Dia tak sanggup lagi “menikmati” hari yang begitu keras terhadapnya. Kehidupan yang tak pernah ia bayangkan, benar benar dia rasakan saat itu. Dirinya seperti kehabisan tenaga. Tangannya lemah, wajahnya pucat dan rambutnya berantakan. dia tak menyadari bahwa banyak orang mengelilingi dan memandangnya. Butir butir bagaikan salju mengalir perlahan membasahi pipinya yang belum termakan waktu. Sepintas dia tak seburuk yang dikira. Andai dia merias dirinya, pasti banyak laki laki yang akan mendekatinya. Tak kalah dengan yang lain, seorang laki-laki yang berada di tempat itu memandinginya dengan saksama.

Suara tangisnya perlahan-lahan mulai tak terdengar lagi. Tidak, dia tidak pingsan seperti yang laki-laki itu dan mereka bayangkan. Seketika dia tersadar ketika seseorang memberanikan diri untuk menyapanya.

“Hai, apa yang sedang terjadi padamu?”

Dia hanya menggelengkan kepala. Wajahnya semakin jelas terlihat. Jika tak salah menebak, wanita itu seumuran dengan laki laki itu. Dari wajah dan kulitnya tak bisa ditebak, darimana asalnya. Tapi sudahlah, tak penting asal usulnya, agamanya atau apapun itu. Yang penting mereka harus menyelamatkannya dari tangis yang tak seorang pun tahu apa penyebabnya.

Seperti biasa, orang orang yang berkerumun di sana mulai berspekulasi tentang dirinya termasuk laki-laki itu. Buruk sekali. Semoga tidak, kata laki-laki itu dalam hati.

Seseorang tiba tiba menyerobot masuk dalam kerumunan dan memberikan sebotol Aqua berukuran sedang padanya. Banyak orang termasuk laki-laki itu, mengira jika laki laki itu adalah temannya. Ternyata dia juga adalah bagian dari mereka yang tak tahu apa apa.

Perempuan itu benar benar haus nampaknya. Air dalam botol Aqua tersebut diteguknya sampai habis. Tak peduli semua orang yang memandangnya dengan seribu ekspresi.

“Sepertinya dia juga lapar” Teriak seseorang dari belakang mereka. Tanpa diperintah seseorang langsung bergegas ke toko terdekat, membelikan roti untuk perempuan tersebut.

Laki-laki yang berdiri dengan penuh pertanyaan itu, nampaknya terharu dengan perlakuan orang orang di sekitar terhadap perempuan itu. Kepedulian yang tinggi nyatanya masih ia temui di saat seperti ini. Banyak orang sibuk mengejar kekayaan tanpa melihat kemanusiaan di sekitarnya. Dan jika kemanusian itu ada, ia muncul ketika status orang lain telah berubah menjadi korban bencana.

Kita melihat orang-orang pergi dan pulang dengan jas dan mobil mewah, namun di saat yang sama kita juga melihat banyak pengemis dan pemulung yang menghiasi pandangan kita tiap hari. Pemulung, pengemis dan kelompoknya adalah mereka yang setiap hari bertanya “apakah hari ini bisa makan?” sedangkan kelompok sebaliknya akan bertanya “hari ini makan dimana?” Hidup memang tak adil untuk kita yang peduli dengan ketimpangan dan sebagian orang dihibur tentang rasa syukur bahwa diberi kehidupan adalah suatu anugerah yang patut disyukuri.

Perempuan yang melintas di bibir pantai itu membuat laki-laki itu terheran-heran. Wajahnya diliputi kerutan yang tak biasa. Pandangannya makin fokus ke arah perempuan itu. Pandangannya waktu itu seolah-olah mengisyaratkan bahwa perempuan itu adalah satu-satunya yang bersamanya di pantai ketika itu. Padahal pantai itu adalah pantai yang tak pernah sepih dengan mereka yang segolongan dengan pemilik jas dan mobil mewah. Banyak orang yang melintas di situ tak ia gubris sedikit pun. Ia hanya ingin tetap memastikan bahwa perempuan saat ini adalah perempuan yang ia lihat waktu itu.

Senyumnya tak pernah iya sembunyikan atau dihargai se-sen pun. Baginya, senyum adalah milik mereka yang ia temui. Laki-laki itu berpikir bahwa senyumnya juga akan didistribusikan untuknya jika kakinya dan kaki perempuan itu membawa mereka bertemu. Dalam pertemuan itu tidak hanya senyum yang ia dapatkan namun cerita tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Namun kali ini biarkan dia menikmati pantai dan lautan yang tak mungkin dipisahkan.

Tentang pantai dan lautan, kita mungkin berpikir bahwa kerinduan itu tetap ada, ketika gulungan ombak itu tak pernah lelah membawa bagian yang tersuci untuk diberikan ke bibir pantai. Sayangnya, kita tak pernah melihat apa yang pantai berikan kepada lautan. Mungkin pantai menjadi pabrik yang menampung sampah untuk mencemari lautan yang telah memberi sebagian kehidupan untuk mereka yang tidak hanya tinggal di pesisir namun mereka yang di perkotaan sampai di pedalaman.

