Pada saat ini, bagi banyak orang, membaca seakan telah menjadi kebutuhan bagi kehidupan mereka. Dalam kesehariannya, mereka merasa seakan sulit untuk melepaskan diri dari kegiatan membaca ini. Baik itu membaca buku, koran, jurnal, artikel, dan pelbagai bacaan lainnya. Ini adalah contoh dari aktivitas membaca yang jamak kita ketahui.

Dan sebenarnya, jika kita hanya mengacu pada hal-hal yang lazim ini saja, maka sudah barang tentu, orang yang tak mampu melihat, mohon maaf, buta, akan dianggap sebagai pihak yang tak akan pernah bisa untuk membaca. Siapa saja akan meyakini bahwa orang yang tak mengenal huruf adalah orang yang tak akan akrab dengan bacaan.

Padahal, jika mau membawa pengertian membaca ini pada konteks yang lebih luas, sejatinya siapa saja masih berpeluang untuk membaca. Dalam ranah yang lebih luas, membaca tidak hanya berarti membaca tulisan, namun ia juga dapat berarti aktivitas membaca keadaan lingkungan, membaca tanda-tanda alam, bahkan mungkin hingga membaca karakter makhluk yang lainnya.

Dengan demikian, berarti aktivitas membaca tidak selalu melibatkan organ indrawi mata kita saja. Akan tetapi, ia juga bisa saja melibatkan elemen manusia lainnya yang tak kalah pentingnya, yakni mata batin dan pemahaman mereka.

Melalui indra mata, kita dapat menikmati berbagai panorama kehidupan, menelaah dokumentasi pengetahuan yang berbentuk karya tulis maupun karya visual lainnya. Sementara itu, melalui hati, kita akan mampu menakar apa saja, khususnya yang berkaitan dengan perilaku makhluk lainnya berdasarkan nurani kita sebagai manusia.

Tuhan telah menganugerahkan kemampuan membaca dan memahami bacaan yang berbeda-beda pada masing-masing orang. Diantaranya ada sekelompok manusia yang diberikan fadhilah, keutamaan kemampuan membaca yang luar biasa. Selain membaca, mereka pun dibekali kemampuan untuk menalar dan memahaminya. Ada juga kelompok lainnya yang kemampuan membaca dan memahami bacaannya biasa-biasa saja.

Dan berkat adanya perbedaan kemampuan macam inilah pada akhirnya manusia akan membentuk interaksi untuk saling melengkapi, saling mengajari, dan saling mendukung satu sama lain agar masing-masing kelompok dapat memberdayakan dan meningkatkan kemampuan bacaan mereka.

Setelah menyadari adanya ketimpangan kemampuan dalam hal membaca dan memahami bacaan ini, manusia juga masih akan menghadapi masalah lainnya, yakni mengenai kemampuan mereka untuk menjelaskan hasil bacaan mereka. Dalam hal ini, masing-masing orang pun tentu memiliki kemampuan yang berbeda.

Mengenai pembagian kemampuan manusia dalam menjelaskan hasil bacaan ini, umumnya manusia akan terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu: Pertama, kelompok yang mampu menjelaskan dengan baik dan nyaris sempurna. Kedua, kelompok yang kemampuan menjelaskannya biasa-biasa saja. Dan yang ketiga, diisi oleh kelompok yang memiliki kemampuan menjelaskan yang buruk.

Ciri yang dimiliki oleh kelompok yang pertama adalah mereka dapat menyampaikan gagasan-gagasannya dengan sangat baik pada orang lain. Mereka dengan mudahnya mampu memahamkan orang lain dengan argumentasinya dan segala caranya. Kemudian, kelompok berikutnya diisi oleh pihak-pihak yang kemampuan menjelaskannya semakin lama semakin menurun. Bahkan, mungkin pada titik yang terekstrem.

