Aku yang hijau, rimbun, tumbuh dan mengakar bersama kawanku yang lain berjajar di antara dua pasangan itu. Selepas magrib aku menyaksikan mereka datang silih berangsur. Mereka mengadu rona senyum di sela-sela dialog yang kadang serius dan gelak canda.

Aku memergoki pembahasannya. Satu pasangan ini tidak seperti biasa. Satu pasangan ini tepat di hadapan kami, di bawah rintik hujan, diteduhi glamping kayu yang disaksikan temaram lampu bohlam.

Sungguh berbeda dengan pasangan lain. Mereka mengeja kata dan canda dengan terbata-bata.

Aku meneroka. "Apakah manusia memang begitu?"

Kawanku menyempal. "Lihat, kenapa mereka tidak bising saat bercumbu? Tak seperti satunya lagi yang mengekspresikan kebahagiaan sepenuhnya?"

Di mata lelaki itu penuh kelimpungan. Persis aku melihatnya. Perbincangan serius dan gelak canda memang ada. Namun untaiannya berjarak. Bukan, bukan, kawanku menyempal, "terbata-bata"

Sikap itu membedakan kami dengan manusia. Kami memuji dan bertasbih tiada henti. Manusia, apakah itu bentuk perasaan? Atau malah pikiran saja?

Ini sungguh beda. Tidak seperti kami yang melantunkan kalimat takzim bertasbih terhadap Ilahi Rabbi. Tanpa ragu, tanpa terbata-bata.

Begitulah kami menyemai untaian cinta kepada sang Kekasih. Oh Gusti. Kami bersyukur masih bisa menghirup udara segar ini. Udara pegunungan di waktu Maghrib.

"Hey, jangan ukur hubungan cinta kita kepada Sang Kekasih dengan manusia. Kita cinta ya cinta. Tanpa ada manipulasi di dalamnya. Beda hal dengan manusia, perhatikan saja mereka"

Kawanku menimpal. Mungkin bisa jadi benar. Aku mengalihkan kembali pandangan. Tepat di hadapannya. Mereka bercakap. Dan aku mengingat semua percakapannya.

Namun aku susah menilai, siapa yang limbung di antaranya? Lelaki? Atau perempuan? Atau keduanya. Aku—yang masih hijau, rimbun, tumbuh dan mengakar hanya menyaksikan pasangan yang getas ini. 

Bergulirnya waktu, mungkin suasana yang kaku itu, apalagi hembusan angin pegunungan, membuat mereka menggigil. Tidak seperti pasangan satunya lagi. Ada roman kehangatan. Persis aku lihat mereka beradaptasi di tengah udara yang mulai berkabut.

Pasangan yang tepat di hadapanku tidak dihangatkan oleh roman perbincangan asyik. Gelak candanya tidak murni sepenuhnya. Mereka menghangatkan dirinya masing-masing. Aku melihat ikhtiarnya.

Si lelaki terus menyulut tembakau, meminum kopi yang sudah sehangat kuku jari. Si perempuan sesekali melahap kentang goreng. Sekilas tatapan mereka linglung.

Aku bertanya-tanya. Sebetulnya apa yang terjadi? Manusia memang beda. Berdampingan tetapi belum tentu seirama. Beda halnya dengan kami. Kawanku mencicil, "kita seirama berseru tasbih kepada Kekasih. Tanpa harapan dibalas. Tanpa imbalan apapun. Bahkan tanpa konflik sekalipun"

"Bukan tanpa konflik," aku menyeka. Memang hubungan kami dengan Kekasih tanpa konflik. Harmonis. Tetapi di kedai ini, ancaman konflik dari luar terasa rawan. Ketakutan tidak teratur diurus masih menyelimuti.

Ketakutan daun-daun dirabut dari tubuh pohonku. Untung saja, meskipun kepulan asap tembakaunya membuatku terganggu dari lelaki tersebut, pasangan ini tidak merabut daun-daunku.

Lelaki yang matanya masih terlihat gugup itu, kembali mengurai kalimat yang aku tak mengerti, "kehadiranku adalah badai. Bukan angin lalu. Badai yang meluluhlantakkan ingatan masa lalumu”

Sayangnya, kami bersama para leluhur kurang memahami masa lalu yang sering diistilahkan manusia sebagai sejarah. Sekali lagi, aku susah menilai.

Meski tidak mengerti. Aku tetap mengejar pembicaraan si lelaki itu. "Badai itu hidup dalam pusaran samudera. Niscaya mengobrak-ngabrik samudera ingatanmu"

"Maka, aku ragu jika kamu enggan atas kehadiran badai itu," saat mengatakannya, mata lelaki itu kuyup. Bingung. Juga lunglai.

Entah apa yang melatarbelakanginya aku kurang paham. Sebab kami tidak mengalami perasaan itu. Kami hanya mengalami rasa mencintai dan taat saja kepada Kekasih.

Kami tidak diberkahi akal. Namun kami hidup. Kami masih bisa merasakan. Perihal cinta kepada Kekasih, kami berperasaan untuk mencintai-Nya.

Perihal mencintai juga, kami tak punya ruang tawar menawar. Yang kami alami, hanya merasakan dan memberi. Atau dalam bahasa manusia mengasihi. Kami terus memberi udara segar yang mereka isap. Meskipun mereka sering merusaknya dengan polusi.

Namun kami juga ingin dirawat. Kekasih kami merawatnya, tapi tetap saja ada yang merusak. Kami mempunyai hukum sendiri. Hukum alam. Konsekuensi lain pasti akan datang, dan pertanyaan kami, "Apakah manusia memang begitu?"

Aku mendengar lelaki itu, kalimat yang terbata-bata tadi diucapkan, rasanya kurang disenangi. Aku bisa merasakan kalimat-kalimat cinta yang itu perwujudannya baik dan enak didengar. Seperti tasbih dan kalimat Ilahi lain. Aku pun tanpa ragu mencintai Kekasih.

"Aku tak merasakan kepenuhan hatinya," kawanku menyambar.  Jangan ukur cinta dengan ukuran seenakmu. Ini tentang hal merasakan. Seperti kita. Kita tidak diberkahi akal. Tidak punya ruang kompromi. Atau fitrah menguasai. Memiliki, menganggap kekasih seperti barang kepunyaan kami.

"Kamu, dan persaksianmu keliru, lihat kawanku, aku juga bisa menyaksikan perempuan itu menanggapi dengan senyuman. Bahkan candaan yang membuat si lelaki merasa malu"

"Mereka tetap berhubungan baik, dengan perbincangan serius dan terselip gelak canda". Mungkin bisa jadi benar dan aku susah menilai.

"Benarkah?," kejarku.

Aku sudah bilang kepada kawanku. Bahwa aku pun susah menilai. Siapa yang limbung di antaranya? Lelaki? Atau perempuan? Atau keduanya?

Atau malah aku sendiri?

Sebentar, suara perempuan itu mengalihkan fokusku lagi. Ucapannya bernada mengayomi. Dia setengah dewasa. "Kita ambil jalan yang terbaik, dan aku menghargai keputusanmu"

Nadanya lembut dan meyakinkan. Apa sebetulnya yang mereka persoalkan? Aku masih belum mengerti. Dan aku belum mengalami.

"Jadi mau bahas apa sekarang?"

"Hey, malah melamun dari tadi"

"Aku tanya sekali lagi, kamu ngajak aku ke kedai ini, mau bicarain apa? Ko daritadi belum sepatah kalimat pun yang kamu ucapkan?"