"Ka’bah pun dibebaskan dari berbagai patung berhala. Menjadi satu-satunya bangunan peninggalan nabi Ibrahim, sebagai pusat arah beribadah kaum Muslim dalam menjalankan rukun Islam dan rukun Iman."

Berkisah tentang masa-masa awal perkembangan Islam sebagai agama samawi, penuntun pematuhan terhadap pesan-pesan Ilahiah yang disampaikan kepada nabi Muhammad pada masa awal kerasulan beliau, melalui perantara malaikat Jibril sang penyampai wahyu.

Berlatar belakang suasana tatanan sosial di kota Mekkah pada kisaran tahun 600 Masehi, dituturkan bagaimana nabi Muhammad beserta pengikutnya, kaum Muslim, mendapat perlakuan zalim dari penguasa kota Mekkah dan sebagian besar masyarakatnya yang masih menyembah patung berhala.

Terdapat lebih dari 300 patung berhala yang menjadi tradisi disembah oleh masyarakat Mekkah waktu itu.


Hijrah

Perjuangan nabi Muhammad yang dibantu oleh kerabat, sahabat dan kaum muslim Mekkah untuk meyakinkan penduduk Mekkah, kaum Quraisy, yang masih menyembah berhala.

Upaya memberikan pemahaman bahwa hanya ada satu Tuhan yang patut disembah dan bahwa terdapat banyak kesalahan dalam berperilaku sosial, bukanlah urusan mudah.

Penistaan, penjarahan paksa atas harta benda, hingga genosida, diberlakukan bagi kaum Muslim oleh petinggi kota Mekkah yang tak berkenan zona nyaman berketuhanan menyembah berhala dan bertatanan sosial jahiliah mereka terusik.

Perlakuan zalim tersebut, menjadikan nabi Muhammad beserta puluhan pengikut beliau berhijrah, berjalan kaki menempuh jarak lebih dari 400 km dari Mekkah menuju Madinah, menembus terik matahari dan angin gurun pasir juga kejaran kaum Quraisy dan petinggi Mekkah.

Tiba selamat di Madinah, nabi Muhammad beserta kaum Muslim terus berdakwah, menjalankan perintah-perintah suci yang diterima sang nabi dalam bentuk pesan-pesan Ilahiah, sehingga pengikut ajaran Islam semakin berkembang di kota ini.

Namun demikian, tetap petinggi kota Mekkah menganggap keberadaan nabi Muhammad, kaum Muslim dan agama Islam, adalah ancaman bagi peri kehidupan mereka yang turun menurun, menyembah banyak tuhan dan berperilaku jahiliah. Mereka sangat nyaman dengan cara hidup demikian.


Badar

Hingga dua tahun setelah hijrah dari Mekkah ke Madinah, pertikaian antara dua kaum yang berbeda dalam memahami bagaimana seharusnya berketuhanan itu kian meruncing. Hingga terjadilah perang pertama antara kaum Muslim dengan kaum Quraisy Mekkah.

Perang Badar meletus saat Ramadhan tanggal 17, tahun kedua Hijriah atau 13 Maret 624 Masehi.

Sebanyak 313 orang Muslim, dilengkapi hanya dengan 2 ekor kuda dan 70 unta bakal berhadapan dengan 1.000-an orang Quraisy Mekkah yang dilengkapi ratusan pasukan penunggang kuda dan unta.

Tak ada yang tak mungkin jika Tuhan berkehendak. Kepemimpinan nabi Muhammad, didukung para sahabat, paman beliau Hamzah bin Abdul Mutholib dan sepupu beliau Ali bin Abi Thalib, telah menjadi anugerah tersendiri, yang menjadikan orang-orang Muslim memenangkan perang.

Pertama kali Zulfiqar, pedang bermata dua milik Ali bin Abi Thalib, dikenal lalu melegenda. Abu Jahal, si pemimpin kaum Quraisy Mekkah tewas dalam perang Badar.


Uhud

Kaum Quraisy dan petinggi Mekkah menyimpan dendam membara atas kekalahannya dalam perang Badar. Setahun kemudian, 7 hari setelah Syawal tahun ketiga Hijriah atau 23 Maret 625 Masehi, meletus perang Uhud.

