Membahas mengenai waktu tentunya membutuhkan pembahasan yang sangat panjang. Orang-orang filsafat memperdebatkan perihal waktu bahkan sejak awal-awal perkembangan ilmu filsafat. 

Bisa dikatakan bahwa pembahasan mengenai waktu mempunyai umur yang hampir sama tuanya dengan filsafat itu sendiri. Sejak zaman Plato sampai Einstein, metafisika hingga fisika, masih memperdebatkan mengenai waktu.

Kita tidak bisa secara tepat mendefinisikan waktu, namun kita bisa mencoba mengenali waktu dan memanfaatkannya untuk kemaslahatan hidup. Seperti petani yang menjadi tahu kapan waktu yang bagus untuk menabur benih, seperti keluarga baru yang tahu kapan waktu yang tepat untuk berlibur ke Eropa, atau seperti Einstein yang merumuskan E = M.C2.

Manusia dan Waktu

Perihal waktu, manusia menjadi hewan yang benar-benar aneh, sangat berbeda dengan hewan lainnya. Manusia merupakan satu-satunya hewan yang menyadari eksistensi waktu. Bahkan manusia menciptakan sistem waktu: detik, menit, jam, hari, minggu, bulan hingga sistem kalender.

Sangat berbeda dengan hewan lainnya yang tidak menyadari eksistensi waktu, meskipun kebanyakan hewan terutama vertebrata termasuk kita mempunyai jam di otaknya yang kita sebut hipotalamus, berfungsi mengatur jam biologis. 

Hipotalamus adalah sebuah jam yang mengatur kapan beruang akan tidur dan kapan dia harus bangun kembali, kapan burung akan kawin dan menghasilkan anak pinak, kapan mereka melakukan migrasi dan sebagainya.

Linear atau Sirkuler

Filsafat Timur menganggap waktu bersifat sirkuler, dari satu titik akan kembali ke titik tersebut. Secara evolusioner tentunya kita harus mengakui bahwa waktu itu bergerak secara linear, dari satu titik ke titik yang lain, tidak akan pernah berulang atau kembali ke posisi awal.

Memang bumi kita mempunyai pola, malam ke malam, musim dingin ke musim dingin, Januari ke Januari dan sebagainya, seakan-akan waktu memang bersifat sirkuler. Namun pola-pola tersebut berubah seiring berjalannya waktu, seiring perubahan semesta. 

Sejak awal terbentuknya bumi hingga saat ini, saat di mana manusia menjadi dominan, bumi tidak pernah berhenti untuk berubah, sehingga makhluk hidup juga harus berubah sesuai tuntutan zaman, kita sebut sebagai evolusi.

Tidaklah berlebihan jika kita gambarkan kita saat ini sedang terhanyut pada sungai waktu dan tidak ada satupun bisa melawan arusnya, mengembalikan waktu yang sudah terlewat.

Ketika kita melewatkan beberapa menit membaca tulisan ini, maka waktu yang sudah lewat tidak lagi menjadi realitas, kita sebut kenangan, masa lalu. Begitu pun ketika nanti kita akan membaca paragraf terakhir, “nanti” bukanlah realitas, kita sebut sebagai masa depan.

Realitas

Sehingga yang benar-benar real dan nyata adalah saat ini, hari ini, menit ini dan detik ini, itulah yang merupakan realitas, yang benar-benar ada nyata. Masa lalu sudah hilang menguap, masa depan belum terjadi, hanya berupa angan-angan.

Masa lalu kita simpan di otak kita, dalam sistem memori, masa depan memotivasi kita untuk melakukan segala sesuatu. Kita makan sekarang supaya nanti kenyang, kita belajar supaya nanti berhasil, kita olahraga kini supaya nanti kita sehat.

Keduanya hanya berupa gambaran dalam otak kita, tidak nyata. Di antara ketiga hal mengenai waktu, yang merupakan realitas adalah saat ini. Sehingga kita tidak dapat kembali ke masa lalu dan kita tidak bisa berjalan lebih cepat ke masa depan, dua yang lainnya adalah hal yang tidak benar nyata.

Waktu dan Uang

Peribahasa “Waktu adalah uang” mempunyai nilai falsafah yang tinggi terhadap waktu. Bahwa seperti uang, waktu akan habis.

Perbedaannya mungkin, kita tidak tahu berapa banyak waktu yang kita miliki. Sehingga ada orang yang sangat khawatir akan masa depannya, karena dia menganggap bahwa waktunya sangat sedikit, ada pula yang membuang-buang waktunya begitu saja, seakan-akan dia punya banyak sekali waktu, seakan-akan waktunya tidak akan pernah habis.

Acara Hawking

Stephen Hawking dalam ceritanya pernah mengundang penjelajah waktu dalam acara yang telah dirancangnya. Hawking memberikan undangannya setelah acara tersebut selesai.

Ternyata tidak seorang pun yang menghadiri acara tersebut. Cerita ini sedikit menggambarkan bagaimana tangguhnya waktu sehingga tidak ada yang bisa melawan arusnya untuk kembali ke belakang atau maju lebih cepat ke depan.

Ternyata waktu yang berlalu sudah hilang bagaikan uap dan masa depan yang terpikirkan sangat bisa untuk tidak menjadi realitas. Menangisi masa lalu membuat kita tawar hati, toh kita tidak akan bisa perbaiki. Berharap terlalu banyak kepada masa depan juga akan membuat kita kecewa karena tidak pasti akan terjadi. 

Menjalani hari ini, menit ini, detik ini dengan sebaik usaha kita adalah salah satu bentuk penyerahan diri sepenuhnya kepada Sang Pengatur Waktu, untuk hanyut pada aliran sungaiNya.