Mati dan Lahir Berkali-kali


Pada tengah malam, pergantian hari, aku tiba-tiba ditarik dari rahim ibu;

Tanpa sempat bertanya, apalagi menolak.

Namun, jika hidup menampar pipi kiri dan kananku, aku takkan diam membisu.

Sungguh, sesuatu dalam diriku akan melawan balik, lalu menonjok hidung kehidupan sampai mimisan sembari berteriak!


Ayolah bangsat! Ayo bertarung denganku;

Lihatlah siapa yang tersisa dari pergumulan biadab ini.

Apakah aku dengan segala hasratku yang sinting, yang ada dalam diriku

Ataukah hidup dengan segala tamparannya yang brutal, yang penuh siasat, agar aku mengakhiri hidupku ini.


Oh betapa si keras kepala yang keparat ini memilih berdiri;

Bergelut dengan kemelut, takdir yang absurd.

Aku akan lahir, lalu mati, lalu lahir dan mati berkali-kali dan lahir kembali.

Dan aku akan meludahi muka kehidupan beserta takdirnya, yang sesekali membuatku bertekuk lutut.


Tapi aku adalah aku, akan tetap menjadi aku, menantang ketidak-pastian:

Aku akan memberontak, lalu membangun istana dari puing-puing waktu yang membeku.

Meski kehidupan mengisap sari-sari makna dalam hidupku;

Aku akan balik melawan, merubah setiap bencana menjadi berita kelahiranku kembali, sendiri, sendirian.


Seperti Parade


o teriak!

orang berteriak

orang-orang berteriak

teriak.

maki mencaci

mencaci maki.

tepat di belakang

tapi di depan

hanya bisa diam.

selalu begitu.

berisik sekali.

dan beriak seperti

air pertanda

tak dalam.

guncangannya

kencang sekali.

dan riuh seperti

otak pertanda

tak pernah penuh.

o lucu!

sekali.

seperti parade

orang dungu.


Hidup Hanya Melawan Kematian


Takdir melempar dirinya sendiri seperti dadu dalam permainan papan,

Lalu bersembunyi di tempat yang takkan pernah bisa ditemukan.

Waktu menggampar semua yang bernyawa dengan usia,

Sesekali menendangnya hingga tak lagi bersuara dan bercahaya, bahkan di waktu yang tak terduga.


Hidup terlampau absurd untuk menampakkan mukanya.

Manusia, mengautopsi realitas semasa hidup dengan cahaya:

Mengharap cinta, di bawah ngarai yang nirmakna, di antara tebing keberadaan dan tebing kehilangan;

Semasih kematian mengasah mata pisaunya di atas matahari yang memancarkan angkara, bersama ingatan yang memudarkan.


O apakah kematian selalu mengharu birukan pesta kelahiran utopia?

O apakah kelahiran adalah karpet paling merah untuk menyambut kematian?

Dan kematian pun tiba-tiba menertawai jarum jam beserta waktunya yang fana.

Sewaktu kelahiran, menelanjangi gairah kematian akan puncak keputusasaan.


Mungkin, hidup hanya melawan kematian.

Namun, nyatanya, kematian memang harus dilawan.

Sebab hidup, hanya berujung pada satu titik yang bernama nanti sebanyak satu kali.

Dan bukankah hasrat untuk menghidupi hidup yang telah mati, tak pernah datang sebanyak dua kali?


Bohemian


sesudah hari yang panjang,
aku butuh istirahat,
yang pendek, pendek kata,
singkatnya, hanya butuh
tempat berpulang,
merobohkan peluh
merebahkan lelah
melabuhkan payah,
setelah, pontang-panting
bergegas-gegas tancap gas,
mengarungi dunia ganas,
bajingan dan sialan, dan
aku ingin makan malam
dengan pundak, segera,
membubuhi leyeh, bersama
tanya remeh-temeh, seperti,
apakah aku bahagia, di
manakah aku mengisi
karbohidrat, kapan aku
dapat meralat lupa,
siapa, mengapa dan
bagaimana aku mampu
hidup tanpa kompas,
peta, dan hiperealitas.

Sungguh aku ingin pulang, meluangkan rehat dan mempekerjakan ranjang : 'Namun aku adalah bohemian, yang menjalang jalan sunyi dan berbeda dari para pejalan kaki.'


Hiraeth


seumpama rumah,

kau adalah rumah

kabin, di tengah hutan,

jauh dari panggung

sandiwara, nyaman, bagi

pengembara, bohemian

sepertiku, sederhana,

tepatnya sempurna, sialnya

kau telah hancur lebur,

oleh bencana waktu,

mungkin tepatnya

akibat dari kebodohanku,

yang merantau terlalu

lama, kini, aku hanya

bisa nostalgia, di

atas reruntuhan, yang

tak tersisa sedikit pun,

ah muak rasanya aku

mencari, dan mencari

rumah baru, tuk kutempati,

ingin rasanya kubangun,

sekali lagi saja, namun

itu adalah lawan kata

dari apa yang disebut

mungkin, dan mungkin,

apa yang dikatakan

orang-orang dari

Wales, itu benar, bahwa

rasa ingin pulang niscaya

datang menyerbu, kala

rumah tak dapat lagi

dikunjungi dan didatangi.


Dan aku hanya ingin berdoa, semoga saja aku tak berakhir mati tercabik dingin dan terdistorsi sepi: 'Oh Carpe Diem, aku sangat membutuhkanmu saat ini.'


Aku Pulang Seperti Orang Hilang


Aku datang, aku datang!

O seperti orang yang hilang...

Rengkuh, peluhmu telah kurengkuh ulang, dan kini, biarkan aku...

Berlabuh: menancapkan jangkarku, tepat di teluk atau pelukmu?


Selamat tinggal, selamat tinggal...

O selamat tinggal bagi semua, yang ganas;

Yang pernah kuarungi, malam-malam yang biadab seperti lautan lepas.

Sekarang aku tenang, tiada tanggal-tanggal yang mengkristal;


Bersama hari-hari yang gugur di musim semi...

Bersama minggu-minggu yang tak pernah selesai mengeja waktu...

Bersama bulan-bulan yang kosong tak terhantam bulan-bulanan fantasi...

Bersama tahun-tahun yang penuh dengan bualan-bualan harapan yang terlampau semu...


Aku di pelabuhan sekarang, tanpa masa silam;

Dan dengan hormat, aku meminta izin untuk terbenam.

O rindu yang berisik, yang tak pernah bisa diam serupa jendela di akhir musim salju.

Sedikit demi sedikit, aku coba tenangkan segala amuk bahasa yang menggerutu!


Aku pulang, aku pulang, sayang...

Aku pulang seperti orang hilang...

Maka kujejak dan kembali kujejaki setiap inci makna kepulangan ini...

Sebab, kau pun tahu bahwa sesuatu yang kembali takkan pernah pergi lagi..