Suatu hari, ketika mengisi pelatihan menulis di sebuah kampus swasta, ada salah satu mahasiswa yang bertanya, “Sebenarnya apa sih alasan kita harus menulis?” 

Sebetulnya itu bukan pertanyaan pertama yang saya dapat. Mungkin setiap saya mengisi pelatihan atau seminar kepenulisan, pertanyaan serupa tidak pernah absen. Bahkan, saya sendiri pun pernah punya pertanyaan seperti itu, dulu ketika awal-awal hendak terjun ke dunia tulis-menulis yang jujur saja, tak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Seperti judul tulisan ini, menulis itu perintah Tuhan. Ya, menulis itu adalah salah satu risalah Tuhan untuk manusia sebagai khalifatu fil ardh

Sebagai makhluk terbaik yang diberikan kuasa untuk mengelola, mengatur, dan menjaga alam semesta ini. Meski sebetulnya banyak juga alasan lainnya untuk menulis, tapi saya rasa ini alasan yang paling mendasar dan paling kuat bila mau kita tancapkan di palung tekad kita. 

Oke, kembali ke pertanyaan mahasiswa tadi, saya punya jawaban yang sebetulnya tidak menjawab pertanyaan itu, tapi lebih ke membuat kita berpikir kembali mengapa harus menulis.

Dalam kitab suci Al-Quran, terdapat sebuah surah yang secara eksplisit menyebutkan tentang pena. Bahkan, nama surah tersebut sendiri berarti pena. Ya, surah Al-Qalam. “Al-Qalam” sendiri merupakan bahasa Arab yang bermakna “pena”. 

Mungkin kamu juga sudah pernah mendengar atau bahkan membaca surah ke-68 dalam Al-Quran ini. Bila belum ngeh juga, surah Al-Qalam itu dimulai dengan ayat mutasabihat berbunyi, “Nuun..” Nah, surah ini menjadi landasan yang fundamental untuk kita menjadikan pena sebagai medium menebarkan kebaikan.

Mungkin sudah jamak pena (qalam) digunakan untuk menulis atau mencatat sebuah kejadian, peristiwa, atau sebuah gagasan. Pena juga menjadi alat yang tidak pernah lepas dari kehidupan kita sehari-hari. Peradaban kita hari ini adalah buah pena pada masa lalu. Itu berarti, pena yang kita goreskan hari ini merupakan upaya untuk membangun masa depan lebih baik.

Surah Al-Qalam menyajikan sebuah rahasia besar lho. Ada yang menyebut makna “Nuun” pada ayat pertama sebagai ikan Nun yang menelan Nabi Yunus. Ada pula yang menafsirkan “Nuun” sebagai “tinta”. 

Azaki Khoirudin dalam buku bertajuk Nun menyebutkan, “Nuun” bermakna bak tinta atau kolam tinta kerap dihubungkan dengan surah Al-Kahfi ayat 109 dan surah Luqman ayat 27. Supaya ada gambaran, mari kita simak terjemahannya berikut ini:

“Katakanlah: Kalau sekiranya lautan menuadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (QS Al-Kahfi: 109).

“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan menjadi tinta, ditambahkannya tujuh lautan lagi setelah keringnya niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat-kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS Luqman: 27).

Selain dua ayat di atas, “Nuun” juga memiliki keterkaitan dengan wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad. Ya, “Iqra” yang berarti “bacalah”. Dengan adanya perintah “bacalah” dalam surah Al-Alaq ini, maka turun pula perintah untuk menangkap makna dan pesan dari alam semesta dan kemudian menerjemahkannya.

Di surah Al-Alaq juga disebutkan kata al-qalam. Mari kita simak ayat 3-4 surah Al-Alaq yang berbunyi, “Iqra’ wa rabbukal-akram. Allażī ‘allama bil-qalam.” (Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena). 

Mungkin inilah pena yang disebutkan dalam ayat berikutnya. Di sana disebutkan bahwa Tuhan mengajari kita dengan pena. Ya, dengan pena. Pena itu telah menggoreskan takdir dan ketentuan soal hidup kita di dunia ini.

Selain itu, turunnya perintah membaca ini juga seiring dengan perintah untuk menuliskannya kembali. Ya, itu jelas dibutuhkan. Bila dipikir-pikir secara logis, menuliskannya kembali itu berguna supaya fakta-fakta dan ilmu yang didapat hari ini bisa dibaca oleh generasi selanjutnya. 

“Menuliskan kembali” itulah yang seterusnya akrab dengan kehidupan kita, seperti mengamati, menelaah, menggali, menganalisis, dan meriset tentang apa pun yang ada dalam hidup kita, mulai dari sosial, budaya, kesehatan, pendidikan, politik, dan sebagainya.

Semua kegiatan itu butuh menulis dan juga butuh referensi juga, bukan? Dan semua kegiatan itu punya manfaat yang besar. Bukankah teknologi, obat-obatan, aneka makanan, dan ilmu pengetahuan yang berkembang pesat ini adalah buahnya? Dan kita menikmati faedahnya. 