Beberapa pantai protes bahwa sampah-sampah itu hasil kiriman dari pantai yang lain. Mereka juga protes bahwa mengapa pantai seperti perempuan dan laki-laki itu pijaki yang hanya dibersihkan dan dirawat sedangkan mereka tidak. Mereka akhirnya sadar bahwa mereka sengaja dijadikan penampung sampah dari pantai yang lain, agar pantai yang lain tersebut dijadikan tempat menghasilkan cuan.

Pantas saja perempuan itu sangat menikmati pantai itu. Pasirnya putih dan bersih, gulungan ombaknya kecil dan angin hangat yang memanjakan mereka yang selalu hidup dalam kemewahan. Sampah yang sering ia lihat di beberapa pantai, tidak ia temui di pantai ini.”wajar saja tempat ini ramai”, gumam laki-laki itu dalam hati.

Banyak hal yang laki-laki itu pikirkan tentang dialog antar pantai di setiap pulau, hampir saja membuatnya lupa tentang perempuan yang ia lihat waktu itu dan saat ini.

“Apakah harus ku hampiri perempuan itu dan menanyakan perihal tersebut?”. Tanya laki-laki itu dalam hati. Banyak laki-laki akan dibilang “gatal” ketika mendekati perempuan dengan cara seperti itu. Mereka dianggap berpura-pura untuk memperdaya perempuan. Wajar jika sebelumnya tak pernah kenal. Atau kejadian-kejadian yang diperlihatkan dalam media membuat wanita berpikir seperti itu. Lantas apakah hal tersebut langsung disimpulan bahwa laki-laki itu buruk? Kenyataannya laki-laki tak selalu seperti itu. Perempuan menjadikan dirinya korban. Namun di saat yang sama mereka membuat kesimpulan umum bahwa semua laki-laki itu jahat. Menurutnya laki-laki telah dipropagandakan demikian.

Melihat perempuan itu memberikan senyum kepada orang yang ia temui, dia yakin bahwa perempuan itu orang yang sangat menghargai siapa saja yang ia temui.

Tidak sampai tiga menit laki-laki itu telah di depan dirinya. Lelaki itu telah memberanikan diri untuk melangkah lebih maju daripada bingung dengan pertanyaan-pertanyaannya sendiri. Kegugupan lebih nampak dari apa yang ia perlihatkan padanya. Tidak menunggu waktu lama senyum perempuan itu langsung terbang ke arahnya. Lantas saja arah angin itu langsung berbalik dengan senyum dari laki-laki yang malu kepada dirinya.

“Sedang apa reu?” reu adalah sapaan di Lembata untuk mereka yang tampak seumuran. Laki laki itu kaget, jangan sampai dia berasal dari negeri ikan paus itu. Lembata, ya…sebuah negeri kecil, salah urus. Di sana akan kau temukan antrian panjang di depan Pertamina hanya untuk mendapat beberapa liter BBM. Dari kejahuan kau akan mengirah bahwa itu adalah kemacetan seperti di ibu kota republik ini. Di negeri itu juga akan kau temukan anggaran daerah yang sedemikian besar hanya untuk jalan yang tidak sampai setahun saja sudah rusak menyisahkan kekecewaan para pengguna jalan raya. Negeri itu hanya tentang kekecewaan dan kekecewaan rakyatnya. Begitulah kira-kira cerita seorang teman yang kebetulan asli dari daerah tersebut.

Benar saja jika wanita yang dihadapannya adalah wanita yang saat itu ia temui. Dia tak menduga bahwa perempuan itu orang lembata, negeri ikan paus.

Perempuan itu berujar bahwa keadilan kebetulan dimiliki oleh mereka yang mendapatkannya. Bahkan orang yang berbuat ketidakadilan pun sering mendapatkan hal yang lebih adil dibandingkan ketidakadilan. Kebaikan yang telah kita perbuat nampak tak berdaya ketika ketidadilan itu tidak kita miliki. Laki-laki nampak tak mengerti apa yang dia maksudkan. Mungkin dia kecewa dengan ketidakadilan yang ia dapatkan.

Apakah kamu setuju bahwa hidup itu absurd, sulit dipahami dan iirasional? Kamu tak perlu menjawabnya.

Hari ini mungkin saja kau duduk tertawa disini, menikmati secangkir kopi dan senja yang perlahan menjingga. Namun esok hari, roh mu menyadarkan mu bahwa kau sedang tertidur bahagia dikelilingi tangisan dari orang-orang yang menyayangi mu. Barangkali kopi yang kau nikmati adalah perpaduan dari pahitnya kerja keras petani dan manisnya tipu daya para tenggulak. Kita sanggup menikmatinya namun kembali kita menyadari bahwa kehidupan nampak absurd, tak adil dan sulit dipahami.

Perempuan itu menambahkan “aku heran mengapa kita ada di tempat dimana orang yang setiap hari hidup mewah meluangkan waktu mereka?” “apakah kita adalah orang kaya yang pura-pura peduli dengan para pengemis, pemulung dan kelompoknya”?

Laki-laki itu kian terbelenggu dari wanita yang pernah iya temukan dalam kondisi yang memperhatikan. Bukan karena perempuan itu tapi pertanyaan-pertanyaan dari dirinya tentang perempuan tersebut. Bertemu dan berbincang dengannya belum memberikan jawaban apa yang terjadi padanya waktu itu. Mengapa saat ini dia begitu senang dan bahagia seolah-olah tak ada yang terjadi pada dirinya sebelumnya? Pertanyaan itu terus membelenggu laki laki itu sampai senja kehilangan jingganya.