Apa yang terlintas dalam benak kita saat mendengar/membaca istilah residivis?

Akankah membayangkan seseorang yang berumur cukup/dewasa yang sering melakukan tindak pidana/tindak kriminal sehingga menyebabkannya mendekam di penjara beberapa kali.  Pernahkah membayangkan seseorang yang berumur di bawah 18 tahun, akan tetapi sudah menjadi seorang residivis? Ya, bagi sebagian orang tentu ini adalah hal yang mengejutkan, tetapi tak jarang kita menemui kenyataan ini.

Residivis adalah sebutan untuk penjahat kambuhan yang melakukan pengulangan tindak pidana serupa, dalam hal residivis anak, seorang anak sebagai generasi penerus bangsa seharusnya bisa menikmati kehidupan dengan penuh kebahagiaan dan canda tawa tetapi bisa menjadi pelaku kriminal patut kita perhatikan. 

Negara sudah melindungi anak dalam Undang-undang nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak menyebutkan Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

Tentu banyak faktor yang mempengaruhi perilaku anak bertindak kriminal, fenomena munculnya residivis anak tidak terlepas dari kompleksitas dinamika tumbuh kembang anak itu sendiri. 

Dari dalam diri anak sendiri, kemampuan anak untuk mengendalikan diri berkaitan erat dalam hubungan yang telah dibangun bersama orangtua. Kasih sayang, perhatian, kekerasan atau sekecil apapun perilaku dan perhatian orangtua akan memberikan dampak pada proses tumbuh kembang anak. Keluarga adalah faktor utama dalam membentuk karakter anak.

Selanjutnya pergaulan/lingkungan sekitar anak termasuk lingkungan sekolah adalah pelarian kedua bagi anak untuk mendapatkan perhatian. Ketidakpuasan anak dengan internal keluarga secara alami akan beradaptasi untuk memperoleh kepuasan dan rasa nyaman tanpa mempedulikan batasan-batasan tertentu terlepas itu baik atau buruk. 

Tidak bisa kita pungkiri dengan adanya kemajuan teknologi membuat semua orang tak terkecuali anak mampu mengakses segala informasi dengan mudah. Tetapi kondisi ini justru harus kita khawatirkan, apabila tidak bijak menyikapi hal ini maka bisa menjadi bencana. 

Ketiadaan kontrol dalam pemanfaatan kemajuan teknologi bagi anak otomatis ketiadaan penyaring informasi yang sesuai dengan kondisi anak, hal ini menyebabkan anak leluasa menerima informasi yang tidak seharusnya ia dapatkan, misalnya saja konten kriminal dan pornografi.

Fase-fase inilah proses pembentukan karakter anak di bentuk, terwujud pada pola berpikir dan bersikap dalam menghadapi segala permasalahan. Proses yang bermasalah akan mempengaruhi karakter anak, proses yang baik akan memberikan kemampuan bagi anak mampu memecahkan masalah dengan kontrol diri yang baik, begitu pula sebaliknya.

Residivis anak tidak lagi mempedulikan konsekuensi tindakan kriminal yang dilakukan, tidak memiliki rasa takut dan tidak ada penyesalan untuk bertindak sesuka hati, istilah kerennya nothing to lose. Hal ini dilakukan untuk memperolah memperoleh kepuasan semu, kepuasan sesaat dalam meraih keinginan yang dibutuhkan.

Lebih dalam lagi kita melihat apa yang mendorong anak dapat menjadi residivis, sebut saja kelabilan emosi, frustasi, rasa tidak puas bahkan iseng adalah contoh faktor pendorong dari dalam diri anak atau bisa disebut faktor internal. Kondisi keluarga, lingkungan dan ekonomi adalah faktor eksternal atau pendukung, dibalut penggunaan narkotika atau minuman beralkohol membuat semuanya berkolaborasi menjadikan residivis anak berbuat nekad ke arah menyimpang.

Beratnya Sanksi Sosial

Sanksi sosial otomatis melekat pada residivis anak. Stigma negatif terwujud dalam kekerasan verbal seperti anak nakal, mantan napi dan cap buruk lainnya. kekerasan verbal akan susah untuk diobati dan melekat pada anak sepanjang hayat hidupnya. Kondisi ini diperparah dengan residivis anak mengalami kesulitan akses dalam memenuhi hak dan kebutuhan dirinya seperti dalam hal pendidikan dan pekerjaan. 

Mengubah perilaku residivis anak bukanlah hal yang mudah, upaya untuk mengubah perilaku residivis anak bisa dimulai dari mengembalikan kepercayaan dirinya dan mengubah akhlak anak. Mencari akar permasalahan dan mengobatinya, misal apabila fungsi keluarga tidak optimal maka upaya optimalisasi fungsi keluarga adalah prioritas, membangun kehangatan dan kedekatan antara orang tua dan anak. Tujuannya adalah menciptakan rasa nyaman dan aman bagi anak. Penyaluran segala keluh kesah anak, mengetahui permasalahan anak dan memberikannya solusi.  

Selain keluarga, tentu saja perlu mengoptimalkan peran serta masyarakat, organisasi sosial dan pemerintah. Pemuka masyarakat, pemuka agama/adat, psikolog atau orang yang berkompeten dan tentu saja yang sesuai oleh anak, bukan serta merta hanya memanfaatkan orang ahli tetapi tidak bisa memberikan kenyamanan bagi si anak, lebih pada kondisi kecocokan antara anak dengan pendampingnya.

Keberadaan sarana umum sebagai wadah anak menyalurkan bakat sejak dini harus kita sediakan, hal ini untuk menutup celah potensi tindakan menyimpang yang akan dilakukan anak karena kekosongan aktivitas.

Tidak adil jika sekiranya kita menganggap peran lembaga pembinaan gagal dalam melakukan pembinaan residivis anak.  apakah 100% anak didik tersebut kembali menjadi residivis? tentu tidak. Oleh karena itu sudah selayaknya kita semua ikut prihatin dan memperhatikan permasalahan ini, untuk menekan kemunculan residivis anak perlu kerja sama yang baik dari berbagai pihak.