Terus terang, saya agak setengah hati menulis ini. Bukan hanya karena takut dianggap sok baik bila melihat redaksi dari judul tulisan ini, tapi juga saya sendiri memang menjadi bagian dari orang-orang yang pernah membajak sebuah buku.

Ini terpaksa saya lakukan dengan berbagai alasan dan kepentingan, di antaranya karena buku yang saya inginkan tak ada lagi di toko buku dan hampir dipastikan tak akan cetak lagi.

Selain itu, ada pula buku yang terpaksa saya bajak lantaran harga aslinya sangat mahal. Tapi ketika punya uang yang cukup, saya akan segera membeli versi asli dari yang pernah saya bajak. Ini bisa dikatakan sejenis pertobatan dari seorang yang pernah menggandakan buku tanpa izin.

Terlepas dari kelakukan saya itu, fenomena pembajakan buku memang sedang hangat dibicarakan akhir-akhir ini, lantaran banyak pegiat industri buku dan penulis yang resah dengan membludaknya para penjual buku bajakan yang tujuannya murni bisnis. 

Tak tanggung-tanggung, mereka membajak ratusan buku bagus demi memenuhi kebutuhan sahabat miskin dan demi keuntungan yang jauh lebih besar.

Dulu, tidak ada orang jualan buku bajakan. Kalaupun ada, jumlahnya sangat sedikit dan tak diperhitungkan. Banyak orang membajak buku hanya untuk kepentingan dirinya sendiri, tak ada yang berniat memperjualbelikan.

Tapi sekarang, di Facebook, Instagram, Twitter, aplikasi jual-beli online, dan lain sebagainya, sangat mudah ditemukan orang dengan terang-terangan menjual buku bajakan.

Kemajuan teknologi komunikasi ini ternyata menjadi peluang bisnis yang begitu menjanjikan bagi “otak-otak jahat” yang menyelundupkan buku-buku bajakan dan selanjutnya dijual dengan harga yang nyaris kurang dari setengah harga buku aslinya.

Para pegiat buku, penerbit dan penulis, merasa pusing bukan kepalang. Kerja keras mereka hingga akhirnya dapat menciptakan sebuah mahakarya, berubah menjadi sesuatu yang receh dan murahan. Akibatnya, orang-orang yang bekerja penuh khidmat dalam dunia perbukuan, hancur-lebur dalam keadaan hati yang galau.

Memang, sangat dramatis bila melihat orang membajak buku dengan alasan kemiskinan dan mahalnya harga buku. Para pengelola industri buku dengan skala besar juga meraup keuntungan yang tak tanggung-tanggung. Dalam pengertian, para penikmat buku dihadapkan dengan berbagai dilema di mana mereka tak mampu membeli buku dengan harga yang telah ditetapkan di pasar buku.

Tapi itu, kan, penerbit besar? Bagaimana dengan penerbit kecil, apalagi yang baru berdiri dengan modal pas-pasan? Mereka berjuang mati-matian. Bahkan untuk sekedar dana mencetak buku pun, kadang-kadang tak sanggup menutupinya. Akhirnya, penerbit kecil mencetak buku dengan jumlah terbatas, sesuai pesanan, dan banyak yang tak bisa masuk ke toko buku.

Fenomena ini, bila dihadapkan dengan para pembajak yang tidak tahu diri itu, betapa tidak malunya mereka. Kehormatan mereka sebagai pegiat ilmu pengetahuan hancur lebur hanya karena uang puluhan ribu dari harga buku bajakan yang pernah ia beli.

Di lain hal, kita juga segera bisa tahu bahwa ternyata pengetahuan tidak berbanding lurus dengan sikap bijak. Para pembajak buku adalah orang-orang yang bergelut di dunia pengetahuan dan demi ilmu itu, dia melakukan berbagai cara, termasuk menghalalkan pembajakan.

Padahal, harusnya kebijaksanaan lahir dari pengetahuan, lahir dari buku-buku yang dibaca itu, dan akhirnya dia bisa bersikap secara lebih bijak. Tapi kenyataan malah berkata lain, bahwa untuk menjadi bijak, orang tidak sekadar butuh pengetahuan, tapi juga perlu memahami perasaan orang lain.

Bagi saya sendiri, cara paling jitu menghadapi fenomena pembajakan buku sangat simpel. Laporkan saja mereka ke pihak yang berwajib, maka sedikit demi sedikit pembajakan buku akan bisa berkurang atau malah hilang dari peredaran bumi ini.

Sebab, hampir tidak ada penerbit atau penulis yang benar-benar melaporkan para pembajak itu. Padahal di bagian sampul buku biasanya tertulis dengan jelas tentang perlindungan hak cipta, dan orang akan terpenjarakan dan didenda dengan nominal yang cukup besar bila membajaknya. Bukankah nilai denda itu bisa untuk menutupi kerugian akibat pembajakan?

Bila para penerbit dan penulis bahu-membahu melaporkan satu per satu orang yang dengan terang-benderang membajak sebuah buku, maka, hemat saya, problem pembajakan ini akan mudah diselesaikan. Masalahnya, penerbit biasanya malas mengurus masalah lapor-melapor, hanya mengeluh dan curhat satu sama lain.

Kurangnya sigap dari para pegiat buku ini tentu tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah pembajakan. Karena pembajakan buku sudah terjadi secara terstruktur, sistematis, dan masif.

Mulai dari perorangan untuk kepentingan sendiri, dijual, dan bahkan fotocopy-an di dekat kampus-kampus besar itu, seperti di Yogyakarta, mereka dengan seenaknya membajak buku-buku. Bahkan di komputernya sudah ada ribuan daftar buku yang siap dibajak. Tragis memang.

Harusnya, orang bijak dilarang membajak. Kebijaksaan haruslah dilatih dan bukan hanya dari kesadaran diri sendiri. Bila melaporkan mereka menjadi bagian dari cara melatih gaya hidup yang bijak, mengapa tidak dilakukan? Toh itu demi kemaslahatan bersama.