Advocate Assistant
1 tahun lalu · 1368 view · 4 menit baca · Agama 51089_36677.jpg
www.ngopibareng.id

Pergulatan antara Agama dan Budaya dalam Puisi Ibu Indonesia

Hari ini saya banyak membaca beberapa kiriman di dinding Facebook dan tweet di Twitter yang mengkritik, memprotes, mencibir bahkan mancaci sebuah karya yang dianggap kontroversial tersebut.

Sudah banyak ustaz yang mengeluarkan tanggapan melalui video dan tulisan, sudah ada beberapa politisi yang memberikan komentar seputar puisi tersebut bahkan melaporkannya ke polisi, lalu saya menambah deretan mahasiswa yang ikut menuaikan komentar.

Puisi sebagai karya kebebasan berekspresi dan berpendapat

Puisi merupakan suatu karya sastra yang lahir dari hasil perenungan akibat dari akumulasi pengalaman dan emosi seseorang. Sebagai karya sastra, menurut saya puisi dari Ibu Sukmawati Soekarnoputri biasa saja sebenarnya.

Saya cukup mengapresiasi seorang nenek dan sekaligus anak presiden pertama Indonesia tersebut karena masih punya jiwa kesusastraan dan menuangkannya dalam bentuk karya. Namun melalui tulisan ini, saya ingin belajar untuk mengevaluasi konten karyanya.

Setiap karya tentu punya penikmat dan pengkritik, ada yang menyukai dan ada yang tidak menyukai. Saya sepakat dengan pernyataan Pak SBY waktu masih menjabat sebagai RI 1, tidak mungkin keputusan yang kita ambil dapat menyenangkan seluruh orang, namun juga tidak mungkin keputusan itu dibenci seluruh orang dan Ibu Sukmawati membuktikan hal itu. Keputusannya untuk membuat puisi lalu membacakannya di depan publik tentu mempunyai konsekuensi logis, yaitu ragam interpretasi.

Suatu karya sastra/seni apabila telah diperuntukkan kepada umum berarti karya tersebut bukan lagi milik pribadi melainkan milik every body (publik). Kemerdekaan seseorang untuk berekspresi sangat dijamin secara mendasar terlebih setelah dilegitimasi melalui Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) 1948, karya sastra/seni lahir dari kemerdekaan interpretasi yang dituangkan dalam bentuk ekspresi.

Begitu pun dengan publik, kemerdekaan interpretasi atau bebas menafsir suatu karya yang diekspresikan adalah hak kita sebagai khalayak. Interpretasi tentu sangat dipengaruhi oleh latar belakang yang menjadi variabel. Variabel yang sangat mempengaruhi adalah wawasan, referensi, kultur, agama dan kebiasaan-kebiasaan lainnya. Perbedaan pandangan tentu menjadi hal yang sunnatullah karena tidak semua orang mempunyai wawasan, referensi, kultur dan agama yang sama.

Ibu Sukmawati melalui tanggapannya, ia mengatakan bahwa konten karya tersebut adalah realita tentang Indonesia yang diselami dari rakyat di beberapa daerah. Saya sepakat dengan pernyataan tersebut, karya sastra/seni adalah realitas yang ditransformasikan dalam bentuk ekspresi.

Sekali lagi, sebagai tuangan karya dalam bentuk ekspresi itu tidak masalah namun akan menjadi masalah apabila dipermasalahkan. Puisi tersebut telah tersebar dalam ranah umum dan tentu seseorang atau kelompok berhak mempermasalahkan. Dari ragam komentar yang saya baca, rata-rata mempermasalahkan perbandingannya yang dinilai mendiskreditkan agama Islam. Sejujurnya saya tidak begitu paham mengenai apa sebenarnya yang ingin disampaikan melalui puisi tersebut.

Ibu Sukmawati sebagai Budayawati: Klaim dan legitimasi

Budayawati merupakan seseorang yang bergelut dalam ranah kebudayaan, kalau laki-laki disebut Budayawan. Ibu Sukmawati mengatakan bahwa dirinya adalah Budayawati yang menyelami bagaimana pikiran dari rakyat di beberapa daerah yang memang tidak mengerti syariat Islam seperti di Indonesia Timur, di Bali dan daerah lain.