Kelompok yang terekstrem ini diisi oleh mereka yang pemahamannya mengenai bacaan amat kurang akan tetapi mereka dipaksa untuk menjelaskan dan mengajari pihak lainnya. Dan peluang mereka adalah, dhallu wa adhallu. Sesat dan menyesatkan. Tidak sempurnanya pemahaman yang berpotensi akan membodohkan pihak lain.

Jika saya pribadi ditanya termasuk kelompok yang mana, maka saya akan menjawab dengan ringan bahwa saya termasuk kelompok yang ketiga atau kelompok yang terekstrem pemahamannya, dan sepaket dengan kemampuan dalam menjelaskannya. Kenapa demikian? Apakah ini tidak berarti telah membuka aib sendiri?

Biarlah saya dianggap bodoh dan membuka aib diri, yang bisa jadi itulah kenyataannya. Dan saya menganggap ini adalah sebuah jawaban yang jujur dan aman. Saya mengakui bahwa saya adalah pembaca yang buruk sekaligus seorang penutur, penjelas, explainer yang payah.

Dan lantaran kepayahan itulah, maka saya tidak akan berhenti belajar, kecuali memang Tuhan yang akan memaksa saya untuk berhenti. Entah dengan cara tiba-tiba saja saya menjadi orang yang tidak waras, atau dengan terlepasnya ruh ini dari jasad sehingga tidak ada kesempatan lagi bagi saya untuk belajar, atau melalui cara-cara yang lainnya. Saya hanya manut saja, pasrah dengan kehendak Yang Maha Kuasa.

Dengan memposisikan diri sebagai penutur yang buruk, penulis yang payah, dan apa sajalah semacamnya, maka saya akan berkesempatan untuk belajar lagi. Bagi saya, tidak masalah jika akan semakin sedikit orang yang akan menggunakan jasa saya setelah mengetahui kebodohan dan kekurangan saya. Yang penting saya tidak akan kehilangan momentum untuk belajar dan mengembangkan diri.

Kegiatan belajar bagi saya adalah proses untuk mewujudkan perintah iqra', perintah membaca dari Tuhan. Sebab dengan melakukan aktivitas itu berarti kita juga telah melakukan proses pembacaan, penelaahan, penelitian terhadap apa saja yang telah Dia ciptakan di muka bumi ini.

Dan dalam setiap ciptaan-Nya itu, selalu ada tanda-tanda, dalil, bukti sahih mengenai kekuasaan-Nya, jika kita mampu untuk memahaminya. Dengan demikian, maka tugas kita hanyalah mempelajari, meneliti,  merawat dan menjaganya supaya ia tetap lestari dan produktif meskipun kita telah menggunakannya.

Dengan mewujudkan hal itu, maka akan ada kemungkinan untuk menjaga keseimbangan di alam semesta ini. Sebab upaya konsumsi dan penggunaan fasilitas dari alam yang telah kita lakukan selalu kita barengi dengan tanggung jawab untuk memperbaiki dan merawatnya.

Besar harapan mengenai hal ini akan terjadi manakala kita dan seluruh manusia lainnya dapat melakukan pembacaan secara cermat dan tepat mengenai eksistensi kita. Kita memahami dan menjalankan peran kita sebagai khalifah, duta Tuhan di muka bumi ini.

Kita memahami bahwa makhluk di bumi ini tidak hanya golongan manusia saja, bukan hanya sekelompok partai saja, apalagi hanya wilayah golongan keluarga saja. Sehingga dengan menyadari akan hal-hal demikian, kita akan memperhatikan hak-hak dari makhluk lainnya yang berasal dari luar golongan kita.

Sekali lagi, hal-hal yang seperti ini memiliki kemungkinan untuk terjadi manakala siapa saja mampu membaca dengan cermat dan tepat mengenai eksistensi mereka di muka bumi ini, sehingga mereka dapat bersikap adil dan arif atas segala pengetahuan yang dimilikinya.