Tidak ada masyarakat yang tidak memiliki budaya. Masyarakat yang tidak memiliki budaya sama halnya dengan seorang individu tanpa identitas. Tidak jelas dan temaram keberadaannya di dunia. Budaya yang membedakan suatu masyarakat dengan masyarakat lain.

Kita bisa saja mengatakan jika orang Indonesia serumpun dengan orang Malaysia, Brunei, Filipina, Madagaskar, dan bahkan penduduk asli Taiwan. Namun, faktor sejarah dan geografis menciptakan budaya yang berbeda antara masyarakat-masyarakat tersebut. Seperti halnya saudara seibu yang boleh lahir dari satu rahim, namun memiliki identitas pribadinya masing-masing bahkan yang kembar sekalipun.

Secara sederhana, budaya dapat diartikan sebagai suatu jalan kehidupan, bagaimana suatu masyarakat menjalankan kehidupannya sehari-hari. Hal tersebut tercermin dari cara berpakaian, kuliner, kepercayaan, norma sosial, pengetahuan dan lain sebagainya.

Grossman dan Na (2014) mendefinisikan budaya secara lebih rinci, yaitu “pengetahuan dan harapan bersama yang dihasilkan, disebarkan, dan diperbanyak dalam sebuah jaringan antar individual yang saling berinteraksi.”

Layaknya individu, masyarakat memiliki jiwa atau psike-nya sendiri. Jiwa dalam suatu masyarakat itu dinamakan sebagai “geist” (roh). Menurut Hegel, geist adalah penjelmaan hakikat dari kehidupan beserta sejarah manusia di dalamnya (Hegel, 1807/1977, par. 439).

Seperti halnya psike, geist tidak tampak dan sulit untuk dipahami secara langsung. Namun, kita dapat melihat penjelmaannya dalam berbagai hal seperti perjalanan sejarah hidup manusia (Hegel, 1807/1977, par. 441).

Lebih jauh lagi, Hegel percaya geist inilah yang membangun kehidupan etis dan tatanan suatu masyarakat. Singkatnya, geist melahirkan kebudayaan pada suatu masyarakat (Hegel, 1807/1977, par. 444).

Geist dalam kebudayaan terbagi menjadi dua, yakni geist yang bersifat temporal (zeitgeist, “roh waktu”) dan geist yang bersifat spasial (ortgeist, “roh tempat”). Zeitgeist terbentuk dari faktor sejarah bagaimana suatu masyarakat berkembang, sementara ortgeist terbentuk dari faktor geografis dimana masyarakat itu berkembang (Lundberg, 2001). Keberadaan kedua bentuk geist itu menunjukkan jika budaya tidak muncul secara tiba-tiba begitu saja.

Zeitgeist menunjukkan jika fenomena psikologis tidak hanya terjadi pada individu saja. Tokoh psikologi analitik, Carl Jung, menyebut fenomena ini sebagai ketidaksadaran kolektif atau collective unconsciousness (kollektives Unbewusstes). Jung menyebutkan jika ketidaksadaran kolektif adalah tempat dimana pemikiran dan ingatan manusia-manusia di masa lampau berkumpul (Jung, 1936, par. 88).

Pengalaman sejarah pendahulu kita tidak hilang begitu saja, namun akan menuju pada ketidaksadaran kolektif yang kemudian menjelma menjadi arketipe-arketipe (Jung, 1936, par. 88). Arketipe inilah yang kemudian tercermin dalam mitologi dan cerita rakyat serta simbol, konsep, pemikiran dan konten budaya baik tradisional maupun modern (Jung 1934/1954, par. 6).

Pendapat Jung mengenai ketidaksadaran kolektif pada dasarnya bertolak belakang dengan pendapat Hegel tentang geist. Bagi Hegel, geist adalah pendorong dibalik berjalannya sejarah manusia, yang berarti sejarah manusia dipengaruhi oleh geist. Sementara, Jung percaya jika yang terjadi adalah sebaliknya, bahwa pengalaman sejarah manusia lah yang menciptakan geist.

Meski keduanya sama-sama menganggap kebudayaan sebagai penjelmaan geist dalam suatu masyarakat, Jung percaya pengalaman sejarah, terutama evolusi manusia, menjadi dasar pembentuk geist dan bukan sebaliknya. Geist, yang dalam konteks ini adalah zeitgeist, adalah suatu hasil dari sejarah dan bukan yang menghasilkan sejarah itu sendiri.

Sebagai contoh, kita dapat melihat bedanya perilaku antara generasi Z dengan generasi sebelumnya. Beberapa waktu sebelum wafat, mendiang Prof. Sarlito Wirawan Sarwono, pernah menulis tentang fenomena generasi Z dalam “Generasi Merdeka”.

Jika generasi-generasi sebelumnya mengalami masa-masa seperti peperangan, industrialisasi, standarisasi dan lain-lain, generasi Z lahir dan tumbuh dalam era kepraktisan teknologi. Akibatnya, generasi ini tidak ada pola dan sukar ditebak, berbeda dengan pendahulunya.

Pengalaman sejarah generasi Z inilah yang melahirkan tradisi mereka sendiri, berbeda dengan tradisi dan nilai yang dianut orang tuanya. Zeitgeist generasi Z berjalan seiring kemajuan sosial dan pemikiran yang terjadi.

Selain zeitgeist, dikenal juga geist yang kedua, yakni ortgeist atau genius loci. Lundberg (2001) mendefinisikan ortgeist sebagai perwujudan spesifik dari zeitgeist yang terjadi di suatu tempat atau wilayah tertentu.

