Setelah sekian banyak, saya meniti dan mengalamati  kasus. Hanya Papua saja yang begitu frontal, ikonik dan amatir dalam pertikaian konflik.

Kasus Malary, Trisakti saja. Yang dijelimet sebagai peraung-raung ide, gagasan dan pemikiran publik. Semua itu tidak begitu se-entriks dan besar dengan papua.

Apalagi kasus-kasusnya sudah besar dan sudah melejit kemana-mana. Tentu itu semua ada kaitan-hubungan yang gelunduk, dan tisik dengan soal seperatis, isis, NKRI-ris, agamis, ekonomis, politis dan Pancasilais.

Contoh kasus pertama kali misalnya, di Papua yang masih konflik tentang soal-soal separatis. Yang dimana sesuatu kelompok-kelompok masyarakat ingin memenuhi hak kemerdekaan dan kedaulatan (Sovereheugnty).

Yang menurut mereka bahwa sumber kekuatan besar itu adalah kemerdekaan dan kedaulatan tertinggi bagi seluruh rakyat. Tetapi itu juga tidak di insyafi oleh negara dan kekuasaan.

Dan yang kedua, Islamic State of Iraq (ISIS). Misalnya dalam pemikiran Amerika, Fietnam, Fletilin, dan Indocina (Indonesia Peranakan Cina).

Ini, kalau kita baca riwarat, dan dasar pemikiran mereka. Tentu ingin membuat Indonesia itu akan hancur, Indonesia itu akan pencah dan Indonesia itu akan geruduk dengan Asing. 

Kita tahu. Sebagai negara yang dikenal dengan 'kampium demokrasi lebih khususnya Amerika'—, jebakan dan 'Jebssli kekuasaan' itu akan sangat mudah dilakukan oleh mereka.

Apalagi ingin menggeser, dan membuat NKRI-ris itu 'pecah.' Dan itu sangat mudah sekali bagi mereka untuk dilakukan. Selain mudah memporak-porak-randakan agama itu terpisah dengan sistem budaya kulturalis dan hegemoni politik ideologis. Dan juga bisa melumpuhkan ekonomi Indonesia sentris.

Buktinya, di 22 tahun tahun yang lalu, kemerdekaan timur leste, Amerika-serikat menjadi dalang invasi dan kerusuhan konflik di masyarakat Papua.

Pada saat itu Indonesia sedang mengalami perpecahan. Ekonomi mau dikuasai. Kelompok-kelompok separatis dipisahkan dari kekuasaan dan sistem politik Indonesia.

Hingga persoalan masuk tahapan Rezim Orde Baru. Itu sulit mengendalikan. —Sebelum Timor-timur itu terpisah dengan Indonesia.

Tetapi di tahun 1975 bahwa Amerika Serikat telah mengijinkan bahwa Indonesia akan menginvasi Timor-Timur.

Dengan maksud dan tujuan, bahwa alasan Fletilin dan kemenangan di Timor-Timur nantinya itu — bisa menguatkan dokrin Komunisme di wilayah tersebut.

Namun seusai perlawanan dan pergolakan itu. Amerika kalah melawan Vietnam. Tetapi vietnam mampu bertahan dan berpengaruh di wilayah Indocina. Patut dirayakan! 

***

Salah satu misi dan kekuatan besar, menurut mereka pada saat itu adalah— “Pengaruh wilayah komunisme di Indocina.” 

Itu tujuan mereka, yang membuat salah satu Timur Leste terpisah. Dan merayakan sejumlah para pemimpin asing dalam usai perlawanan, pergolakan, dan pertikaian masa. 

Termasuk perdana menteri Australia, Scot Marisson, kelompok utamanya.  Yang juga ikut terlibat — memeriahkan mereka dan merayakan secara bersama-sama seusai pergolakan itu berdarah. 

Selain itu, Presiden Soeharto juga mengutuk keras. Bahwa konflik dan pertikaian Timor-timur 'berdarah.' Itu tidak bisa di intervensi oleh Asing.

Sebab selepas itu. Mereka tidak segan-segan menguasai sumber pendapatan dan penghasilan kekayaan alam Indonesia (SDM). Termasuk Preefort di daerah dataran tinggi Tembagapura, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua. Itu yang menjadi target utama mereka. Itu menurut Soeharto.

Tetapi selanjutnya di tahun 1965 misalnya. Luka trauma dan kolektif masyarakat Papua terus, akan dan masih saja terjadi. 

Selain daripada soal kekerasan negara dan juga pelanggaran HAM. Masih tergores dalam sistem pendidikan, kesehatan dan ekonomi.

Permasalah ini, tentunya bemula pada tahun 1975. Sebelum Indonesia terpisah dari invasi militer. 

Namun sebelum itu bentrokan semakin panas, konflik semakin parah. Hingga kesenjangan tak makin usai. Bahkan pula ribuan nyawa masyarakat Papua terikut juga 'merenggut.' 

Yang pada akhirnya 30 agustus tahun 1999 Timur Leste 'berhasil' menggelar referendum untuk memisahkan diri dari Indonesia.

Tak sampai disitu. Peristiwa ini terus bergejola dan berdarah lagi. Hingga sampai pada 22 tahun yang lalu, seusai terpisah. Timor-Timur mendapat perlakuan sebagai negara 'independen.' dari negara-negara asing tersebut. 

Tetapi pada tahun 1999. Persoalan hak dan keadilan masyarakat Papua masih diperlakukan oleh rezim Orde baru sebagai bangsa yang tidak pernah mendapatkan—akan pendidikan, kesehatan dan perekonomian.

***

Melihat kejadian ini Hillary Clinton angkat bicara mengenai hak dan kondisi konflik di Papua. Di samping soal pendidikan, kesehatan dan perekonomian tadi yang menjadi kendanya. 

Dan ia menyerukan bahwa permasalahan itu mengharuskan, “adanya dialog untuk memenuhi aspirasi rakyat di konflik tersebut”, AFP (/11/2011). 

***

Namun, terkait intervensi dan campur tangan asing terhadap persoalan ini. Juru bicara HTI mengutuk keras segala bentuk separatisme dan gejola konflik yang menuai pemisahan Papua dari Indonesia itu. 

Muhammad Ismail Yusanto, mengatakan, “ada dua elemen yang membuat Papua untuk berpisah dari negara NKRI.”

Yang pertama adalah —adanya upaya yang dikrontrofasi oleh Tentara Pembebasan Nasional. Atau biasa dikenal Organisasi Papua Merdeka (TPN/OPN), yang aliansi dari diplomatik "organisasi luar". Itu satu. 

Dan yang kedua, adanya upaya atau dorongan luar terhadap pergerakan International Lawyer for West Papua (ILWP) dan International Parlement for West Papua (IPWP).

Dari kedua elemen itu.  Menurut Ismail Yusanto, bahwa misi mereka adalah —Bagaimana kemudian situasi politik dan konflik permasalahan Papua ini bisa melakukan referendum. Baik melalui seminar, konferensi maupun rapat secara Internasional. 

Seperti yang kita tahu selama ini. Pertemuan, rapat dari ILWP/IPWP atau Organisasi yang bermarkas di Eropa (Inggris) yang dipelopori oleh Bini Wenda ini misalnya, menggaung wacana dan narasi asing untuk dikemaskan pada penggulingan isu International.

Dengan tujuan dan misi mereka adalah mendorong PBB mengadakan "Konferensi International."