angkatan ini meliputi estetik dan ekstra-estetik.

1. Unsur estetik

a) Bentuknya teratur rapi, sintesis.

b) Mempunyai persajakan akhir.

c) Banyak menggunakan pola sajak dan syair meskipun sebagian besar puisi empat seuntai.

d) Tiap barisnya terdiri atas dua periodus dan sebuah gatra.

e) Menggunakan kata-kata pujangga.

f) Gaya ekspresinya beraliran romantik.

2. Unsur ekstra-estetik

a) Bersangkut-paut dengan kehidupan masyarakat kota.

b) Ide nasionalisme dan cita-cita kebangsaan banyak mengisi sajak-sajak Pujangga Baru.

c) Ide keagamaan menonjol.

d) Curahan perasaannya tampak kuat: kegembiraan, kesedihan, kekecewaan.

e) Sifat didaktis yang kuat.


C. Angkatan 45

Periode Angkatan 45 dimulai sejak tahun 1942, tidak lama setelah masuknya Jepang ke Indonesia. Pada masa ini, Jepang melarang menggunakan bahasa Belanda dan diganti dengan bahasa Melayu. Hal ini berdampak pada intesifikasi pada penggunaan bahasa Melayu dan tentu saja Mengintensifkan perkembangan kesusastraan Indonesia.

Penamaan angkatan 45 didasarkan pada peristiwa politik, yaitu kemerdekaan Indonesia. Bisa dikatakan bahwa Angkatan 45 merupakan era kemajuan sastra puisi, karena pada angkatan ini banyak lahirnya para penyair yang memiliki karya luar biasa.

Ciri-ciri karya sastra Angkatan 45 adalah sebagai berikut:

a. Bentuknya bebas, tidak terikat kaidah kebahasaan.

b. Temanya diangkat dari realitas.

c. Lebih ekspresif.

d. Menyiratkan tentang perjuangan perebutan kemerdekaan.

e. Mendapat banyak pengaruh sastra asing.

f. Pada angkatan ini, para sastrawan lebih menonjol, dinamis, dan kritis.

g. Sastra puisi sangat mendominasi.

h. Mengandung sinisme dan sarkasme terhadap Belanda, Jepang, juga pemerintahan yang bersikap sewenang-wenang.

Berikut sastrawan pada Angkatan 45:

1. Chairil Anwar

2. Abu Hanifah (El-Hakim)

3. Buyung Saleh

4. Bachtiar Siagia

5. H. B. Jassin

D. Angkatan 50

Pada masa ini, Indonesia mengalami perubahan drastis, yakni transisi penjajahan berdarah menuju kemerdekaan cemerlang. Suasana tersebut membuat sastrawan memikirkan ciri khas sastra Angkatan 50-an dan masalah kebudayaan yang dialami Indonesia untuk membedakannya dari sastra angkatan sebelumnya.

Pada angkatan ini, partai politik memiliki pengaruhnya tersendiri. Pada masa ini, Indonesia menganut sistem politik parlementer, yaitu sistem pemerintah berperan sebagai eksekutif yang harus bertanggungjawab kepada parlemen sehingga sistem pemerintahan parlementer ini memiliki kekuasaan dan kewenangan yang besar. Akibatnya, partai politik mulai bermunculan kembali dan dapat bergerak dengan bebas pasca kemerdekaan.

Berikut ciri-ciri sastra Angkatan 50:

a. Didominasi cerita pendek dan kumpulan puisi.

b. Pusat kegiatan sastra semakin banyak dan jumlahnya menyebar ke seluruh pelosok Indonesia.

c. Kebudayaan daerah dan sastra nasional Indonesia diungkapkan lebih mendalam.

d. Nilai keindahan karya sastra mulai diukur dengan karakteristik sastra Indonesia sendiri.