Kali ini pasukan Muslim berjumlah lebih dari dua kali lipat dibanding pertempuran Badar setahun sebelumnya. Namun mereka tetap bakal menghadapi pasukan Quraisy yang juga meningkat tiga kali lipat dari tahun sebelumnya.

Dalam perang Uhud, kaum Muslim mengalami kekalahan, gegara terlalu dini merasa telah menang. Sementara, perasaan meraih kemenangan tersebut adalah taktik musuh agar pasukan Muslim melemah.

Pasukan Muslim yang seharusnya disiplin tetap bertahan di bukit Uhud, tergoda untuk segera mengambil harta rampasan perang dari pasukan Quraisy yang seolah mundur.

Tak dinyana, sepasukan berkuda Quraisy menyerang dari belakang garis pertahanan kaum Muslim yang tak mampu dilindungi, karena pasukan pemanah di bukit Uhud telah bubar.

Perang Uhud berakhir memilukan dengan tewasnya Hamzah bin Abdul Mutholib. Bahkan, jasadnya dikoyak oleh wanita bernama Hindun binti Utbah, istri Abu Sufyan sang panglima pasukan Quraisy. Hindun menyimpan dendam kesumat atas kematian ayah dan saudara lelakinya dalam perang Badar ditangan Hamzah.

Kelak, Hindun yang diberi julukan wanita pemakan hati ini, menjadi Muslimah karismatik. Bersama Abu Sufyan sang suami yang telah lebih dahulu bersyahadat, mereka membantu perjuangan nabi Muhammad beserta kaum Muslim.


Haji

Berkat niatan berdakwah yang istikamah, maka jumlah kaum Muslim semakin meningkat di Madinah.

Niatan menjalankan ibadah haji di Mekkah guna melengkapi rukun kelima Islam, semakin mengukuhkan tekad kaum Muslim Madinah untuk segera mewujudkannya.

Pada tahun keenam Hijriah, nabi Muhammad beserta kaum Muslim bertekad bulat, berjalan menuju Ka’bah di Mekkah demi menunaikan haji.

Namun demikian, kaum musyrik Mekkah yang meski setahun sebelumnya telah kalah dalam perang parit atau dikenal perang Khandaq, tetap berupaya menghalang-halangi niatan kaum Muslim Madinah beribadah haji.

Dengan niatan berdamai karena hendak menjalankan ibadah suci, maka nabi Muhammad beserta sahabat kemudian berinisiatif untuk memilih berdiplomasi dengan petinggi Quraisy Mekkah.


Hudaibiah

Kesepakatan diraih. Dikemas dalam perjanjian Hudaibiah, antara lain berisikan gencatan senjata selama 10 tahun antara kaum Muslim Madinah dengan kaum musyrik Mekkah.

Atas pandangan yang melampaui jaman dari seorang nabi, maka sebuah perjanjian yang seolah merugikan kaum Muslim tersebut, ternyata justru mengembangkan dakwah Islam di seluruh jazirah Arab, hingga ke sejumlah negeri kerajaan tetangga seperti di Mesir, Ethiopia, Persia bahkan ke negeri-negeri koloni Romawi di Afrika utara.

Bahkan, seorang panglima perang kaum Quraisy yang sangat disegani, yakni Khalid bin Walid pun menjadi luluh hatinya lalau memeluk Islam, demi menyimak dakwah demi dakwah yang dilakukan oleh nabi Muhammad dan para sahabat.


Fathu Makkah

Hanya saja, perjanjian Hudaibiah ini tak berjalan hingga waktu yang ditentukan.

Belum genap dua tahun perjanjian gencatan senjata dilakukan, pelanggaran dilakukan oleh sebagian orang kelompok Quraisy yang memanfaatkan perseteruan dua bani yang masing-masing bersekutu dengan kaum muslim dan kaum musyrik.

Pada suatu malam kelompok musyrik Quraisy tersebut melakukan pembantaian terhadap anggota bani yang bersekutu dengan kaum Muslim. Karena pelanggaran ini, maka nabi Muhammad, para sahabat dan kaum Muslim menetapkan untuk menaklukkan Mekkah.