Seseorang atau suatu kelompok cenderung untuk memberikan makna pada tempat yang ditinggalinya. Pemaknaan inilah yang menjadikan individu atau kelompok memiliki ikatan dan kelekatan tertentu pada tempat tertentu. Konsep inilah yang disebut dalam psikologi lingkungan sebagai “sense of place” (Williams dan Stewart, 1998).

Apabila ketidaksadaran kolektif adalah perwujudan dari zeitgeist, maka sense of place adalah perwujudan dari ortgeist. Tuan (1975) melihat jika tempat adalah pusat dari makna yang dibentuk berdasarkan pengalaman. Tempat adalah suatu hal yang menetap, yang ada ketika lampau dan saat ini. Meskipun tempat adalah buatan manusia, tidak berarti manusia hanya membuatnya hanya untuk ditempati.

Selain fungsi, manusia juga akan memberikan makna atas tempat tersebut. Stedman (2003) menemukan jika keadaan lingkungan dan tempat berpengaruh kepada pembentukan sense of place yang dimiliki manusia. Hal tersebut menunjukkan jika tempat juga memotivasi manusia untuk berperilaku.

Perbedaan geografis tentu akan menghasilkan perbedaan budaya pula. Konsep penamaan arah mata angin dalam kebudayaan-kebudayaan Austronesia tidak didasari dari arah terbit-terbenam matahari, melainkan dari dikotomi darat-laut dan arah angin monsoon (Ozanne-Rivierre, 1999).

Dalam dikotomi darat-laut, arah mata angin berakar pada akar kata *Daya “daratan” dan *laSud “ke laut”, sementara sesuai arah angin monsoon, mata angin berakar pada kata *timuR “tenggara monsoon” dan *habaRat “barat laut monsoon”.

Dalam bahasa Melayu, kata “timur” adalah arah matahari terbit, sementara pada bahasa Tagalog, kata “timog” berarti selatan. Hal ini karena di Sumatera dan Semenanjung Malaya angin monsoon yang membawa musim hujan bertiup dari timur, sementara di Filipina angin itu bertiup dari selatan.

Selain itu, Ozanne-Rivierre (1999) juga menunjukkan jika dalam bahasa Melayu Kuno, kata untuk utara dan selatan awalnya adalah “laut” dan “daya” karena peradaban Melayu Kuno bermula di pesisir timur Sumatera yang berada di antara Selat Malaka di utara dan dataran tinggi di selatan.

Ketika peradaban Melayu bergeser ke Malaya, kedua kata itu diganti karena ketidaksesuaian geografis. Kata “utara” diambil dari bahasa Sansekerta, uttar, sementara “selatan” mengacu pada Selat Malaka yang ada di selatan Malaya.

Kedua geist tadi menunjukkan jika kebudayaan adalah sesuatu yang dinamis, tidak hanya dalam penjelmaannya secara fisik, namun juga dalam segi psikologisnya. Dinamika itu akan terus terjadi selama proses sejarah berjalan. Geist yang terdapat dalam kebudayaan turut dalam mempengaruhi manusia baik secara individual maupun secara kelompok.

Di sinilah kebudayaan berperan penting dalam memberikan gambaran serta ruang bagi psikolog untuk melihat individu tidak hanya secara konteks individual tapi juga sebagai bagian dari masyarakat secara luas. Budaya telah menjadi jembatan bagaimana geist kolektif dapat mempengaruhi psike individual. Hal itulah yang menyulitkan untuk melepaskan kajian budaya dari disiplin ilmu psikologi, serta untuk menjadikan psikologi sebagai suatu ilmu yang bebas budaya.***

Referensi

Grossmann, I., & Na, J. (2014). Research in culture and psychology: Past lessons and future challenges. Wiley Interdisciplinary Reviews: Cognitive Science, 5(1), 1-14.

Hegel, G.W.F. (1807/1977). Phenomenology of Spirit, terjemahan dalam Bahasa Inggris oleh A. V. Miller dan analisa dan prakata oleh J. N. Findlay. Oxford: Clarendon Press.

Jung, C. G. (1934/1954), “Archetypes of the collective unconscious”. Dalam Read, H., Fordham, M., Adler, G., & McGuire, W. (Eds.).  The Collected Works of Carl Gustav Jung, Vol. 9i, par. 1-86.

_________. (1936), “The concept of the collective unconscious”. Dalam Read, H., Fordham, M., Adler, G., & McGuire, W. (Eds.).  The Collected Works of Carl Gustav Jung, Vol. 9i, par. 87-110.

Lundberg, I. (2001). Zeitgeist, Ortgeist, and personalities in the development of Scandinavian psychology. International Journal of Psychology, 36(6), 356-362.

Ozanne-Rivierre, F. (1999). “Spatial orientation in some Austronesian languages”. Dalam Fuchs, C. & Robert, S. (Eds.). Language Diversity and Cognitive Representations, pp. 73-84. Amsterdam: John Benjamin Publishing Co.

Sarwono, S. S. (19 Oktober 2016). “Generasi Merdeka”. Qureta.com. Diakses pada 23 September 2016 [http://www.qureta.com/post/generasi-merdeka]

Stedman, R. C. (2003). Is it really just a social construction?: The contribution of the physical environment to sense of place. Society & Natural Resources, 16(8), 671-685.

Tuan, Y. F. (1975). Place: an experiential perspective. Geographical Review, 151-165.

Williams, D. R., & Stewart, S. I. (1998). Sense of place: An elusive concept that is finding a home in ecosystem management. Journal of Forestry, 96(5), 18-23.