Nampaknya Ibu Sukmawati sedang berupaya berlindung di balik legitimasi sebagai Budayawati dan melakukan klaim terhadap kawasan dan daerah yang dianggap tidak mengerti syariat Islam. Mengapa memilih kawasan Indonesia Timur dan Bali sebagai sampel? apakah kawasan dan daerah tersebut adalah representasi dari pupolasi yang tidak paham syariat Islam? atau merepresntasi non-muslim? Ibu Sukma tentu lebih paham.

Seluruh daerah di Indonesia tentu ada yang tidak paham dengan syariat Islam karena orang Islam sendiri pun belum tentu paham syariat Islam. Masyarakat non-Muslim tidak punya kewajiban untuk memahami syariat Islam namun tidak tertutup ruang untuk mempelajarinya. 

Jika kawasan Indonesia timur dan Balo dianggap sebagai representasi non-Muslim, maka untuk apa menyebutnya dalam pernyataan klarifikasi sementara non-Muslim memang tidak berkewajiban untuk tahu syariat? Jika untuk merepresentasi orang Islam yang tidak paham syariat Islam, mengapa memilih menyebut Indonesia Timur dan Bali?

Budayawati serasa tidak elok disematkan untuk melegitimasi pernyataan dan lontaran ekspresi Ibu Sukmawati Soekarno Putri karena gagal membaca dan mencerna nilai-nilai budaya dan kearifan dalam Indonesia sebagai bangsa. 

Soekarno pernah menulis Islam Sontoloyo (1940) untuk mengkritik orang Islam yang lebih banyak terfokus pada hal yang tidak substansial. Apakah Soekarno tidak keberatan jika istilah itu disematkan kepada putrinya? Semoga tidak keberatan.

Perang Identitas: Pergulatan Budaya dan Agama dalam Puisi

Dalam puisi yang berjudul Ibu Indonesia tersebut, sangat lugas dipertontonkan polarisasi dan dikotomi antara yang dianggap identitas budaya lokal dengan identitas agama. Soal kriteria konten dalam puisi tersebut, itu termasuk dalam kategori negara terbelah yang gagal melakukan pergeseran peradaban karena gagap dan gugup dalam upaya re-definisi identitas sebagaimana yang dikatakan Samuel P. Huntington dalam karya populernya The Clash of Civilization and The Remaking of World Order.

Namun dalam konteks ke-Indonesia-an tidak perlu melakukan upaya re-definisi karena sebagai bangsa kita telah sepakat untuk memelihara keindahan perbedaan dalam balutan bhinneka tunggal ika. Tidak perlu ada upaya dominasi antar kultur ataupun agama karena justru hal tersebut yang dapat membawa Indonesia menjadi negara gagal (bukan di 2030).

Ibu Sukmawati terlalu berlebihan apabila dipandang dalam wilayah kontennya. Seolah-olah menghadirkan puisi sebagai ring untuk mempertarungkan antara simbol budaya lokal dengan agama. Dimensi agama sebagai aqidah tentu tidak layak dipertentangkan dengan budaya sebagai identitas, namun dalam hal ini kedua unsur primordial tersebut seolah dibuat saling mendominasi.

Jika ingin lebih radikal, Ibu Indonesia itu seperti sebenarnya? adakah identitas yang betul-betul murni untuk mencerminkan sosok Ibu Indonesia? Apakah untuk menjadi Ibu Indonesia harus mengesampingkan atau bahkan tidak beragama Islam atau tidak memiliki agama selain animisme dan dinamisme? Dari hal tersebut tentu tidak fair membandingkan atau bahkan mempertentangkan budaya dengan agama.

Ini seperti sengaja untuk membenturkan dimensi kesadaran manusia dalam konteks agama dan budaya. Dalam buku Perang Budaya oleh Ayatullah Imam Ali Khamenei mengatakan bahwa perang yang justru berbahaya adalah perang dalam dimensi software/non-fisik karena yang diserang adalah mental, kesadaran dan ingatan manusia dan akan mempengaruhi tonggak peradaban. Jadi sangat berbahaya apabila dalam bangsa terjadi dikotomi antara agama dan budaya lokal.

Bangsa Indonesia berterima kasih pada Bung karno karena telah membentuk kerangka Nation State dan membangun perspektif persatuan kebangsaan yang awalnya sukuistik. Perdebatan soal SARA telah selesai 72 tahun yang lalu tinggal bagaimana kita merawat keragaman yang ada. Maka kita akan heran jika spirit yang telah dibangun oleh seorang ayah diingkari dan dinodai oleh seorang anak.

Artikel Terkait