Pagi itu, di sebuah taman panti sosial, aku menyaksikan seorang gadis sedang bercengkerama dengan segerombolan anak kecil. Semua tampak riang dan gembira. Tampaknya gadis itu memang seorang penyuka anak-anak. 

Tidak hanya anak-anaknya, namun beserta dunia mereka. Hal itu tampak dari caranya mengambil hati anak-anak, penuh kelembutan dan menyayanginya sepenuh jiwa. Terkesan tidak dibuat-buat, semuanya tampak berjalan apa adanya. Anak-anak itu pun amat menyukai kehadirannya.

Panti sosial ini memang telah berubah menjadi semacam rumah singgah bagi sejumlah anak-anak yang kurang beruntung. Sebagian dari mereka menderita penyakit yang berat; dari tumor ganas di wajah, thalasemia, hingga pengidap leukimia dengan vonis hidup dari dokter tinggal dua bulan lagi.

Awalnya  aku sering mengunjungi tempat ini sekadar mencari topik penelitian untuk keperluan skripsiku. Namun belakangan ini, aku keranjingan mendatanginya. Entah karena perlahan berempati dan turut merasakan penderitaan penghuninya, atau karena aku menyenangi kehadiran gadis itu.

Salima. Begitulah nama gadis itu. Nama yang cantik, yang belakangan ku ketahui dari pengurus panti sosial. Informasi yang ku peroleh setelah ngobrol panjang lebar dengan pengurus panti sosial, Salima memang acap kali mengunjungi tempat ini. 

Seolah sama sepertiku, ia jatuh hati pada tempat itu ketika pertama kali mengadakan syukuran ulang tahun ayahnya setahun yang lalu. Semenjak itu, ia nekat mendaftarkan diri menjadi relawan disana. Mencurahkan segala perhatiannya untuk anak-anak malang itu.

Keputusan Salima tentu ditentang oleh keluarganya. Terutama sang ayah yang menginginkan anak tunggalnya itu fokus memimpin perusahaan keluarga. Namun Salima bersikukuh mempertahankan idealismenya itu dengan tetap menjadi relawan dan malaikat bagi anak-anak penghuni panti.

 Jiwa sosialnya luar biasa tinggi. Hidup dengan bergelimangan harta tak membuatnya manja dan angkuh. Lagi-lagi itu adalah fakta tentang Salima yang membuat kekagumanku pada gadis itu semakin menggila.

Padahal sebagai pewaris tunggal keluarga terpandang, ia bisa saja bekerja dengan gaji yang besar tanpa harus cape-cape mencari pekerjaan. Ayahnya sudah menyiapkan perusahaan besar untuk ia kelola. 

Tak hanya sosok yang rupawan dan kaya raya, Salima juga seorang gadis dengan otak yang brilian. Bagaimana tidak, ia lulus dengan predikat summa cumlaude dan berhasil menyelesaikan gelar magisternya dari salah satu kampus ternama di negeri ini hanya dalam waktu satu setengah tahun. 

Ia juga aktif menjadi pembicara di berbagai seminar bergengsi. Belum lagi tulisan-tulisan cerdasnya yang dimuat di berbagai media besar tanah air. Diam-diam aku sering membacanya dan tentu saja menyukai sederet argumen dan pemikiran hebatnya dalam tulisan-tulisan itu. 

Sungguh sosok gadis sempurna yang aku pikir hanya ada di dalam mimpi atau negeri dongeng saja.  Aku yakin, banyak pemuda yang berlomba-lomba mempersuntingnya. Kepribadian gadis itu amat mengagumkan. 

Pagi mulai beranjak siang. Kumandang adzan dzuhur menggema dari mesjid sekitar panti sosial. Aku beserta para pengurus panti yang sedari tadi ku ajak ngobrol bergegas ke mesjid untuk menunaikan sholat dzuhur. Sekilas pandanganku ku arahkan mengitari taman, sekadar ingin tahu keberadaan  Salima dan anak-anak yang sejak pagi hari tadi bermain disana. 

Rupanya gadis itu sudah berada di mesjid bersama beberapa anak yang sejak tadi mengekornya. Kami tak sengaja berpapasan untuk pertama kalinya ketika hendak mengambil wudhu di teras mesjid.

“Pengurus baru ya, Mas?” Tanyanya ramah. Memulai obrolan.

“Oh, bukan. Saya sekedar pengunjung rutin saja disini” Jawabku menyangkal, agak gelagapan. 

Siapa sih yang tidak akan gerogi jika tiba-tiba ditanya gadis cantik seperti ini? Buru-buru aku mengulum senyum, menetralisir keadaan.

“Wah,donatur baru toh. Anak-anak disini pasti senang dapet kunjungan rutin kayak gini, Mas. Kebetulan akhir-akhir ini, panti sosial sepi. Beberapa pengunjung yang biasanya datang kesini tak kelihatan lagi. Kasihan anak-anak gak ada yang ngajak main.” Tuturnya sambil tak henti menyunggingkan senyum manisnya, memperlihatkan deretan gigi kelinci yang rapi dan bersih. Cantiknya makin kentara.

