Pernahkah kau ketakutan melangkah? Iya, melangkah. Cuma menapakkan kaki satu demi satu untuk maju. Segampang itu. 

Toh, di usiamu yang tak lagi ranum, sudah ribuan bahkan jutaan langkah kamu lakukan. Bukan sekadar bergerak dari tempat tidur ke kamar mandi. Bahkan kamu pernah riang menapakkan kaki di hutan-hutan atau bergembira di negeri orang. Semua kamu awali dengan langkahmu.

Melangkahlah. Seperti sudah kamu lalui hari-harimu selama puluhan tahun ini.

Entah kenapa begitu menakutkan langkahku kali ini. Ini bukan soal berjalan ke warung beli beras atau jajanan. Hanya entah kenapa di jembatan itu rasa takutku datang. Ada penjual kerupuk enak di ujung jalan sana. Juga ada warung kecil yang sangat terkenal dengan waralabanya.

Warung kecil itu warung pertama mereka. Dengan pegawai yang sudah puluhan tahun selalu setia. Dengan rasa masakan yang selalu sama. Di depan warung itu mereka menyiangi tauge dan membersihkan jamur. Pelengkap mi ayam dan masakan lainnya. Kamu tinggal sebut apa yang ingin kamu makan; dan mereka tak pernah gagal memuaskanmu.

Hanya dua tempat itu yang jadi tujuanku. Tak pernah ada keinginan menyeberang untuk pergi ke tempat lain.

Kapan kamu terakhir merasa dada bergemuruh? Ramai kayak pasar malam dengan bunyi-bunyian yang tak jelas? “Pating clebung,” begitu orang Jawa bilang. Suara yang tak henti-hentinya memukuli dadamu, kemudian berdengung juga di telingamu. 

Tangga demi tangga sudah aku naiki. Tinggal melangkah menyeberangi jembatan besi. Papan kanan kiri jadi pengaman. Pun lantai besi jembatan tak ada yang berlubang. Tapi entah mengapa talu gendang di dada tak juga mereda.

Baru beberapa langkah, mual melanda. Ah……. Turun sajalah daripada keringat mengucur dan jadi tontonan orang seperti mereka melihat orang sedheng, gendeng.

Turun dan berbalik arah? Tidak. Ini hanya jembatan penghubung antartepi jalan. Sesederhana itu. Panjangnya pun tak seberapa. Kau jejer enam mobil di bawahnya dan sepanjang itu pula yang harus kamu lalui.

Entah demi apa aku tetap melangkah. Demi bubur ayam yang lezat atau kerupuk abang-abang di ujung jalan.

Satu-dua langkah mendekati tengah jembatan. Gemuruh di dada bagai parade drum band melewati Pasar Senen. Oh tidak. Tidak seindah itu tentu saja. Ini bagai pukulan bedug anak-anak kurang kerjaan dan menunggu diteraiki emaknya untuk diam dan segera pulang.

Setiap kaki terangkat untuk melangkah, makin besar beban yang aku bawa. Bayangan ketidakmampuan, bayangan kemiskinan, bayangan jadi orang tak berguna, berkelindan. Salip-menyalip tidak karuan. Dari semua kelebatan itu, bayangan anakku meloncat keluar. Iya, anakku. Bayi kecil yang keluar dari perutku pada dini hari yang sepi.

Aku ingat dan akan selalu ingat. Ketuban pecah sore hari. Oh tunggu. Bahkan waktu itu aku tak tahu itu namanya ketuban pecah. Celana dalamku basah. Bukan oleh pipis atau sisa bilas di kamar mandi. Aku yakin itu. Basah dan sedikit lengket. Berganti-ganti celana dalam pun tetap basah. “Mbak, itu mungkin ketuban pecah,” kata ibuku.

Tapi kok aku tidak merasakan apa-apa. Tidak ada mulas atau peringatan lainnya. Kenangan ibuku pada waktu melahirkan anak terakhirnya sudah puluhan tahun yang lalu. Mungkin dia juga lupa rasanya. Pun urutan melahirkan.

