Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), peribahasa adalah kelompok kata atau kalimat yang tetap susunannya, biasanya mengiaskan maksud tertentu (dalam peribahasa termasuk juga bidal, ungkapan, dan perumpamaan). Peribahasa adalah ungkapan atau kalimat ringkas padat, berisi perbandingan, perumpamaan, nasihat, prinsip hidup atau aturan tingkah laku.

Pada hakikatnya, peribahasa adalah cerminan perangai atau tabiat sejati dari masyarakat atau bangsa yang memilikinya. Setiap tatanan masyarakat tentu mempunyai peribahasa masing-masing yang khas. Di sisi lain, peribahasa menjadi sangat fundamental dalam konteks penelitian warisan budaya dan keterampilan pengguna bahasa dari suatu bangsa tertentu.

Peribahasa, tentu hadir dengan wajah yang implisit juga mempunyai makna yang tersirat. Lebih lanjut, peribahasa biasanya cukup tepat dan dalam untuk membuat konteks berkomunikasi dan berbahasa menjadi berkesan. Kelahiran peribahasa adalah buah hati dari benih-benih pemikiran yang terkandung dalam rahim suatu masyarakat, yang berkembang dan berproses sesuai dengan kehidupan sosiokultural-nya.

Bahkan, peribahasa telah digunakan untuk mengenal peradaban "ortodoks", menentukan nilai-nilai yang sejati, serta mencari ketetapan dalam tatacara hidup bermasyarakat.

Dalam konteks bermasyarakat, khususnya masyarakat Melayu, peribahasa setidaknya mempunyai satu tujuan utama. Pertama untuk menyembunyikan atau menutup sumpah serapah, maki-makian, misuh-misuh atau kata-kata kasar. Masyarakat Melayu masyhur dengan budaya implisit-nya (tersirat), lengkap dengan budi bahasa yang lemah lembut ketika berkomunikasi.

Oleh karena itu, masyarakat Melayu sebagai komunikator yang halus cenderung tidak mau berterus terang dalam menyatakan sesuatu, bahkan jika itu adalah kebenaran sekalipun, karena takut "melukai" perasaan komunikan dengan kasar.

Secara fungsional yang lebih luas, kegunaan peribahasa adalah untuk memberikan nasihat atau pedoman, mempercantik bahasa, memberikan kesan yang mendalam, sebagai "World View" dalam memandang keadaan, hingga menjadi tanda indentitas dan budaya.

Menurut hemat saya, kurang lebih ada sekitar enam jenis peribahasa. Pertama yaitu semboyan yang berfungsi sebagai moto, pedoman atau prinsip suatu bangsa. Sebagai contoh semboyan negara kita, yaitu "Bhineka Tunggal Ika", yang secara "etimologi" berasal dari bahasa Jawa Kuno, memiliki arti "Berbeda-beda tetapi tetap satu".

Kedua yaitu tamsil atau ibarat yang berfungsi sebagai kiasan untuk membandingkan suatu perkara, dan bertujuan untuk menjadikan maksudnya menjadi semakin nyata. Contoh dari tamsil atau ibarat ialah "Tua-tua keladi, makin tua makin menjadi". Maknanya, "ternyata orang yang semakin tua sikap dan perilakunya terkadang semakin seperti anak muda".

Ketiga yaitu perumpamaan yang berfungsi sebagai kata-kata yang mengungkapkan keadaan, kelakuan atau watak subjek (seseorang) dengan mengambil perbandingan dari sesuatu yang ada di sekitar. Contoh dari perumpamaan ialah "Bagai air di atas daun talas". Maknanya, "orang yang linglung, bimbang, bingung dan sangat mudah terombang-ambing dalam suatu keadaan".

Keempat yaitu pemeo atau bidal yang berfungsi sebagai peribahasa atau pepatah untuk meluapkan bahasa yang mengandung kritik, sindiran, peringatan, ejekan, atau satire. Contoh dari pemeo atau bidal ialah, "Undang-undang hanya berlaku untuk rakyat kecil". Maknanya, "peraturan hanya dibuat untuk rakyat bawah, golongan atas dapat terhindar dari jerat hukum, dan prinsip Imparsial (kesetaraan) tak berlaku."

Perihal bidal, sebagai pengamat filsafat, saya tentu masih ingat dengan seorang Filsuf Abad Pencerahan bernama René Descartes yang pernah berujar, " Cogito Ergo Sum (Aku berpikir, maka aku ada)", lalu kemudian lahirlah filsuf lain bernama Albert Camus dengan gebrakannya, "I Rebel Therefore I Exist (Aku berontak, maka aku ada)".

Keduanya menggunakan bidal atau pemeo sebagai bentuk kritik atas kondisi yang mereka rasakan. Secara Psikoanalisis, Descartes mengatakan hal demikian karena muak dengan Puritanisme (kerohanian kaku) di Eropa pada Zaman Kegelapan, yang terlalu mengkerdilkan akal, logika, dan rasionalitas manusia. "Cogito Ergo Sum" hadir sebagai bidal yang menampar omong kosong tentang hati, tanpa otak.

Sedangkan Camus, mengatakan hal demikian karena jengah dengan manusia-manusia yang menurutnya terlalu lemah, mudah disetir, diperbudak oleh manusia lainnya. "I Rebel Therefore I Exist" adalah bidal sekaligus bentuk kekesalannya yang menjadi api pemberontakan sosial.