Jumlah kaum Muslim yang meningkat pesat selama dua tahun setelah perjanjian Hudabiah dijalankan, dari tadinya berjumlah 1.400-an orang sebelum perjanjian tersebut, menjadi berkisar 10.000-an orang, telah siap untuk menjalankan penaklukan yang dikenal dengan fathu Makkah itu.


Ka’bah

Tak pelak pada 10 Ramadhan tahun ke 8 Hijriyah atau tahun 629 Masehi, semua petinggi dan penduduk kota Mekkah yang sebagian besar musyrik, bergetar hatinya demi melihat dan mendengar derap langkah penuh keteguhan hati dari sepuluhan ribu kaum Muslim. Derap langkah mereka beriring lantunan takbir dan tahmid, menuju kota Mekkah.

Tak ada bala tentara kaum musyrik Quraisy Mekkah sejak kekalahan mereka dalam perang Khandaq. Ditambah, nyali semua penduduk kota itu telah rontok. Menjadikan penaklukan Mekkah berjalan tanpa pertumpahan darah.

Abu Sufyan petinggi Mekkah yang sangat disegani, telah bersyahadat saat perjanjian Hubadiah disepakati. Dia  menjamin bahwa pasukan Muslim pimpinan nabi Muhammad tak bakal melukai penduduk kota itu. Dia menyediakan rumahnya menjadi tempat berlindung bagi orang-orang musyrik yang ragu.

Hindun sang istri Abu Sufyan yang pada hari itu tak setuju dengan tingkah laku sang suami, keesokan harinya memilih menjadi Muslimah demi melihat sikap santun dan elegan para kaum Muslim pimpinan nabi Muhammad saat menaklukkan Mekkah.

Pada hari penaklukan Mekkah ini, nabi Muhammad dan kaum Muslim lalu meluluhlantakkan tiga ratus enam puluh berhala yang terdapat di dalam pun sekitar bagunan Ka’bah.

Ka’bah pun dibebaskan dari berbagai patung berhala. Menjadi satu-satunya bangunan peninggalan nabi Ibrahim, sebagai pusat arah beribadah kaum Muslim dalam menjalankan rukun Islam dan rukun Iman.


Salawat Nabi

Keberhasilan kaum Muslim menaklukkan Mekkah, telah menjadi puncak titik balik kezaliman yang pernah diderita. Hikmah bertawakal kaum muslim sebagaimana diajarkan oleh nabi Muhammad, sebagai penerima perintah suci.

Sekaligus memantapkan keyakinan bagi sisa-sisa kaum musyrik agar tak lagi menyembah berhala dan berperilaku jahiliyah. Melainkan menyembah hanya satu Tuhan yakni Allah SWT, Subhanahu Wa Ta’ala, Yang Mahasuci lagi Mahatinggi, serta mengindahkan perintahNya dan menjauhi laranganNya.

Sebuah proses panjang yang membutuhkan kesabaran dan keteguhan hati untuk merubah prinsip dasar berketuhanan. Keteladanan sikap yang berpengaruh hingga sekarang.

Semua itu menjadi anugerah mulai sejak jaman nabi Muhammad, yang diingat dan diteladani hingga akhir waktu bagi alam semesta menjelang.

Sepadan bagi nabi Muhammad mendapatkan gelar Shalallahu Alaihi Wassalam, yang bermakna ‘Semoga Allah SWT memberikan Salawat dan Salam kepadanya’.

Tak hanya doa, gelar tersebut juga ditetapkan sebagai KalamNya dalam surah ke 33, Al-Ahzan ayat 56, “Innallaha wa mala ‘ikatahu yushalluna 'alan-nabiyy, yaa ayyuhalladzinaa aamanu shallu alaihi wa sallimu taslima”

Bermakna; “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bersalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”


Ulasan

The Message, sebuah karya seni layar lebar pada tahun 1976 berkisah tentang awal perkembangan Islam.

