Punya apa kamu mau mengajakku jalan? Pertanyaan demikian selalu dilontarkan kepada setiap cowok yang berkeinginan mengajak jalan Na.

Beradu kepunyaan harus dilakukan oleh cowok-cowok yang bersaing mengajak kencan. Apa pun harus dikeluarkan, lebih tepatnya dipamerkan kepada Na, agar kencan berhasil dimenangkan. Mulai dari motor Ninja, uang ratusan ribu, meski dari hasil hutang, atau motor orang tua.

Entah kenapa, padahal Na tidak begitu cantik. Bukan kecantikan tepatnya yang membuat para cowok berusaha mengajak kencan Na. Kalian pasti tahu imbalan apa yang diberikan Na. terserah apa yang ada di pikiran kalian, jorok atau bersih. Yang pasti, kalian bisa menimbang, antara materi yang dijanjikan dan imbalan yang diberikan.

"Betapa nikmatnya malam ini. Tidak masalah uang yang aku keluarkan" gumam Bambang. Sambil berbaring di atas kasur, mengistirahatkan badan akibat jalanjalan semalaman. Yakin cuma jalanjalan? Bukan karena berhenti di tengah perjalanan dan melakukan permainan mengasyikkan dan menyenangkan serta memuaskan? Mengharuskan keluar tenaga dan cairan.

Setiap malam hari aku bisa mengajak kencan Na, dan aku akan terus mendapatkan kepuasan seperti malam ini. Lagilagi kebingungan menggelayuti pikiran Bambang.

"LApa saja akan aku lakukan, kepuasaan dan kenikmatanku adalah paling utama, sedang uang dan kendaraan hanya perantara yang bisa aku dapatkan dari mana saja." Dilawannya kebingungan yang bersarang di pikirannya.

Kamu malam nanti keluar sama siapa? Tanya Na kepada temanteman satu pergaulannya. Belum tahu, nunggu cowokcowok datang dan membawa kemewahan dan kekayaan. Jawab serentak.

Bangunan pendidikan yang seharusnya mendidik anak didik, dirubah oleh Na dan teman-temannya. Menjadi tempat nongkrong, bermain hp, ngobrolin pengalaman malam hari, aktivitas setiap hari, kencan.

"Na, keluar yuk, aku lagi banyak masalah di rumah, malas pulang."

"Oke, tapi nanti malam kamu harus antar aku pulang. Meski aku siap menjadi teman kencanmu, aku juga harus menjaga rahasia dari orang tuaku, aku harus tetap terlihat sebagai anak baikbaik di hadapan orang tua, dengan cara tetap pulang sebelum jam 10. Selain itu, apa yang sudah kamu siapkan?"

"Tenang saja, mana berani aku mengajakmu keluar kalau aku belum membawa mobil dan uang ratusan ribu. Meski bukan punyaku sendiri." Ari membusungkan dada di hadapan Na.

"Ah, aku tidak peduli dari mana kamu mendapatkan semua itu" acuh Na menjawab.

"Sabar dong, jangan asal serobot aja. Kita mainkan dengan pelan ya. Kata Na."

"Aku sudah tidak tahan, masalahku sudah begitu membebani hidupku. Aku ingin segera melupakannya." Ari memelas.

"Kamu cerita dulu saja masalah yang kamu tanggung, barangkali aku bisa ikut kasih solusi, selain masalahmu bisa kamu lupakan dengan kita bermain."

"Begini Na, orang tuaku selalu memarahi aku, suruh jadi anak yang beginilah-begitulah, pokok harus terlihat baik. Sedang aku tidak pernah menyukainya." Lancar Ari mengungkap beban hidupnnya.

"Lebih baik kamu turuti kemauan orang tuamu, mungkin kamu tidak menyukainya, tapi bisa jadi itu yang lebih baik buat kamu, buat masa depan kamu" nasihat Na begitu deras keluar.

Relung hati terdalam berkelahi. “Aku sendiri belum bisa memenuhi kemauan orang tua, tetapi dengan lancar aku menasehati orang lain.

Terpenting, aku masih punya hati untuk tidak menyakiti hati orang tua lebih dalam dan kejam. Beberapa perintah masih bisa aku laksanakan, seperti tidak pulang malam. Aku masih menghargai mereka sebagai orang tua dan aku masih takut karma.

Kencan dengan berbagai cowok hanyalah salah satu kebaikan, benarkah kebaikan? Ditimbang dari mana? Apa karena Na dengan pergi kencan bisa menolong atau sedikit mengurangi beban cowok yang mengajaknya? Bisa jadi. Terserah kamu mau menimbang dari mana. Dilihat dari agama apa masih ada kebaikan? Cari sendiri jawabannya.

Berkumpul dengan anak Punk adalah kebiasaan lain Na, menemani mereka minum, menghirup sabu-sabu dan menyaksikan yang lain bercumbu.

Na punya kelebihan di sini. Minuman dan narkoba tidak bisa membujuk-rayunya, dengan enteng Na akan menolak penawaran temantemannya. Penghormatan dan penghargaan luar biasa juga dimiliki temantemannya. Mereka dengan lapang dada menerima prinsip Na, tidak akan memaksa.

***

"Sudah jam berapa sekarang? Sampai kapan kamu mau keluar malam terus? Tidak kah engkau kasihan dengan orang tuamu Na? ibu dan ayah hanya bisa berharap darimu, jika kelak ajal menjemput. Hanya menanti doa darimu. Sebagai peringan siksa atau tambahan pahala.

"Sudah ma, Na tidak mau dengar ceramah malammalam begini, Na sudah capek. Brak! Pintu tertutup rapat, sama seperti hati Na. sampai atau selamanya, kita tunggu.

***

Barangkali, menahan kegelisahan sangat memberatkan bagi sebagian orang. Sebagian lagi bisa dewasa sebab gelisah. Pada bagian pertama Na berada. Proses kehidupan masih dijalaninya. Bukan pertimbangan dewasa atau tidaknya. Semoga alam semesta beri kekuatan padanya.

"Mas ada di rumah?"

"Iya di rumah, kenapa?"

"Seperti biasa, aku ingin berkunjung dan menginap"

"Pintu rumahku selalu terbuka untukmu"

Setiap orang punya tempat pelarian. Setelah dikejar-kejar beban kehidupan. Juga, kegiatan mengasyikkan atau hiburan sebagai penenang dan proses melupakan.

Masalah tak akan pergi dengan berlari, namun harus dihadapi dan disikapi. ***

"Kamu sudah lulus, bapak dan ibu ingin kamu kuliah di pesantren. Bapak dan ibu tidak tahu tentang agama, harapan hanya pada kamu, Na"

Adakah kepedihan yang menusuk lebih tajam dari permintaan orang tua? Na merenung sepanjang malam. Harapan orang tua jadi hantu tidurnya. Keinginannya mengatakan tidak, hati nurani mengatakan ya.

"Hidupku sudah terlalu kelam. Orang tua berharap besar, kelak jika kematian datang, doa dariku bisa menghantarkan kedamaian" Suara lirih dari dalam.

***

Kini, hariharinya dipenuhi atmosfir kesejukan. Kesejukan itu datang dari mana saja, Kyai, guru, agus (putra kyai), maupun teman. Lebihlebih lantunan ayat dari stoa menara.