Kata Kafir sering kali dikaitkan dalam hal keagamaan, dan tanpa disadari keberagaman pemahaman atau sedikitnya pengetahuan orang orang tentang pengertian Kafir membuat istilah ini menjadi hal yang bersifat ofensif bagi umat non muslim.

Banyak orang yang mengartikan kata ini menjadi hal yang memicu polemik bagi banyak orang, membuat perdebatan perdebatan tanpa tau sebenarnya kata yang amat sensitif ini memiliki makna yang terbatas dan kecil.

Dulu pada zaman Rasulullah, kata kafir menjadi julukan bagi orang orang yang memerangi agama Islam, bagi orang orang yang tidak setuju akan adanya agama yang tidak membenarkan kebiasaan buruk mereka.

Kafir dibagi menjadi dua, kafir harbi dan kafir dzimmi. Kafir harbi ialah orang non muslim yang menentang ajaran Islam serta memeranginya, sedangkan kafir dzimmi ialah orang orang non muslim yang menerima Islam dengan baik.

Hal ini bisa kita contohkan pada kisah dakwah Rasulullah secara terang terangan untuk pertama kali. Rasulullah berdakwah selama 13 tahun di kota makkah dan 10 tahun di kota Madinah serta pengembangannya.

Dimasa 13 tahun berdakwah dimakkah, ia lakukan secara sembunyi sembunyi bagi teman dan keluarga dekat yang dianggap bisa menjaga rahasia tentang pesan yang disampaikannya. Sampai turunlah ayat surat al hijr: 94

فَٱصۡدَعۡ بِمَا تُؤۡمَرُ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ٩٤

 “Maka sampaikanlah olehmu (Muhammad) secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.”

Sejak saat itulah Rasulullah memulai dakwahnya secara terang terangan yang disambut caci maki dan hujatan para penduduk mekkah. Beliau pun melanjutkan dakwahnya ke Madinah yang disambut dengan baik oleh penduduk di sana, ini adalah perbedaan kafir harbi dan dzimmi secara gamblang yang bisa dirasakan lewat kisah nabi pada saat dakwah pertama beliau.

Sebagaimana kafir harbi bekerja untuk memerangi ummat muslim, maka ummat muslim juga menghalalkan untuk membunuh mereka. Sedangkan kafir dzimmi ialah golongan kafir yang haram dibunuh. Dalam konteks ini kafir harbilah yang dianggap memerangi atau menentang agama Islam dan tidak terelamatkan.

Begitu ditekannya istilah kafir ini dalam al quran oleh berbagai kisah, salah satunya kisah nabi Nuh dan Kanan anaknya. Dalam surat Hud : 46  

قَالَ يَٰنُوحُ إِنَّهُۥ لَيۡسَ مِنۡ أَهۡلِكَۖ إِنَّهُۥ عَمَلٌ غَيۡرُ صَٰلِحٖۖ فَلَا تَسۡ‍َٔلۡنِ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌۖ إِنِّيٓ أَعِظُكَ أَن تَكُونَ مِنَ ٱلۡجَٰهِلِينَ ٤٦

Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan dan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Esungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.

Setiap orang tua mempunyai kewajiban untuk mendidik anak anaknya, karna anak ialah karunia dari Allah yang wajib kita syukuri. Ajaran Islam menekankan bahwa orang tua wajib merawat anak dari buaian agar terhindar dari siksa api neraka. Lalu bagaimana dengan anak yang durhaka atau kafir?

Pada penggalan ayat laisa min ahlika yang berarti bukan termasuk dalam keluargamu. Dalam naluri manusia anak dilahirkan dari rahim seorang ibu dan tak kalah atas hubungan dengan bapak. Yang kemudian terkumpul dalam suatu lingkup dengan nama keluarga.

Aisarut Tafasir dalam Tafsirnya menegaskan : Kemudian Allah menjawab “laisa min ahlika” dia bukanlah dari keluargamu yang Aku janjikan dengan keselamatan, karna ia tidak berada diatas agamamu dan menyelisihi jalanmu. “innahu amalun ghairu sholih” permintaanmu agar Aku menyelamatkan anakmu yang kafir, dan sudah Ku jelaskan, Aku akan menenggelamkan orang orang kafir, bukanlah perbuatan yang pantas kau lakukan. “inni a’izuka” Aku melarangmu dan memperingatkanmu. “antakuu naminal jahilin” agar engkau tidak termasuk orang orang yang bodoh, kemudian meminta hal yang tidak engkau ketahui dasarnya.

Dijelaskan juga dalam Tafsir As-sa’di : Allah berfirman kepadanya “sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu” yang aku janjikan kepadamu selamat.

”sesungguhnya (perbuatannya) adalah perbuatan yang tidak baik” maksudnya, doa yang kamu ucapkan untuk keselamatan orang kafir yang tidak beriman kepada Allah dan RasulNya. ”sebab itu janganlah kamu memohon kepadaKu sesuatu yang kamu tidak mengetahui hakikat(nya)” yang kamu tidak mengetahui akhirnya dan akibatnya, apakah ia baik atau tidak baik. ”sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang orang yang tidak berpengetahuan” sesungguhnya Aku menasihatimu dengan nasihat yang dengannya kamu termasuk orang orang yang sempurna, dan dengannya kamu selamat dari sifat orang orang yang bodoh.

KESIMPULAN

Dari kisah di atas, kita dapat mengambil keteguhan dan kesabaran Nabi Nuh dalam bersyukur dan beribadah kepada Allah SWT sebagai salah satu pelajaran penting. Dari kisah ini pula diketahui bahwa janji Allah berupa azab dan pembalasan berupa bencana adalah benar. Pembalasan akan datang pada waktunya. Allah juga hanya akan menyelamatkan umatnya yang beriman.