Semua orang ingin berkarya, tetapi mendadak berhenti membuat karya karena takut dinilai orang lain.

Seorang penulis harus berani mengambil risiko. Dihujat dan dipuji adalah bagian dari salah satu ujian bagi penulis. Lha, itu termasuk risiko kecil kenapa mesti takut berkarya. Bahkan ada juga lho penulis yang sampai kehilangan nyawa akibat dari tulisannya.

Kalau hanya atas dasar dihujat atau dihina Anda nggak jadi berkarya, berarti Anda nggak punya mental penulis. Alangkah baiknya Anda berhenti saja menulis dan buang jauh jauh cita cita jadi penulis, hehehe (beres tho....).

Mental tahan uji itu yang pertama menjadi syarat untuk jadi penulis. Tulisan bagus atau jelek itu ukurannya semu, nisbi, dan tergantung nasib karya itu sendiri. Apakah tulisan yang baik adalah karya yang pernah terbit di media? atau memenangi lomba? Catat!! itu bukan ukuran tolok ukur karya yang baik.

Banyak karya yang baik tetapi tidak pernah dimuat di media massa, dan atau memenangi sebuah lomba. Nah kalau mau bukti simak saja buku buku fiksi maupun non fiksi yang bagus dan jadi bahan diskusi bertahun tahun . Apakah ia pernah dimuat di media atau memenangi ajang lomba?

Bahkan banyak karya bagus yang lahir dari bilik penjara tanpa sekalipun terbit di media massa ataue memenangkan lomba. Anehnya buku itu masih menggema hingga kini. Misalnya, karya Hamka, Pram, dan lainnya.

Karya laksana garis nasib seseorang, yang paling memberi efek dan atau bermanfaat bagi orang lainlah yang paling  banyak dikenang di benak pembaca. Itulah yang saya maksud sebagai takdir sebuah karya. Karya yang bagus malah kadang muncul karena memberi efek kebermanfaatan pada pembacanya. Baik itu manfaat fisik atau ruhani.

Banyak karya bagus juga yang tidak populer, hitsnya sedikit dan mungkin tak banyak disinggung orang. Pembaca bisa cek nama nama sastrawan yang beken atau belum beken.

Di antara nama beken itu ada juga yang karyanya asal asalan tapi sering nongol di koran. Ada juga karya dari penulis yang belum beken, sangat bagus tetapi tak berjodoh dengan popularitas.

Dari sini bisa kita simpulkan bahwa kualitas sebuah karya itu ditentukan oleh takdirnya. Tugas penulis hanyalah menulis menulis dan menulis. Ada penulis yang sebenarnya bermutu tapi jarang terdengar ada juga penulis yang karya karyanya biasa tapi sering tampil dalam saluran yang menyediakan popularitas.

Sebenarnya kualitas itu tergantung peran dari karya itu sendiri. Apakah ia bermanfaat dan mampu mengubah keadaan. Kalau ia hanya ditulis dibaca dan dilupakan begitu saja berarti ia hanyalah karya yang biasa saja karena mungkin hanya banyak sisi menghiburnya.

Meski biasa saja, hendaknya itu tak mengubah semangat untuk menulis karena siapa tahu suatu saat karena konteks yang mendukung karya tersebut menjadi luar biasa.

Seorang sastrawan besar bahkan pernah berkata bahwa tidak ada karya yang jelek dan karya yang bagus. Sastra itu soal selera. Jika kebetulan sering dimuat di media massa, mungkin editornya satu selera. Begitu juga pembaca, ada pembaca yang ngefans penulis tertentu dan  ada juga yang tak suka penulis tertentu.

Buktinya, seperti yang sastrawan itu katakan, bahwa kadang karya yang ditolak oleh media A bisa tembus saat dikirim ke media B. Selain itu, ia menambahkan bahwa, dalam ajang lomba pun begitu, juri juga punya selera. Dan itu kita tak bisa menafikannya.

Memang dalam obrolan dengan sastrawan tersebut  saya mengambil banyak pelajaran perihal kualitas karya. Ada karya yang bagus menurut si A tetapi buruk menurut si B.

Namun, sebagaimana yang sudah sudah, bahwa tulisan bagus itu selalu menjadi bahan diskusi karena efek yang ditimbulkannya.

Dalam sastra ukuran kualitas bukan hanya keindahan tetapi apa efek yang ditimbulkan oleh karya tersebut menjadi lebih penting lagi untuk dikaji. Percuma sebuah karya tampil di media atau juara lomba jika tak mampu membuat perubahan pada diri pembacanya.

Jika Rendra menganggap sastrawan yang hanya berbagus bagus ria dengan kata itu dianggapnya penyair salon. Ungkapan itu jelas adanya. Jangan takut berkarya hanya karena penilaian sepihak dari "pakar" yang kadang tak mengerti substansi sebuah karya tulis.

Bukankah sesuatu itu dituliskan untuk menghibur dan menginspirasi orang lain. Jika unsur memberi inspirasi ini hilang hanya karena terlalu sibuk mengolah unsur teknis maka tulisan itu hanya mengalir tanpa rasa. Hilang dan terlupakan.

Berkaryalah karena masterpiece hanya akan hadir pada pribadi pribadi yang tekun dan tahan banting. Karya yang biasa kita hasilkan adalah jejak jejak kita untuk mengantar karya tersebut menuju ke takdirnya. Apakah ia akan abadi bergema atau hanya lewat begitu saja.

Lagi lagi, ketekunan berkarya serta dimbangi konsistensi akan menjadikan seseorang lebih baik pada saatnya nanti. Who knows?