Umat manusia tak pantas mendapatkan pertolonganmu," kata Hyppolita pada anaknya, Diana, yang bertekad bulat meninggalkan pulau Themyscira menuju medan Perang Dunia I untuk menghentikan manusia dari saling berperang dan membunuh, dari pengaruh jahat Ares.

Kapten Steve Trevor (Chris Pine) tak mau ambil pusing dengan ide Diana yang ingin memburu Ares. Di mata dia, Diana hanyalah perempuan polos yang seumur hidupnya berada di sebuah pulau yang hanya berisi perempuan-perempuan pejuang dan mempercayai Ares Dewa Perang mitologi Yunani itu benar-benar ada, bahkan ia adalah lelaki pertama yang pernah dilihat Diana seumur hidupnya.

Steve hanya ingin keluar dari Themyscira menuju ke Inggris untuk melaporkan kepada Sir Patrick tentang rencana jahat Dr. Maru dan Jendral Jerman Lundendorff (Dany Huston) dengan proyek senjata kimia.

Chemistry kuat antara Diana yang polos dan Trevor yang realistis dalam memandang manusia dan moralnya selama perjalanan ke Inggris dan ke medan PD I untuk memburu Ares (bagi Diana) dan Jenderal (bagi Trevor), menjadi daya tarik tersendiri dalam film "Wonder Woman" ini. Dialog-dialog cerdas mereka yang bertabur humor satir tentang manusia dan moralitasnya disampaikan dengan cara menyenangkan.

Tesis manusia yang secara alamiah cenderung bermoral bobrok, pendengki dan serakah, juga menjadi warna dalam film ini sebagaimana pada film-film garapan DC sebelumnya seperti "Batman v Superman (BvS): Dawn of Justice" hingga trilogi Batman-nya Chris Nolan. Tesis ini bagi Batman, Superman dan para Anti Hero (Suicide Squade) menjadi pertimbangan saat mereka berada dalam pergulatan batin untuk memutuskan apakah tetap berjuang demi manusia atau tidak.

Wonder Woman (WW) berbeda. Dalam film garapan sutradara Patty Jenkins ini, Diana Prince alias Wonder Woman meyakini bahwa manusia secara alamiah baik. Mereka saling berperang dan membunuh karena Ares telah mematrikan sifat tamak dan dengki dalam diri manusia.

Membunuh sang tuhan Ares merupakan misi hidupnya dan tak perlu ada pergulatan batin yang dramatis untuk melakukannya. Hal itu demi suku bangsanya, Amazon; dan demi keyakinannya tentang Zeus yang menciptakannya secara khusus dari tanah liat dan menciptakan manusia sesuai gambaran tentang diri Zeus sendiri.

Zeus telah menciptakan sebuah senjata godkiller, pembunuh tuhan, untuk bangsa Amazon. Diana lah yang memutuskan untuk menggunakannya untuk membunuh Ares.

Pada akhirnya, ketika berhadapan dengan Ares, Diana menyadari bahwa ada atau tidak adanya Ares, manusia selalu memiliki kemungkinan untuk berkonflik dan berperang. Manusia telah dihinggapi sikap tamak dan dengki. Ares hanya memberikan inspirasi jahat bagi manusia. Manusia sendiri lah yang menentukan sikap dan tindakannya. Pantas saja ibunya mengatakan manusia tak pantas memilikinya dan mendapatkan pertolongannya.

Dengan terbunuhnya tuhan, Ares, tidak menjadikan manusia otomatis menjadi baik dan mencegah manusia untuk melakukan diskriminasi dan kejahatan terhadap ras tertentu sebagaimana yang telah dilakukan bangsanya Steve (Amerika) terhadap bangsanya Chief (Indian), tidak mencegah sejumlah peperangan dan konflik antar negara dan etnis tetap terjadi di dunia hingga Diana bertemu Bruce Wayne, sebelum Superman mati dalam film BvS.

