Rindu itu berat

Lebih berat dari apa pun.

Rindu itu menyakitkan

Lebih sakit dari penyakit apa pun.


Perihal rindu

Makan pun serasa tak akan kenyang,

Mandi pun serasa badan tak basah.


Dingin terasa panas

Panas terasa dingin

Malam terasa siang

Siang terasa malam.


Perihal rindu, memang sangat menyebalkan

Lebih baik berhenti untuk merindukan

Sebab rindu itu menyakitkan.


Teruntuk Perempuan Pemuja Hujan

Sering aku mendapati dirimu

Berbasah-basah di bawah derai hujan.

Kau begitu ceria di bawah rintik-rintik hujan.


Senyummu mampu mengusir kabut tebal yang terbawa hujan

Butiran-butiran hujan yang tertempel di pipihmu

Membuat senyum manismu makin sempurna.


Kadang aku merasa iri dengan dirimu,

Perempuan pemuja hujan

Yang selalu bergembira menyambut hujan

Meskipun banyak orang membenci hujan.


Kadang aku berpikir untuk berlari menerobos rintik hujan agar bisa

Bermain di bawah derai hujan bersama dirimu.

Berlarian sambil menggenggam tanganmu

Tetapi itu tidak mungkin sebab dunia kita berbeda.


Biarlah aku cukup menikmati hujan sambil melihat dirimu

Dari balik tirai jendela kamarku.

Mungkin satu saat kita bisa bermain dan menikmati hujan bersama.


Tetapi aku tak mau berjanji padamu

Sebab aku tak mau kau terlalu berharap pada janjiku.


Puisi Malam

Malam ini,

Raga serasa lumpuh

Dibekap sang malam

Jiwa seolah-olah terpenjara dalam jeruji kecapaian.


Satu keinginan raga dan jiwa ini

Untuk terlelap dalam pelukan mesra sang dewi malam

Dan dalam belaian mimpi indah.


Tetapi imajinasi ini terus memaksa otak ini

Untuk memuntahkan aksara di atas kanfas putih

Tuk menjadi bait-bait puisi malam.


Katanya biar mereka para pecinta puisi.

Bisa tersenyum sebelum selimut tebal menutup tubuh mereka

Dan mimpi malam datang menghiasi tidur malam mereka.


Hujan Dan Sepotong Rindu

Hujan,

Malam ini kau kembali mencumbui alam ini.

Kau datang di saat yang tepat,

Di saat malam yang pekat telah menelan dan mengapus semua kisah dan kenangan hari ini.


Namun kau dan juga sang malam

Tak dapat menghapus sepotong rindu yang tertanam dalam jiwa ini.

Sepotong rindu yang tak mau beranjak pergi dari jiwa dan raga ini.


Rindu yang tak bertepi

Rindu akan dia yang telah pergi membawa sang rindu dalam dekapan hangatnya.

Hujan apakah kau juga sama seperti diriku

Yang tak sanggup menguburkan rindu ini dalam buaian mimpi indah.


Gagal 

Malam ini, malam yang bertabur sunyi.

Ingin aku mengheningkan imajinasi liarku

Dan mengurung aksara dalam buaian mimpi malam

Lalu memborgol kedua tanganku dalam dekapan selimut

Sehingga aku tak mampu menjamah huruf-huruf tuk menjadi puisi.


Tetapi, aku gagal

Sebab malam ini

Puisi-puisi itu kembali muncul mengisi ruang maya

Dan terpaksa kuberi judul pada puisi ini

Gagal.


Malam Sepi Dan Secangkir Kopi

Malam ini

Kumencoba tuk melarutkan sepi  dalam secangkir kopi hangat,

Namun apa yang terjadi

Sepi ini tak terlarut dalam pekatnya kopi.


Manisnya kopi tak mampu menawarkan sepi ini

Apakah gula dalam kopi ini tidak terlalu banyak

Sehingga tak mampu mengusir serpihan sepi dimalam ini.

Ataukah sepi ini terlalu kuat.


Ah…tak ada gunanya, apa yang aku lakukan ini

Bagaimana mungkin aku bisa menyandra sepi ini dalam secangkir kopi hangat.

Sebab sepi ini terlampau kuat

Dan secangkir kopi ini tentu tak sanggup mengusir sepi ini.


Biarkan sepi ini berlanjut, aku tidak peduli

Tetapi secangkir kopi hangat ini akan kuhabiskan

 hingga tetesan terahkir tuk menemani malam yang sepi ini.


Tentang Pergumulan

Aku bisa menutup kedua mataku agar tak mampu melihat dirimu.

Aku bisa menyumbat kedua lubang telinga agar aku tak bisa mendengar suaramu.


Aku bisa mengatup mulutku rapat-rapat agar aku tak usah menyapa dirimu.

Juga memberi senyuman untukmu.

Aku juga bisa menonaktifkan hp

untuk tidak sms, telpon, vc, wa, dan email dengan dirimu.


Semua itu bisa aku lakukan.

Tetapi, aku tidak bisa mengontrol pikiranku

Yang terus memikirkan tentang dirimu, tentang semua kisah kita.

Apakah ini yang dinamakan pergumulan itu.


Terima Kasihku

Terima kasih karena telah mengisi ruang kosong dalam hatiku.

Terima kasih karena telah hadir dalam hidupku sehingga membuat aku menjadi sosok yang berarti.


Terima kasih karena telah ada bersamaku, melalui hari-hari yang penuh kebahagiaan.

Terima kasih karena telah menerima aku apa adanya dan telah mencintai aku dengan segenap hati.


Terima kasih untukmu karena kaulah alasan kenapa aku terus bertahan dan berjuang dalam hidup ini.


GORESAN LUKA

Tanpa sebab kau pergi dari hidupku,

Tak ada janji dan harapan yang kau tinggalkan

Tuk meyakinkan diriku bahwa kau akan kembali.


Apakah diam-mu itulah sebuah tanda bahwa hubungan kita telah berakhir,

Kau pergi dari hidupku tetapi kau tinggalkan goresan luka dalam hatiku.

Luka, luka yang membuat jiwa ragaku tak mampu bertahan tuk menapaki jalan hidup ini.


Apakah kau tahu, luka yang kau tinggalkan dalam hati ini 

Membuat aku tak mampu tuk mencari hati yang lain  

Tuk memulai kisah indah yang tanpa dilaburi oleh kenangan bersamamu.


Senja Bergerimis, Sudut Gang Bias, Jogjakarta.