Secara umum, pendapat yang berkembang dalam masyarakat mengenai anak jalanan merupakan sesuatu yang negatif. Idealnya, seorang anak yang berusia di bawah 17 tahun masih menjadi tanggung jawab orang tua atau relasi dari orang tuanya.

Orang tua wajib memenuhi segala kebutuhan sang anak agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Hal tersebut sesuai dengan Undang-undang Perlindungan Anak Nomor 23 Tahun 2002 Bab III yang mengatur hak dan kewajiban anak, pada pasal 4 dijelaskan bahwa setiap anak berhak untuk hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan deskriminasi. 

Sedangkan dalam Bab IV pasal 26 ayat 1 dijelaskan bahwa orang tua memiliki kewajiban dan tanggung jawab untuk mengasuh, memelihara, mendidik dan melindungi anak, serta menumbuh kembangkan anak sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minatnya.

Perbedaan penggunaan istilah anak jalanan dengan pemuda pengangguran. Anak jalanan ditujukan kepada anak-anak baik yang tinggal maupun menghabiskan waktu di jalanan. Sedangkan penyebutan pemuda pengangguran yang sering berada di jalanan di tunjukkan pada negara maju. 

Bahwa fenomena anak jalanan hanya ada di negara berkembang dengan masih banyaknya persentase keluarga miskin dan kurangnya pendidikan. Terdapat hubungan antara turunnya anak ke jalan dengan status ekonomi keluarga. Semakin tinggi ekonomi keluarga maka kecenderungan menjadi anak jalanan semakin rendah dan sebaliknya.

Kebanyakan anak memilih bekerja karena kurangnya makanan yang ada di rumah. Beberapa dari mereka meninggalkan rumah dan menjadi anak jalanan dan biasanya mereka berasal dari keluarga yang kasar. 

Selain itu, kemiskinan, kurangnya penghargaan bagi anak-anak, lunturnya nilai-nilai dalam masyarakat, serta terdisintegrasinya keluarga juga merupakan penyebab munculnya fenomena anak jalanan.

Mereka dipandang sebagai anak-anak yang lebih memilih untuk menghabiskan waktunya di jalanan daripada bersama dengan keluarganya. Selain itu, masyarakat pun menganggap bahwa mereka sudah tidak ada keinginan untuk bersekolah. 

Para anak jalanan tersebut juga dianggap sebagai sesuatu yang mengganggu keamanan dan ketertiban umum. Umumnya anak jalanan ini hidup di daerah-daerah kumuh, yang ditandai dengan tidak adanya tempat anak-anak untuk bermain dan menikmati masa kanak-kanaknya. 

Perkampungan yang sempit dan tidak sesuai untuk tempat tinggal manusia, tidak tersedianya fasilitas pendidikan sebagai dasar pendidikan dan kebutuhan sosial mereka menambah semakin termarjinalnya kehidupan para anak jalanan.

Sering sekali di lingkungan anak jalanan seperti ini batas pribadi (privacy) tidak jelas sehingga terjadi keributan antar mereka sendiri. Kehidupan semacam ini juga memunculkan sikap-sikap kecurigaan terhadap dunia luar. Sedangkan apatisme dan keterasingan sosial membuat anak jalanan tercitrakan dengan penampilan kotor dan kesulitan hidupnya.

Perilaku menyimpang seperti kejahatan, kenakalan remaja, pelacuran, mabuk-mabukan, berjudi, mengkonsumsi obat terlarang, merupakan fenomena sosial sudah sejak lama digambarkan terhadap orang yang tinggal di daerah permukiman kumuh.

Anggapan tersebut menjadikan anak jalanan merasa terasing secara sosial dan mereka tidak berdaya untuk mengubah kondisi hidupnya. Solidaritas yang dimiliki sesama anak jalanan ini dikatakan cukup kuat. Mereka akan saling membantu apabila salah satu di antaranya mengalami kesulitan. 

Sebagai contoh, bila ada anak jalanan yang sakit, yang lainnya akan bergotong royong mencari bantuan untuk mengobati atau merujuk ke petugas kesehatan. Bila ada seorang anak jalanan yang tertangkap, karena terdesak dengan biaya yang tidak cukup untuk mengeluarkannya, mereka akan minta bantuan aparat penertiban untuk merazia mereka semua bersama-sama.

Meskipun mereka merupakan individu yang sulit diatur karena pengaruh lingkungan dan kebiasaan hidup di jalan tanpa ada aturan yang mengekang, rasa kebersamaan tetap ada. Anak-anak jalanan tersebut memiliki aspirasi yang tinggi untuk bisa bersekolah kembali dan menginginkan kehidupan yang lebih baik di masa depannya. 

Selain bekerja, mereka juga mengikuti pendidikan non formal yang diadakan oleh LSM secara gratis. Pendidikan tersebut dilakoni untuk menjadi orang yang pintar dan dapat meraih cita-citanya. Selain itu, mereka sangat berharap agar kelak adik ataupun anaknya tidak menjadi orang seperti dirinya. 

Suatu praktik atau realitas sosial terpengaruh oleh habitus dan arena yang ada. Habitus yang dimaksud adalah bukan hanya suatu kebiasaan, namun dilakukan tanpa sadar atau secara spontan. Sedangkan arena adalah lingkungan yang ada di sekitar yang mendukung terjadinya praktik.
Relasionisme metodologis, sebagai gambaran hubungan antara habitus dan arena, yakni adanya hubungan saling memengaruhi antara lingkungan dengan habitus. 

Di satu pihak, lingkungan mengkondisikan habitus, di pihak lain habitus menyusun lingkungan, sebagai sesuatu yang bermakna, yang mempunyai arti dan nilai. Selain itu ada pula modal (capital) sosial sebagai pendorong melakukan habitus di suatu arena dan untuk mempertahankan status sosial.

Sopan santun merupakan perilaku terhadap orang tua, penggunaan kata-kata kotor dan perilaku terhadap penghuni jalan lain seperti preman dan waria.

Pada perilaku sopan santun terhadap orang tua, dengan penggunaan kata-kata kotor dan kehidupan mereka yang banyak dihabiskan di jalanan. Sedangkan pada perilaku terhadap penghuni jalan lain seperti preman dan waria, memiliki hubungan yang baik dan tidak pernah ada masalah dengan mereka.