Sentilan atau lelucon Jokowi kepada Institut Pertanian Bogor (IPB) bahwa alumni IPB kebanyakan bekerja di bank merupakan suatu bukti bahwa kampus gagal memahamkan sinkronisasi jurusan pada dunia pekerjaan. Dosen sibuk hanya mengajarkan pengetahuan tanpa memberikan dan mendorong mahasiswa untuk bekerja sesuai dengan jurusannya.

Masalah ini hanya digubris begitu saja tanpa didalami makna dan maksud Presiden Jokowi yang mengatakan bahwa kalau alumni IPB yang bekerja di bank, siapa lagi yang menjadi petani. Selain kurangnya pemahaman sinkronisasi jurusan terhadap dunia kerja, tidak bisa dipungkiri bahwa paradigma dan pola pikir masyarakat terhadap sarjana yang bertani merupakan faktor utama kenapa jurusan pertanian tidak mau bertani. Sarjana yang bertani merupakan suatu kegagalan.

Terkhusus di budaya batak sarjana yang bertani merupakan aib yang begitu besar alias kegagalan total. Pemahaman orang tua dan masyarakat yang mengatakan, “untuk apa disekolahkan tinggi-tinggi kalau hanya untuk bertani” membangun budaya bahwa bertani itu adalah bukan pekerjaan untuk sarjana pertanian. Dengan demikian, banyak orang tua ingin anaknya bekerja di bank, di kantor, menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), kerja di hotel dan lain-lain..  

Dengan adanya pemikiran demikian, terjadilah traumatis bagi sarjana untuk tidak bertani. Budaya ini dan konsep pemikiran turun-temurun ditularkan sehingga terciptalah pemahaman bahwa sarjana yang bertani adalah kegagalan. Dalam menciptakan sarjana-sarjana pertanian yang mendalami dan menyukai jurusannya adalah pekerjaan yang harus dikerjakan oleh dosen dan perguruan tinggi untuk meyakinkan mahasiswa untuk terjun ke dunia kerja yang sesuai dengan jurusannya.

Sinkronisasi Jurusan dengan lapangan kerja harus dievaluasi oleh kampus sehingga tercipta keselaran antara jurusan yang ada dengan lapangan kerja yang ada. Memang kalau dilihat di perguruan tinggi bahwa jurusan pertanian telah banyak yang tutup karena jurusan tidak diminati oleh mahasiswa, terkhusus di perguruan tinggi swasta jurusan pertanian hampir punah karena lowongan pekerjaan untuk jurusan pertanian paling sedikit bahkan tidak ada.

Kalaupun Jokowi bilang bahwa lulusan IPB banyak yang bekerja di bank, itu wajar karena lapangan pekerjaan untuk sarjana pertanian sedikit lulusannya banyak. Kalau sudah seperti itu apakah kita harus diam dan meratapi nasib, saya pikir tidak. Untunglah perkataan itu datang dari pemerintah khususnya Presiden. Sungguh aneh tapi nyata, pemerintah juga harus bertanggung jawab dalam hal ini. Menciptakan lapangan pekerjaan kepada sarjana pertanian merupakan langkah yang wajib dilaksanakan

Bagaimana kita bisa mengembangkan dan mewujudkan sistem pangan yang kuat kalau tidak ada yang mengerjakan dan menggali potensi pertanian yang ada di Indonesia. Kekuatan pangan bisa kuat kalau Negara bisa mengelola pertanian dan kemaritiman. Dua kekuatan inilah membawa bangsa ini kepada sistem pangan yang kuat.

Mengubah pandangan bahwa Sarjana bertani bukanlah kegagalan ini penting bagi orang tua, masyarakat dan pemerintah. Komponen masyarkat ini harus memberikan pemahaman bahwa sarjana bertani merupakan pekerjaan yang mulia dan terhormat. Sehingga terciptalah pemahaman bahwa sarjana yang bertani bukan di pandang sebagai kegagalan melainkan pekerjaan yang mulia dan terhormat.

Membangun sistem pertanian modern dengan menggunakan teknologi merupakan suatu solusi untuk menarik minat para sarjana untuk mau bertani. Sistem pertanian modern akan membawa masyarakat keluar dari sistem pertanian tradisional dengan memanfaatkan sarjana pertanian hal ini bisa dikerjakan.

Program Sarjana Pertanian Masuk Desa

Dengan adanya dana desa dan pendamping desa memudahkan kita untuk membangun pertanian, karena desa identik dengan pertanian. Masyarakat yang tinggal di desa 90 persen pekerjaannya adalah bertani. Sarjana Pertanian masuk desa merupakan program untuk membuka lowongan yang besar kepada sarjana pertanian untuk mengembangkan dan mempraktikkan ilmu yang dipelajarinya di kampus.

Sarjana pertanian masuk desa adalah program yang realistis yang membawa sarjana pertanian keluar dari bank. Program ini diberikan khusus untuk jurusan pertanian supaya capain dan tupoksi tepat. Karena sarjana Pertanianlah yang tahu mengenai pertanian  karena untuk mengelola pertanian adalah kompetensi jurusan pertanian.

Biarlah yang jurusan Ekonomi yang bekerja di Bank, Guru bekerja di Sekolah yang Sains bekerja di sains. Jangan ada Jurusan Matematika ITB bekerja Sebagai Guru di Sekolah ini namanya mengganggu lahan jurusan lain. Dengan alibi saya juga bisa mengajar.

Memang benar bisa mengajar tetapi bagaimana dia bisa mengajar membuat RPP pun tidak tahu. Hanya sarjana Pendidikanlah yang mempelajari metode  mengajar dan membuat RPP serta Sarjana Pendidikan telah melakukan praktek kerja lapangan (PKL) selama 6 bulan.

Memang saat ini banyak yang tidak sesuai antara jurusan dengan Pekerjaan, Sarjana Sains ingin jadi Guru, Guru ingin Pekerjaan Sarjana Sains. Dengan adanya sentilan Pak Presiden pada saat dies natalis IPB, hal ini menjadi bahan refleksian untuk perguruan tinggi mengevaluasi sinkronisasi Jurusan terhadap dunia Pekerjaan. Kalaupun bekerja tidak pada jurusannya dianggaplah itu sebagai keahlian.

Keselarasan antara jurusan dan lapangan pekerjaan menjadi bahan evaluasi perguruan tinggi untuk menciptakan alumni-alumni yang kompeten dalam jurusannya dan menciptakan karya-karya sesuai dengan jurusan yang dimiliki. Kampus harus berbenah dan mempersiapkan alumninya agar terjadi sinkronisasi jurusan yang tepat terhadap lapangan pekerjaan.