Kesimpulan ini saya temukan ketika teman saya bercerita tentang kisah sukses hidupnya. Bagaimana dia mulai merintis usahanya, lika-likunya sampai pada tahapan mapan dan sukses seperti sekarang. Hal ini diperkuat dengan cerita yang saya rangkum dari orang-orang sukses yang acara wawancaranya saya ikuti secara acak dari berbagai tayangan podcast yang menjamur sejak masa pandemi ini.

Kisah kesuksesan seseorang tentu menjadi daya tarik sendiri bagi sebagian besar orang, terutama bagi yang belum merasa sukses dan puas dengan pencapaian hidupnya. Tidak terkecuali saya. Hal ini tentu akan mendorong untuk terus mencari informasi dan rahasia dapur bagaimana orang-orang itu bisa sukses dan mapan.

Dengan kecenderungan masing-masing, tentu bidang yang menjadi target tidak selalu sama. Ini menjadi hikmah tersendiri karena persaingan menjadi terbagi konsentrasinya. Ada yang minat menjadi pengusaha, profesional, pengajar, birokrat, freelancer, industri kreatif, dan segala macam yang lainnya. Dengan minat-minat itu, opsi searching informasi di google tentu akan menjadi berbeda.

Ada pergeseran yang saya temui di kalangan muda sekarang. Yang identik dengan anak milenial. Mereka tidak terpancang menjadi pegawai atau profesional yang sukses seperti kebanyakan cita-cita anak muda di era-era sebelumnya. Mereka cenderung untuk menekuni hal-hal yang menjadi kesukaan dan bakat mereka. 

Lebih jauh lagi, mereka juga cenderung untuk bebas, tidak mau masuk dalam suatu sistem tertentu yang pada akhirnya akan mengekang kreativitas mereka, membuat stress dan terkungkung dalam siklus hidup yang stagnan.

Bagi anak-anak yang sudah menemukan bakat dan keyakinan mereka akan jalan hidup yang akan ditempuh, maka itu bukan jadi soal. Tinggal tekun dan telaten tentu mereka akan sampai pada tujuan hidup mereka. 

Tentunya tidak melulu materi ya. Aspek kualitatif seperti kepuasan hidup, kebahagiaan, persaudaraan, relasi yang erat tentu juga banyak yang memilih menjadi tujuan. Namun bagi yang belum menemukan, tentu akan menjadi kegelisahan tersendiri. Mau dibawa ke mana energi, semangat, ide-ide, nafas dan hidup ini.

Sebagai jalan pintas, mungkin akan mencobanya dengan meniru apa yang orang lain lakukan untuk menjadi sukses. Mulai dari model tirakat, jenis usaha, treatment, pola hidup, keterampilan dan pengetahuan tertentu yang harus dipunyai dan segala macamnya. Ini mungkin dalam beberapa kasus berhasil untuk capaian dalam ukuran tertentu. Tetapi kalau untuk kepuasan dan keberlanjutan, saya ragu kalau cara meniru ini yang menjadi pilihan.

Supaya tidak salah paham, perlu saya tekankan bahwa meniru yang saya maksud di sini adalah adalah meniru buta. Gampangannya seperti kita ikut franchise-lah kira-kira. Semua model, ukuran, kadar, dan taste produk di-copy paste. Tidak boleh berbeda dari franchisor.

Hemat saya, tiap orang pasti punya katuranggan yang berbeda. Sejarah hidup yang berbeda yang akan sangat memengaruhi kondisi mental dan pola pikir masing-masing. Belum lagi aspek tantangan, medan, dan sepesifikasi kendaraan yang kita gunakan. Maka dari itu, meniru buta menjadi sangat tidak recommended.

Lalu bagaimana baiknya? Silakan ambil informasi sebanyak mungkin. Endapkan. Lalu tentukan pilihan yang akan anda lakukan. Takarannya tentu anda yang paling tahu. Biarlah gaya, sikap, kecerdasan dan insting anda yang berbicara. 

Orang boleh mengajari kita teknik menyetir mobil, apa itu setir, apa itu persneling, bagaimana teknik belok, putar balik, ataupun mundur. Tetapi untuk kapan mengegas, mengerem, menentukan momentum, andalah penentunya. Dan yang pasti tidak ada rumusnya.

Ini yang saya kira akan lebih manjur. Karena fase hidup seseorang tidak landai, flat, atau bahkan seperti kurva permintaan. Tetapi unpredictable. Inilah pentingnya gaya, sikap, kecerdasan dan insting yang murni dari diri pribadi yang keluar. Bukan membebek ke orang-orang sukses itu. Karena bisa jadi treatment untuk kasus yang sama hasilnya berbeda. Karena perbedaan kandungan kimiawi yang mengeluarkan.

Dalam skala makro-nasional, kasus krisis moneter yang melanda Indonesia tahun 1998 bisa menjadi contoh. Pemerintah waktu itu menggunakan resep IMF yang mungkin cespleng di negara-negara lain, namun ternyata tidak untuk Indonesia. Dalam skala mikro-lokal, mungkin kita juga tidak asing dengan percobaan Ibu-Ibu akan resep makanan. Bahan dan takaran yang sama tetapi rasa yang dihasilkan beda.

Itulang mengapa saya sangat tidak merekomendasikan meniru buta atau follower. Karena jelas itu sangat membutakan akal, pikiran, kecerdasan dan insting masing-masing. Jadikan semua orang-orang sukses itu inspirasi. Tetapi day to day gunakan kemampuan anda.

Hidup bukan barang hafalan atau contekan. Tetapi sebuah realitas yang perlu disikapi secara arif dan cerdas. Dan itu sudah anda punyai. Latih, biasakan dan nikmati itu. Sampai anda mampu mereguk nikmatnya kesuksesan, entah dalam bentuk kuantitatif atau kualitatif. Serahkan itu kepada Yang Maha Kuasa. Ranah anda tentu praktiknya bukan hasilnya.