Penyesalan membawa pikirannya tidak bekerja normal. Peristiwa malam itu benar-benar di luar nalarnya lantaran dikuasai ledakan nafsu yang membuncah dalam kepalanya.

Berselang tiga malam sejak kejadian itu, terjadi begitu singkat. Ada renungan sesal sekaligus menghujat dirinya sendiri seusai menanam benih di rahim tetangga. Ya, perempuan itu bernama Ilma.

Malam itu dalam kamarnya, Ali tampak termangu di samping lemari kayu sambil menyandarkan tubuh. Ia masih memegang kepala sembari enggan percaya jika demikian itu benar-benar terjadi.

Gemuruh protes dilayangkan untuk dirinya sendiri, persetubuhan itu telah merampas segalanya. Ia telah terjebak oleh kenikmatan singkat, yang pada akhirnya mengharuskan menebus dosa.

Serasa tak mampu membendung sedih tatkala membayangkan hidupnya, cemas bercampur takut jika kelakuan bejatnya itu terbongkar, tetapi itu pasti terjadi cepat atau lambat. Ia tidak ingin dihukum akibat perbuatannya yang melanggar norma.

Kejadian itu benar-benar telah membuatnya gila, Ali menghujat dirinya di hadapan cermin yang berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya. Tidak habis pikir jika akhirnya termakan bujuk rayu perempuan itu di sebuah gubuk tua pinggiran sawah.

Tepat jam dua waktu pagi, ia mencoba melangitkan pandangan, berupaya mencari keterangan pada keheningan malam.

Di sisi ranjangnya ia masih memikirkan nasibnya sendiri. Perlahan, ide gila muncul secara tiba-tiba. Dia bertekad meninggalkan rumah menjauhi kampung agar tidak menanggung malu dan dicemooh.

Meski berat, Ali diam-diam telah bertekad untuk pergi tanpa meminta pamit atau meninggalkan pesan pada siapa pun, termasuk ibu-bapaknya yang tengah pulas tertidur malam itu.

Dengan sepeda motor tua, kini dia melesat meninggalkan rumah pada jam 3 dini hari. Suana gelap terbelah oleh cahaya lampu redup kendaraannya hingga tiba di batas desa. Lambat laun, kecepatannya makin meninggi kala memasuki  jalan beraspal, demikian pula rambut kepalanya teracak-acak oleh hembusan angin ketika spidometer motor tua itu menunjuk gigi empat.

1 jam lewat 30 menit, Aras memacu kendaraan, tanpa terasa kini dia telah memasuki kawasan Malino, Kabupaten Gowa.

Jarak pandangnya mulai pendek, udara bertambah dingin, mulutnya mengeluarkan asap seperti orang merokok akibat dingin yang menusuk-nusuk menjelang subuh.

Kota wisata itu masih lengang di Jam 4 pagi. warung-warung pinggir jalan masih tersegel, hanya lampu teras yang terlihat meredup saat melintas di daerah itu.

Perjalanannya menuju Makassar, beberapa kali harus dibuntuti oleh mobil pengangkut sayuran yang beriringan cepat. Seolah menjelma kutukan untuk segera menyenggol dirinya agar terlempar ke pinggiran jalan. 

Ali sama sekali tidak akrab dengan suasana kota, hanyalah ketakutan besar menyarung di kepalanya untuk segera pergi dari ancaman keluarga Ilma yang mungkin saja berbuat nekat padanya.

Layaknya seorang yang pergi membuang diri, makin dalam Ali menyusuri dalamnya langkah, makin ia merasa terbebas dari bayang-bayang cemas yang sedari tadi mengaduk perasaannya.

Dengan memakai Google maps sebagai penunjuk arah, ia yakin bisa sampai di kota Palu, Sulawesi Tengah sebagai tujuan akhir perjalanan. 

Di sana, Aras berniat memulai kehidupan dan berupaya melupakan segalanya. Keinginannya untuk segera pulang ke kampung halaman masih belum ada niat dalam waktu singkat.

Dia ingin membunuh masa kelam dengan caranya sendiri. Tinggal di kampung sudah tak lagi aman baginya, sebab telah ternoda oleh perilakunya terhadap perempuan itu.

Dahulu, ia tidak pernah sepakat jika orang-orang pergi meninggalkan kampung meski dengan alasan mencari uang. Menurutnya, di mana pun jika kita bekerja keras disertai doa pasti membuahkan hasil, sedikit banyaknya perlu disyukuri pemberian tuhan.

Diam-diam, Ali termakan ucapannya sendiri. Dan Bahkan lebih buruk dari alasan mereka, lantaran pergi bak seorang bajingan yang penuh dosa, ia lari dari tanggung jawab setelah menanam janin di rahim tetangga.

Setibanya di Kota Makassar, matanya lagi-lagi memandangi kesibukan sekitar, tetapi Aras tidak benar-benar memperhatikan, dadanya sesak lantaran mengingat gelombang hidup yang sedang terjadi padanya.

Meski banyak saudara ayahnya di kota itu, tetapi ia tidak ingin ketahuan jika kabur dari rumah. Apa jadinya jika keberadaannya sampai ketahuan tantenya, pokoknya tidak. Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

Kini, ia bermaksud menyambangi sebuah toko. Di sana, ia bermaksud melepas motor kesayangannya itu demi  modal keberangkatan ke kota Palu. Ia terpaksa melakukan itu demi modal selama perjalanan.

Selepas transaksi berhasil, ia kemudian menuju terminal bus Damri dengan menyewa angkot.

Setibanya di sana, ia bertemu seorang lelaki. Sekilas lelaki itu terlihat menyeramkan namun siapa sangka pribadinya ternyata baik. Mereka mengobrol banyak hal namun Ali tidak sampai memberi tahu alasannya minggat dari rumah. Mereka hanya berbincang seputar keadaan terminal.

Sejurus kemudian, Ali berjalan bersama lelaki itu untuk menukar beberapa lembar uang pada penyedia tiket.

Setelah selesai dan tiket ada di tangan, mereka lalu disarankan menuju ruang tunggu pada petugas terminal. Sebab, Ali dan lelaki yang baru dikenalnya itu akan berangkat bersamaan pada sore hari nanti.