Bisa kita bayangkan bila Al-Quran tidak dituliskan dalam lembaran-lembaran dan dijadikan mushaf, bisa apa kita yang fakir ilmu dan susah ngehafal ini? Dan bahkan, sekarang kamu bisa baca Al-Quran di smartphone juga, kan.

Apa sih faedahnya menulis?

Terus, muncul pertanyaan, bila memang menulis itu perintah Tuhan, apa sih faedahnya buat kita? Apa juga faedahnya buat orang lain? Oke, untuk menjawab pertanyaan ini kiranya perlu saya jelaskan pendapat beberapa tokoh idola kita semua semoga ini bisa jadi penguat tekad kita dalam menulis. 

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Ikatlah ilmu dengan menulisnya.” Rasul menegaskan fungsinya menulis bagi seseorang adalah untuk mengikat ilmu. Mula-mula menulislah untuk mengikat ilmu. Menulis dalam konteks ini bisa diartikan sebagai mencatat juga ya.

Jadi, ketika kamu ingin mengikat apa yang kamu dengar, apa yang kamu baca, maka catatlah, tulislah itu. Bila suatu saat lupa, kamu bisa buka dan baca lagi tulisan itu. 

Pernah tidak mendengar nasihat seperti ini, “Ketika mendengarkan kamu paham sedikit, ketika menuliskannya kamu akan paham agak banyak, ketika menyampaikannya (dengan ucapan) kamu akan paham, dan ketika melakukannya (dengan perbuatan) maka kamu telah menguasainya.” Nah, itulah yang terjadi.

Sampai-sampai seorang tokoh Muslim yang hidup di masa setelah para sahabat, bernama Asy-Sya’bi, menasihatkan, “Bila kamu mendengar sesuatu ilmu maka tulislah, meskipun di dinding.” 

Ya, tapi mana mungkin ya di zaman serba teknologi begini menulis di dinding? Sekarang itu zamannya menulis di beranda medsos. Ya, itu adalah bentuk ungkapan metafora untuk menegaskan pentingnya menulis suatu ilmu yang telah kita dengar atau baca, bisa menulis di buku catatan, smartphone, laptop, email, dan medium lainnya.

Lebih familier lagi, Imam Al-Ghazali pernah berkata “Bila kamu bukan anak raja dan bukan pula anak ulama besar, maka menulislah.” Meski kita memang bukan siapa-siapa, bukan berarti kita tak bisa berbuat apa-apa. Setiap orang punya kesempatan untuk menuliskan sejarahnya sendiri. Siapa yang akan mencatat kita pernah ada di dunia ini? 

Sedangkan kita bukanlah siapa-siapa. Tidak terpandang. Hanya manusia biasa. Maka, menulis menjadi salah satu jalan agar kita mampu menulis sejarah itu. Yakinlah buah pikiran kita merupakan sesuatu yang berharga dan berguna bagi masa depan dunia.

Mungkin tokoh yang lebih dekat dengan kita ini juga bisa memberikan pandangan soal alasan untuk menulis. Dialah penyair kenamaan kebanggaan, Chairil Anwar, yang juga sastrawan pelopor angkatan 45. Dalam salah satu puisinya berjudul “Aku”, Chairil menyebut, “Aku mau hidup seribu tahun lagi.” 

Menulis membuat seseorang hidup lebih lama. Tentu saja, karena karya seseorang yang menulis akan dibaca oleh orang lain dan orang-orang setelahnya. Ada bola salju ide yang terus menggelinding dari atas gunung. Bisa jadi makin besar dan bisa pula mencair.

Dari sini bisa kita simpulkan faedah menulis adalah untuk membuat kita bisa memahami lebih mendalam akan suatu ilmu, memaksimalkan akal dan pikiran yang dianugerahkan Allah kepada kita, mencatat suatu kejadian yang bisa jadi merupakan suatu sejarah dalam lini masa kehidupan kita, dan tentu saja menebar kebaikan kepada orang lain. Dengan niat yang lurus, tulisan kita bisa memberikan manfaat yang luar biasa kepada pembacanya kelak.

Nah, bila kembali ke topik utama kita tentang menulis sebagai perintah Tuhan. Intinya, menulis itu bukanlah suatu hal yang sia-sia dan unfaedah. Tentu saja, hal itu apabila kita menlakukannya dengan niat yang lurus, tulus, dan ikhlas. 

Menulis untuk menyebarkan kebaikan, menulis untuk berbagi ilmu, menulis untuk mencatat sejarah, menulis untuk membangun peradaban, menulis untuk merancang masa depan. Tuhan telah memerintahan kita untuk membaca alam semesta ini lewat “Iqra”. 

Tuhan juga memerintahkan kita untuk mencatatnya sebagai ilmu dan pengingat diri. “Nuun, demi pena dan apa yang dituliskannya.” (QS Al-Qalam: 1-2).