Adapun sastrawan pada angkatan ini ialah:

1. Sapardi Djoko Damono

2. Kirdjomuljo

3. WS. Rendra

4. Ajib Rosidi

5. Subagio Sastrowadojo

E. Angkatan 66

Nama Angkatan 66 dikemukakan oleh H. B. Jassin dalam artikelnya yang berjudul Angkatan’66; Bangkitnya satu generasi, yang dimuat dalam majalah Horison, Agustus  1966. Kemudian dimuat kembali dengan judul Angkatan’66; Prosa dan Puisi terbitan Gunung Agung. 1968.

Menurut H. B. Jassin ciri-ciri karya sastra pada angkatan ini ialah; Mempunyai konsepsi Pancasila, menggemakan protes sosial dan politik dan membawa kesadaran murni manusia yang bertahun-tahun mengalami kezaliman dan perkosaan terhadap kebenaran dan rasa keadilan serta kesadaran akan moral dan agama.

Dikatakan bahwa, yang termasuk pengarang pada angkatan ini bukan hanya mereka yang baru menulis sajak-sajak perlawanan tahun 1966, tetapi juga yang tampil beberapa tahun sebelumnya dengan suatu kesadaran.

Terdapat 30 pengarang dalam angkatan ini, beberapa diantaranya ialah;

1. Bur Rasuanto

2. Gerson Poyk

3. Taufiq Ismail

4. Gunawan Mohammad

5. Umar Kayam


F. Angkatan 70

Istilah Angkatan’70 diperkenalkan oleh Dami N. Toda dalam kertas kerjanya “Peta Perpuisian Indonesia 1970-an dan Sketsa”, yang diajukan dalam diskusi serta dalam memperingati ulang tahun ke-5 Majalah Tifa Sastra UI (25 Mei 1977). Kertas kerja ini kemudian dimuat dalam Budaya Jaya 23 (September 1977).

Angkatan sastra pada periode ini lahir karena pergeseran sikap berpikir dan bertindak yang menghasilkan wawasan estetik dalam karya sastra bercorak baru, baik dalam bidang puisi, prosa, maupun drama.

Pada periode ini, banyak pembaharuan dalam berbagai bidang, diantaranya ialah; wawasan estetik, pandangan, sikap hidup, dan orientasi budaya.

Berikut merupakan ciri-ciri sastra pada Angkatan 70:

a. Para sastrawan lebih berani bereksperimen dalam karyanya.

b. Terdapat banyak improvisasi terhadap karya sastra yang tidak ada pada angkatan sebelumnya.

c. Beberapa sastrawan pada angkatan ini menganut aliran surealis.

d. Menggunakan bahasa daerah sebagai bentuk mengungkapkan ekspresi.

e. Menggunakan bahasa konotasi yang kuat agar tidak terjerumus dalam politik Orde Baru.

G. Angkatan 2000

Angkatan ini muncul setelah wacana tentang lahirnya Angkatan Reformasi muncul, sayangnya tidak berhasil dikukuhkan karena tidak memiliki juru bicara. Sebuah buku tebal yang ditulis oleh Korrie Layun Rampan diterbitkan oleh Gramedia, Jakarta tahun 2002. Terdapat seratus lebih penyair, novelis, cerpenis, esais, dan kritikus sastra dimasukkan Karrie dalam Angkatan 2000, termasuk mereka yang menulis sejak tahun 1980-an.


Pada periode 2000-an, karya sastra sudah memiliki berbagai corak baru dalam puisi, prosa, drama, serta perfilman. Perkembangan sastra pada periode ini menampilkan berbagai bentuk pikiran karya sastra yang beragam. Hal ini membuktikan bahwa sastra pada periode 2000 mengalami perkembangan yang aktif dan positif. Sastra Angkatan 2000 juga sering disebut sastra mutakhir.

Berikut merupakan sastrawan angkatan 2000 hingga sekarang:

1. Ahmad Fuadi

2. Andrea Hirata

3. Habiburarahman El Shirazy

4. Ahmadun Yosi H.

5. Seno Gumira Ajidarma