Bukan sebagai produksi Hollywood, melainkan kerja sama antara sineas barat, yang disetujui oleh kalangan intelektual Islam, akan keakuratan jalan cerita berbasis pada awal perkembangan Islam.

Sang sutradara, Mousthappa Akkad memang bercita-cita untuk membuat karya sinema sejarah Islam, yang sekaligus menjadi menjembatani pemahaman tentang Islam, bagi dunia barat.

Film yang dibuat atas dukungan penuh pemerintah kerajaan Maroko dan Libya serta sejarawan universitas Mesir ini dibuat menjadi dua versi, Inggris dan Arab.

Kecuali aktor dan aktris pemeran serta bahasa, tak ada perbedaan baik isi dialog, sudut gambar, sinematografi maupun tata suara musik. Masing-masing versi dibuat sama persis..

Kedua versi film ini juga menghormati adat kalangan Islam, untuk tak menampilkan sosok wajah, badan, bayangan hingga suara nabi Muhammad SAW selama film dibuat dan ditayangkan. Demikian halnya beberapa kerabat beliau, seperti Ali bin Abi Thalib yang dalam film ini cukup ditampilkan ujung sang Zulfiqar, pedang bermata dua yang melegenda.


Tigang Jam

Film ini pernah saya tonton ketika saya masih duduk kelas 5 Sekolah Dasar tahun 1980.

Waktu itu saya ditemani Bapak. Menonton di bioskop berbangunan peninggalan Belanda, bernama Ria Theater di sebelah timur alun-alun kota Malang.

Memang cukup mengundang banyak pertanyaan film ini sejak gambar posternya dipasang di halaman depan gedung bioskop dan dipromosikan melalui radio-radio swasta waktu itu. Pertanyaan umum yang mengemuka berkisar apakah sosok nabi Muhammad SAW bakal ditampilkan.

Juga banyak yang mengira Antony Quinn tampil sebagai sosok nabi Muhammad SAW. Sementara sang aktor tersebut memerankan sosok Hamzah bin Abdul Mutholib, sang paman nabi.

Pas mengantri beli karcis tanda masuk bioskop, petugas karcis dan portir bagian sobek karcis juga sering terdengar memberi jawaban atas pertanyaan apakah dalam film ini ditampilkan sosok nabi Muhammad SAW.

Oh! mboten enten Pak, saestu. Niki film e dangu nggih, tigang jam.” Demikian jawaban yang sering terdengar dalam bahasa Jawa Timuran berlogat Malang.

“Oh! nggak ada Pak, sumpah. Ini filmnya lama ya, tiga jam.” Demikian arti terjemahan dalam bahasa Indonesia.

Dalam gedung bioskop selama film The Message diputar, penonton pun larut memaknai alur sejarah berkembangnya suatu agama, Islam.


Rembulan Purnama

Terdapat satu tuturan kisah yang menghanyutkan, membangkitkan perasaan riang sekaligus haru. Yakni, saat nabi Muhammad SAW menyusul rombongan hijrah kaum Muslim yang lebih dulu tiba di Madinah.

Beliau disambut begitu hangat dan gembira oleh kaum Muslim yang bersalawat, merindukan kehadiran sosok pembimbing jalan menuju kemuliaan. 

“Thola’al badru ‘alaina, Min tsaniyatil Wada’

Wa jabasyukru ‘alayna, Mada ‘a lillahida’

Ayyuhal mab ‘tsufiynaa, Ji’tabil amril mutha’

Ji’ta syarratal Madinah, Marhaban yaa khairada’ ..”

“Telah terbit rembulan purnama bagi kami, dari lembah Wada’

Kita semua harus bersyukur, atas seruan adalah kepada Allah.

Wahai Nabi yang diutus kepada kita. 

Datang dengan seruan untuk dipatuhi.

Engkau telah membawa kemuliaan di Madinah ini. 

Selamat datang wahai penyeru terbaik ke jalan Allah.”

Bergetar hati saya sejak itu hingga kini, demi mendengar lantunan syair Salawat ini.

“Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad, wa ‘ala ali sayyidina Muhammad”. Rindu kami akan kehadiran dan keteladan mu, ya Rasul.