Kembali pada jenis-jenis peribahasa, kelima yaitu "ungkapan" yang berfungsi sebagai kiasan tentang sifat, watak, kelakuan atau keadaan subjek (seseorang) yang dinyatakan dengan pepatah atau hanya dengan beberapa patah kata. Contoh dari ungkapan ialah, "Divide et Impera (Mengadu Domba)". Maknanya, "Memecah belah atau menghasut agar terjadi suatu perselisihan."

Keenam atau terakhir yaitu "Pepatah" yang berfungsi sebagai nasihat, ajaran dan petuah dari orang-orang tua, biasanya digunakan sebagai senjata untuk mematahkan argumentasi lawan bicara. Contoh dari pepatah ialah, "Benih yang baik tak memilih tanah". Maknanya, "orang yang memang pada dasarnya bersifat baik, akan tetap baik di manapun ia berada."

Namun dewasa ini, entah mengapa masyarakat kita menggunakan peribahasa pada saat yang tidak tepat. Dengan kata lain, gemar menganggap bahwa peribahasa adalah sama dengan kebenaran, terlepas dari apapun jenis peribahasa, dan keadaanya.

Meskipun, pada hakikatnya peribahasa tentu tidak selalu atau pasti mengandung kebenaran. Karena memang, menurut saya, peribahasa itu sifatnya tentatif, dan "Conditional" atau tergantung pada kondisi tertentu.

Misalkan peribahasa, "Diam Adalah Emas". Apakah peribahasa itu mutlak benar? Tentu tidak. Lalu apakah peribahasa itu salah? Tidak juga. Mengapa? Karena sekali lagi, sejatinya peribahasa itu sifatnya relatif tergantung kondisi atau keadaan tertentu.

Mengapa saya mengatakan bahwa peribahasa itu relatif? Sebab tidak mungkin ketika kita diminta untuk bersaksi dan memberikan keterangan, namun kita malah mengatakan bahwa "Diam adalah emas". Atau peribahasa lain, "Air beriak tanda tak dalam", dan kita mengungkapkannya kepada dosen ketika sedang ditugaskan untuk mempresentasikan hasil belajar di depan kelas.

Atau contoh lain adalah peribahasa, "Padi kian berisi kian merunduk", yang bermakna semakin tinggi ilmunya semakin rendah hatinya, dan mengandung nasihat agar tidak sombong atau selalu rendah hati.

Pertanyaan saya adalah, apakah semua orang yang tinggi ilmunya itu "pasti" rendah hati? Tidak juga. Pada kenyataannya, ada banyak sekali orang berilmu namun sombong. Lalu apakah saya mendukung orang-orang yang berilmu namun sombong? Tentu tidak.

Saya hanya ingin mengatakan sekaligus menegaskan bahwa peribahasa itu sifatnya seperti "cermin". Untuk melihat ke dalam diri, bukan ke luar diri. Maksudnya, peribahasa digunakan untuk diri kita sendiri, bukan untuk senjata yang dipakai menyerang orang lain. 

Lagipula, saya pikir sah-sah saja apabila ada seseorang yang banyak bicara, begitupula orang yang sombong, itu hak mereka. Namun sekali lagi, peribahasa nampaknya memang menjadi media paling tepat untuk mengkritik.

Apakah dirimu dapat membayangkan apabila semua orang jujur dan baik yang ada di dunia ini, berpedomankan pada falsafah "Diam adalah emas"? Tak terbayang, akan berapa banyak ketidakadilan dan kehancuran yang terjadi. Sebab kehancuran terjadi bukan karena banyaknya orang jahat, melainkan banyaknya orang baik dan jujur yang diam tidak bersuara.

Lalu apakah dirimu dapat membayangkan apabila ada suatu pemerintahan korup dan otoriter, yang seringkali melabeli orang-orang kritis di negaranya dengan peribahasa "Air beriak tanda tak dalam"?

Terlebih, jika peribahasa itu sudah disepakati secara sosial sebagai "kebenaran". Bayangkan saja, bagaimana kondisi negara itu nantinya. Dan jujur, saya tidak dapat membayangkan akan betapa hancurnya akal sehat, budaya kritis, dan skeptis karena peribahasa itu yang kadung (terlanjur) dianggap sebagai sebuah kebenaran.

Begitu pula dengan peribahasa "Padi kian berisi kian menunduk". Percayalah, bahwa Sang Padi bukan lantas menyuruh kita, untuk merunduk saja apabila sudah berilmu dan memiliki pengalaman. Dan sekali lagi, saya tidak dapat membayangkan apabila peribahasa itu menjadi patokan kebenaran.

Apa yang terjadi? Maka orang-orang bodoh dan jahat yang akan tampil "mengisi panggung". Apapun alasannya, saya rasa yang harusnya diutamakan terlebih dahulu adalah orang-orang kompeten atau berkapasitas ilmu dan pengalaman saja untuk bersuara atau mengemban jabatan tertentu agar kedepannya lebih baik.

Terakhir, semua keanekaragaman bentuk bahasa ini memiliki fungsinya masing-masing. Saya percaya, bahwa peribahasa dapat menjadi "pakem sosial" dan di sisi yang lain dapat menjadi "oli" bagi revolusi sosial. Bijaknya, kita jangan pernah menyamaratakan semuanya. 

Dan sebagai Masyarakat Timur yang berbudi bahasa baik, hendaknya kita melestarikan budaya kelembutan implisit atau tersirat. Namun jangan sampai kita terjebak dalam "Logical Fallacy (kecacatan logika)", karena salah menginterpretasikan suatu pribahasa pada momen atau keadaan yang tidak tepat.

Jadi, tetaplah bernafas dan mengeja bahasa. Jikalau kita dapat menguasai bahasa, maka kita akan menguasai dunia. Sekian, dan semoga semua makhluk berbahagia!