Manusia dan moralitasnya dalam film-film DC sejak trilogi Batman-nya Chris Nolan selalu menjadi problem tersendiri bagi para superhero di luar penjahat-penjahat psikopat seperti Bane dan Joker bagi Batman dan penjahat-penjahat meta human bagi Superman dan Wonder Woman. Setidaknya dalam film WW ini, terjelaskan kenapa manusia demikian, karena memiliki sifat tamak dan dengki. Problem manusia dan moralitasnya tidak bisa diatasi oleh para superhero, tidak seperti para supervillain yang bisa ditaklukkan.

Mungkin Batman bisa menaklukkan Joker (Heath Ledger) dalam The Dark Knight (2008), tapi sebagaimana Superman dan Wonder Woman terhadap manusia, Batman tak bisa benar-benar memperbaiki manusia yang digambarkan oleh Joker:

"Kamu tahu, moral mereka, aturan mereka, itu dagelan yang buruk. Mengarahkan mereka pada permasalahan. Mereka hanya baik sebagaimana dunia menginginkan mereka menjadi baik. Ketika para panutan mereka jatuh, mereka… para masyarakat sipil saling memakan antar satu dengan yang lain. Lihat, aku bukan lah monster. Aku hanya berbeda dengan mereka."

Meskipun film-film superhero DC Comics selalu menggambarkan manusia secara alamiah buruk, namun selalu menyisakan sosok-sosok manusia baik yang menjadi pertimbangan para superhero untuk tetap berjuang demi manusia dan merawat harapan yang baik tentang manusia.

Batman yang melihat sosok Gordon dan Harvey Dent (sebelum nenjadi Two-face) di antara polisi-polisi dan politisi-politisi korup; Superman yang melihat sosok Jonathan Kent, ayah Bumi-nya di antara manusia-manusia yang tidak dapat nenerima keberadaan 'yang lain', dirinya; dan kali ini Wonder Woman melihat sosok Steve yang mengorbankan nyawanya untuk manusia lain di antara manusia lain yang saling berperang.

Sebelum menonton film ini, saya memiliki ekspektasi setidaknya WW lebih baik dari BvS dan mendekati trilogi Batman-nya Nolan yang sangat keren itu, di samping saya menyiapkan diri untuk fokus dan serius dengan detil cerita dan dialog-dialog yang serius dan dalam, saat menontonnya. Tapi ternyata ekspektasi saya meleset. Saya tidak melihat jejak film-film DC sebelumnya: yang murung, minim humor dan gelap. Saya seperti sedang menonton film karya Marvel Comics, bukan DC Comics. Tapi saya tidak kecewa.

Meski ide tentang manusia dan moralitasnya dalam film ini konsisten dengan film-film garapan DC sebelumnya, WW dikemas jauh lebih menyenangkan dan menghibur dibandingkan pendahulunya. Dunia dan manusianya yang 'gelap' tidak menjadikan Diana nampak murung dan kurang memiliki selera humor seperti Bruce Wayne dan Clark Kent.

Karakter Diana sendiri diperankan dengan baik oleh Gadot. Bahkan Diana sendiri sudah cukup sebagai hiburan tersendiri. Bukan hanya sosoknya yang begitu menawan saat melakukan aksi-aksi tapi juga sikap polos, cerdas dan menyenangkan membekas sama kuatnya dalam otak saya sebagaimana Bruce Wayne saat diperankan oleh Chris Bale, yang penyendiri dan tulus berjuang di balik kegelapan.

Sayangnya, sangking asiknya saya dengan tandem Diana dan Steve yang chemistrynya kuat, dalam film ini saya tidak merasakan chemistry kuat perseteruan antara Wonder Woman dan Ares. Sebagaimana perseteruan kuat antara Batman vs Joker, Bane dan Superman.

Sosok supervillain hanya disajikan apa adanya, dan kemudian tiba-tiba Wonder Woman bertempur sengit di akhir film dengan supervillain yang porsinya amat sedikit disajikan dalam film ini. Bahkan jika itu diniatkan untuk memberikan kejutan pada penonton, tetap saja itu kejutan yang ditempatkan pada waktu yang kurang tepat.