Sayup-sayup terdengar panggilan iqomat di dalam mesjid. Terpaksa kami pun harus menyudahi percakapan ini. Ah, sialan! Umpatku dalam hati. Ingin sekali rasanya berbincang-bincang lebih lama dengan sosok bidadari ini. Terburu-buru aku memasuki mesjid dan menunaikan sholat dzuhur berjamaah dengan khusyuk hingga menuntaskan dzikir pendek selepas sholat bersama jamaah lainnya.

Usai sholat, aku mampir ke warteg langganan yang berada tepat di seberang mesjid untuk sekedar mengisi perut  keroncongan yang sedari tadi berisik meminta jatah. Sementara itu di luar panas matahari semakin terasa menyengat di kulit. Hari mulai beranjak senja. 

Namun aku tak berniat untuk cepat-cepat pulang ke rumah. Selain karena masih beberapa hal yang didiskusikan dengan pengurus panti sosial terkait rencana penelitianku, aku juga masih kerasan berada di tempat ini.

Di halaman depan gedung panti, aku melihat Salima tengah menggendong Zayn, anak laki-laki penghuni panti berusia dua tahun. Salima tampak berusaha menenangkan Zayn yang menangis hebat, menjerit, hingga setengah ngamuk. 

Sementara itu, Zidan, balita lainnya, juga merengek-rengek minta diambilkan mainannya yang barusan ia lempar ke bahu jalan. Zidan memainkan ujung jilbab Salima yang menjuntai ke bawah. Sesekali ia menariknya. 

Kasihan Salima. Ia terlihat kerepotan sekali momong anak-anak itu. Dalam situasi seperti itu pun, tak pernah ku lihat gurat kekesalan atau rasa jengkel di wajah cantiknya. Padahal menenangkan tangisa nanak-anak, terlebih anak berkebutuhan khusus, tentu sangat tidak mudah. 

Namun Salima berbeda. Kecintaannya yang luar biasa  terhadap anak-anak penghuni panti itu mengalahkan segalanya, termasuk rasa bosan dan jengkel yang mungkin bisa saja menghampiri. Sesekali ia tampak menenangkan Zidan yang tak kunjung berhenti merengek. Dengan perkataannya yang halus, ia memintanya bersabar sebab tak bisa mengambilkan mainannya dengan segera.

Kadung, Zidan terlanjur lari, bermaksud mengambil mainannya yang teronggok di tengah jalan. Sementara dari arah utara, sebuah truk dengan kecepatan tinggi melesat menuju ke arahnya. Maut kiranya tengah mengintai Zidan, truk itu memungkinkan menabrak tubuh mungil balita itu. 

Salima menjerit panik melihat Zidan dalam bahaya, melepaskan Zayn yang masih menangis dari gendongannya, lari secepat kilat menyambar tubuh Zidan, menghempaskannya ke tepi jalan. Balita itu selamat. Meski nahas, justru truk itu yang melindas tubuh Salima. 

Jasad rampingnya nyaris hancur. Ia tewas di tempat seketika. Untaian tasbih dalam genggamannya terputus. Butiran tasbih itu satu per satu lepas, menggelinding, teronggok utuh dalam genangan darah. Seolah turut berduka atas kepergian sang empunya ke haribaan-Nya. 

Hari itu segenap penghuni panti sosial berkabung. Semua turut merasakan kesedihan. Sebagian tak percaya, Salima, relawan terbaik yang pernah mereka miliki, pergi begitu cepat. Dalam perjalanan menghantarkan jenazah Salima ke peristirahatan terakhirnya, aku termenung berusaha mencerna semua yang telah terjadi. 

Percakapan tadi siang dengan Salima adalah percakapan pertama dan terakhir bagi kami. Ah, kematian memang selalu datang tanpa permisi, bagaimana pun keadaannya. Namun kebanyakan dari kita luput mempersiapkannya. Seandainya aku dapat berdialog dengan malaikat izrail, aku akan memohon kepadanya untuk menangguhkan kematian Salima. 

Hampir semua orang menyayangkan kepergian Salima. Termasuk kedua orangtuanya. Meski awalnya sangat terpukul dengan kematian putri semata wayangnya itu, namun kini, setidaknya mereka bisa merasakan kehadiran Salima pada diri anak-anak penghuni panti. 

Mereka bisa melihat tatapan syahdu Salima pada mata Zayn, balita penderita kanker mata stadium akhir yang menyebabkan kedua matanya tidak berfungsi normal. 

Sedangkan jantung Salima kini telah berdetak sempurna dalam tubuh Zidan yang sebelumnya menderita disfungsi organ dalam. Ya,  orangtua Salima memang telah setuju untuk mendonorkan sebagian organ tubuh putrinya demi masa depan anak-anak kurang beruntung itu.

Sementara itu, butiran-butiran tasbih Salima kini diuntai kembali menjadi sebuah tasbih yang utuh dan dipakai secara bergilir ketika dzikir rutin selepas sholat. Berharap dengan ini, amal zariyah akan terus mengalir untuk Salima. Semua orang akan selalu mengenang Salima, walau ia telah tiada. Raganya saja yang mati, namun kebaikan dan ketulusannya akan selalu hidup sepanjang zaman.