Perihal mencintai dan tak terbalas tentu sangat menyakitkan hati. Tapi, apa boleh buat? Terbalas dan tak terbalas adalah satu warna dalam dua hal yang tidak terpisah.

Kisah cinta memiliki seribu "cerita", bahkan mungkin tak terhingga hitungannya. Tiada yang bisa menduga. Sama seperti aku tak bisa menduga perasaanku condong kepadamu daripada kepadanya. Dia menginginkanku, aku menginginkanmu, dan kau menginginkannya. Sungguh, kisah "tragis" nan konyol.

Ya, dalam cerita satu ini, tiada pihak yang keliru. Siapa bisa mengontrol perasaan? Barangkali ada, tapi bukan aku.

Hal-hal yang disuka pun kemungkinan juga tak selalu dimiliki (termasuk menyukai seseorang). Betul sekali, kesukaan tak lebih dari kebutuhan "kelas dua". Sedangkan apa yang benar-benar dibutuhkan baru yang disebut primer dan prioritas.

Tentu, aku hanya "barang sekunder" untuk orang yang kusukai. Namun, aku menjadi prioritas untuk orang yang menyukaiku. Sederhananya gini, coba deh chat orang yang kau sukai. Belum tentu satu atau dua jam dibalas (bahkan mirisnya centang abu-abu saja). Keadaan berbanding terbalik dengan membalas chat dari orang yang tak kau suka, sedetik langsung terbalas.

Aku dengan angkuh dan tak peduli terhadap perasaan orang-orang yang mengharapkanku, terbalas sudah oleh perlakuanmu. Aku terpukul. Tak pernah sama sekali kukira berujung seperti ini.

Kuingin kau hadir walau sejenak, pun begitu dia menginginkanku.

Aku tak pernah memikirkan seperti apa sakitnya perasaan dia atas penolakanku, sama seperti kau menolakku. Aku yang tertolak dan terasingkan, begitu juga dia. Bagaimana, konyol bukan?

Ini mirip cerita cinta segitiga. Hanya saja, biasanya dalam cinta segitiga ada satu orang yang menjadi inti cerita. Namun, cerita "segitiga" bagian ini tidak ada pemeran utama yang menjadi inti cerita. Tidak ada yang "tertangkap" dan penuh keabsurdan.

Agaknya ini yang disebut 'karma'. Tapi, mengapa aku harus peduli dengan perasaan dia? Kenapa aku harus mendapatkan karma? Bukankah perasaan tidak pernah bisa dipaksakan?

Mungkin, itu juga pertanyaan-pertanyaan yang menghantuimu ketika berusaha sekuat tenaga mengabaikanku. Karena "masa bodoh" itulah yang kulakukan saat tak menyukai orang lain.

Aku seperti ditampar bayangan dalam cermin oleh penolakanmu. Kau memperlakukanku persis sebagaimana aku memperlakukannya. Tak kusangka, aku jatuh hati kepada "pantulan" bayanganku sendiri.

Menurutku, aku berhak menyukai dan tak menyukai siapa saja di dunia ini. Ya, sebatas itu saja. Tidak sampai melukai perasaan orang lain karena ketidaksukaanku. Apalagi berkata kasar kepadanya, paling banter sebatas membatin. Dan akhirnya luka batin sendiri, hehe.

Bisa jadi dia merasa sakit hati karena penolakanku. Sama sepertiku yang (sedikit) terluka oleh penolakanmu. Bagi dia (yang kutolak), aku harus menjadi miliknya.

"Siapa kamu, berani mengatur-atur hidupku?" Batinku.

Dia yang kutolak ternyata sangat egois. Bahkan melemparkan kata-kata kasar kepadaku. Ya, gimana, perasaan tak bisa dipaksa Mas Bro.

Setelah kupikir-pikir, ternyata aku berbeda dengan dia. Meskipun senasib atau sama-sama tertolak, tapi aku tak seperti dia. Aku merelakanmu "terbang" mencari tempat singgahmu, walaupun bukan aku. Silakan!

Aku juga ditolak sama orang yang kusuka. Tapi, aku bisa menerima. Kenapa? Karena aku mencintai 'manusia'. Sebagai manusia, kita punya pikiran dan hati untuk dikendalikan sendiri. Aku bukan siapa-siapa yang berhak mengaturnya harus menyukaiku juga.

"Dia manusia, bukan benda mati. Itu artinya aku tak boleh memaksakan apa pun kepadanya."

Jadi, arti bahagia itu bukan memaksakan apa-apa kehendak diri harus terpenuhi. Untuk apa diri sendiri bahagia, kalau orang lain menderita. Bahagia ya harus dua-duanya. Inilah hikmah yang bisa kupetik dari posisi tertolak sekaligus penolak.

Aku merasa tak harus apa-apa terpenuhi. Kalau ditolak, jangan balik menyumpahi atau berkata-kata kasar. Meskipun rasanya tidak enak sekali, tapi berpikirlah logis bahwa orang itu juga punya kewenangan atas dirinya.

Juga, jangan takut ditolak. Diterima dan ditolak adalah hal biasa dalam kehidupan ini. Tak selalu harus dibesar-besarkan.

Misalnya, naskah tertolak di Qureta bukan berarti benci terhadap editornya. Artinya, banyak hal perlu diperbaiki lagi supaya layak terbit. Simpel, bukan?

Kurangnya keluwesan terhadap hidup bisa berdampak buruk. Seperti dia yang kutolak baik-baik dan malah berkata-kata tak mengenakkan hati. Kalau misalnya kubalas dengan perkataan serupa, wah bisa tambah runyam urusannya.

Dunia tersaji dalam oposisi, dan biasanya kita hanya mendapatkan salah satunya. Jika tidak diterima, ya ditolak. Tapi, ada yang bisa kita dapatkan dua-duanya, yakni siang dan malam. Itu pun tidak dirasakan secara bergantian, melainkan secara terpisah juga.

Simpulnya, jangan memaksa bagian-bagian yang sulit untuk terwujud. Karena memang begitulah adanya, tidak semua keinginan terwujud.

Nilai positifnya, orang yang disuka itu bukan yang Tuhan ciptakan untuk menemani hidup (jodoh) kita. Mungkin saja, kita harus "tersasar" dulu sebelum menemukan yang tepat.

Untuk apa? Untuk menghargai perjuangan kita sedemikian hebat untuk bertemu dengannya. Jadi, jika sudah bertemu akan tercipta perasaan luar biasa kagum terhadap perjuangan diri yang pantang menyerah. Walaupun "tertolak" sudah tiada bisa terhitung lagi. Hehe.

Dan, inilah kisah yang mengawali Januariku. Terilhami dari mimpi malam tadi. Sungguh, ini mimpi yang menegangkan.