Malam itu begitu riuh dan sangat ramai. Lampu sorot bercahaya menyinari seluruh penjuru ruangan. Dengan diiringi lantunan instrumen yang syahdu membuat siapa pun yang lewat di lokasi itu tentunya pasti tahu ada sebuah hajatan besar di sini.

Tidak lama, dari arah gerbang pintu masuk terdengar suara teriakan seorang perempuan paruh baya dengan bercucuran air mata dan rambut acak-acakan, terkesan seperti seorang yang sedang mengalami depresi berat.

“Aku tidak sudi anakku menikah dengan dia, sampai mati restuku tidak akan pernah aku berikan. Aku tidak ingin memiliki seorang menantu yang pengangguran dan suka mabuk-mabukan.” Kata-kata itu keluar dari mulut perempuan itu dengan diiringi sumpah serapah yang tidak pantas.

Sontak suasana yang tadinya penuh kegembiraan berubah menjadi suasana yang suram dan penuh ketegangan. Beberapa orang berupaya menenangkan sambil memegang tangan perempuan yang setengah mengamuk itu. Perempuan paruh baya itu ternyata menerobos masuk datang ke acara perhelatan hajatan pernikahan anaknya, yang tidak direstuinya.

Itulah yang saya saksikan 27 tahun lalu, waktu saya masih duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar. Tontonan itu begitu membekas dalam ingatan saya, sehingga muncul perasaan takut dan bingung. Sebenarnya apa yang terjadi pada orang-orang dewasa ini.

Sejauh pemahaman yang saya ketahui saat itu, anaknya memilih kawin lari karena tidak mendapatkan restu dari keluarganya. Pilihan sikap seperti ini adalah hal yang wajar dilakukan oleh kebanyakan pasangan muda di Lombok.

Parahnya, hal ini tidak hanya ditempuh oleh sebagian mereka yang tidak mendapatkan restu keluarga. Banyak di antara mereka juga mengambil langkah kawin lari karena merasa belum siap untuk menyampaikan keinginannya kepada orang tua untuk menikah.

Budaya kawin lari pada masyarakat Lombok suku sasak sudah berlangsung turun-temurun. Masyarakat adat Sasak meyakini bahwa tradisi kawin lari ini berawal dari sebuah cerita mitos yang mengatakan bahwa pada zaman dulu di Lombok ada seorang raja yang mempunyai seorang putri yang sangat cantik. 

Saking cantiknya, semua pria suka padanya dan berlomba-lomba untuk melamarnya. Maka sang Raja lalu mendirikan sebuah kamar dengan sistem penjagaan yang sangat ketat untuk putrinya.

Kemudian Raja memberi tantangan, "Barangsiapa berhasil menculik putriku, akan kunikahkan dia dengan putriku." Dari situ, pria-pria Lombok memiliki kebanggaan jika berhasil membawa lari wanita yang dicintainya.

***

Jadi saya melihat bahwa budaya kawin lari pada masyarakat suku Sasak saat ini sudah mengalami pergeseran pemaknaan atas tradisi. Jika dahulu kawin lari dilakukan untuk menunjukkan kehebatan seorang laki-laki dengan cara melarikan gadis yang disukainya, sekarang tidak demikian.

Dalam beberapa kasus, budaya kawin lari ini justru digunakan sebagai jubah untuk berlindung bagi mereka yang secara psikis belum memiliki keberanian untuk menyampaikan keinginannya untuk menikah, bahkan bagi mereka yang tidak mendapat restu orang tua.

Kelemahannya adalah budaya kawin lari masyarakat Lombok sering membuat para orang tua cenderung tidak bisa berbuat banyak apabila anak-anak mereka sudah memilih kawin lari. Hal ini karena komunikasi antara orang tua dan anak akan sulit dilakukan untuk mempengaruhi keputusan. 

Negosiasi yang dilakukan sudah antarkeluarga besar dan tokoh masyarakat. Sehingga orang tua kerap kali dengan berat hati menerima segala keputusan, meskipun dalam hati tidak mengizinkan.

Pilihan untuk melakukan kawin lari ini merupakan pintu utama bagi mereka yang tidak mendapatkan restu dari keluarga, khususnya orang tua. Kondisi ini membuat sebagian orang tua cenderung kaget bahkan jantungan ketika mendapatkan kabar bahwa anak gadis mereka dibawa lari oleh si fulan. Bahkan pihak keluarga laki-laki juga tidak kalah kagetnya jika mengetahui anak laki-laki mereka membawa kabur anak perempuan orang.

Desakan seperti ini tidak akan menjadi masalah bagi orang tua yang berangkat dari ekonomi menengah ke atas, atau yang memiliki simpanan tabungan di rekening. Akan tetapi menjadi masalah bagi mereka yang hidup pas-pasan tanpa tabungan. Para orang tua dengan kategori nomor dua ini hanya memiliki dua pilihan.

Pertama adalah mau tidak mau harus mendukung dan memfasilitasi anak-anak mereka untuk melangsungkan pernikahan dengan mengupayakan biaya bagaimana pun caranya. Entah dengan menjual tanah, sawah yang mereka miliki, bahkan tidak sedikit akan mencari pinjaman pada tetangga kiri-kanan atau kerabat terdekat.

Kedua, orang tua harus menanggung malu jika membatalkan rencana pernikahan. Bagi pihak keluarga laki-laki karena sudah telanjur membawa lari anak perempuan orang atau sebaliknya. Jadi kondisi ini sebenarnya merupakan sebuah desakan bagi kedua belah pihak keluarga besar.

Apabila laki-laki yang membawa lari pasangannya sudah memiliki pekerjaan dan punya tabungan, mungkin akan bisa sedikit membantu meringankan beban biaya pernikahan yang akan dihelat. Akan tetapi jika tidak, maka seluruh biaya akan dibebankan kepada orang tua.

Jadi menikah tanpa direstui orang tua? Tidak akan menjadi masalah untuk masyarakat Lombok. Toh, dengan mengajak perempuan yang mereka cintai kawin lari, masalah akan bisa terselesaikan atas bantuan tokoh adat. Terkait konflik antarorang tua dan anak, lambat laun akan memudar seiring berakhirnya sinetron Kun Anta kesukaan anak saya.