Motor bebek itu melaju. Aku diam di boncengan. “Sudah bukaan satu,” kata dokter yang memeriksa di ruang periksa. Ibu pulang sendiri dan aku diam di rumah sakit seperti menunggu eksekusi. Hari ini mungkin hari yang aku tunggu-tunggu sejak sembilan bulan lalu.

Orang Jawa bilang, mulutku tak henti ndremimil. Minta ini-itu sama Gusti sepanjang sembilan bulan ini. Doa-doa terpanjangku dipenuhi banyak permintaan. Entah doa macam apa itu. Aku hanya berpikir Tuhan itu Maha. Mahakaya, Mahabaik, dan Maha mengabulkan. Jadi tidak berhenti aku meminta.

“Aku hantarkan bayi ini untuk melihat dunia; dan pintaku jauhkan aku dari rasa sakit melahirkan.” Begitu doaku sepanjang waktu. 

Rasa sakit hanya akan membuatku ketakutan. Aku tidak mau ketakutan saat melahirkan. Ini ujung cahaya hidup bagi bayi kecilku; dan cahaya itu harus menggembirakan, nirketakutan. Aku ingin anakku hidup lepas dari ketakutan demi ketakutan. Ketakutan yang bagi orang dewasa bagai kutukan. Biarlah ia lahir melesat dalam kebahagiaan. Toh, hanya itu yang bisa aku beri.

Meja operasi itu dingin. Warna hijaunya cenderung menjadi gelap di mana siapa pun yang terbaring seolah mengantarkan pada gelap mata yang terpejam dan tak bakal terbuka lagi.

Berjam-jam menunggu hanya bukaan satu. Tak lebih. Harus operasi. Obat bius sudah disuntikkan. Aku masih bisa merasakan dokter mencubit perutku yang katanya sudah mati rasa.

Eh, kapan terakhir badanmu bergetar hebat? Yang tanganmu bergerak melayang ke atas dan ke bawah sampai rasanya menggerakkan tempat tidurmu? Ketika pikiranmu tak bisa mengendalikan tanganmu. Itu yang pertama dan terakhir aku rasakan.

Ah, mungkin seperti ayam yang kau sobek lehernya pada waktu kau sembelih. Bukankah dia bergerak hebat dan kamu harus memegang sayap dan kakinya dengan kuat?

Atau seperti ular yang kau potong kepala untuk memisahkan dengan badannya. Bukankah kepala ular yang lepas dari raganya akan mampu menggigit orang sekuat yang dia bisa lakukan di akhir hayatnya? Itulah kenapa penjual empedu dan sate ular selalu menjepit kepala ular dengan penjepit kertas yang besar, supaya tak ada lagi kemampuan menggigit setelahnya.

Mungkin seperti itu juga aku saat itu. Saat perut disobek dan darah tumpah dari torehan pisau bedah. Mungkin itu puncak takutku. Ketika hijau warna di kamar operasi rasanya menghantar pada gelap.

Mungkin aku salah. Tak ada gelap. Tak ada lelap. Anestesi tak membuatku lelap. Mata terjaga. Mulut tak berhenti bercerita apa saja setelah kembali ke kamar inap. Kayak orang mabuk jamur tlethong

Benar, mataku tak terpejam dan mulutku tak henti cerita tentang apa saja yang terlintas. Atau jangan-jangan ini hanya untuk membunuh sepi ruang inap ini? Tanpa pengunjung dan hanya berdua dengan adikku.

Mungkin. Semuanya sangat mungkin. Karena orang selalu ingin keramaian, keceriaan dan tanda-tanda bahagia lainnya. Berhari-hari aku lalui dalam sepi. Hanya bapak, ibu, dan saudaraku. Tak apa. Toh kadang perayaan juga bisa dilakukan dalam sunyi. Biar kamu bisa mendengar keriangan hati. Atau barangkali sepi bisa menghantarkan kamu mendengar suara Tuhan.

Ah sudah gila barangkali aku. Mana mau Tuhan bicara, ketika tak pernah kau seret badanmu ke gereja. Ke gereja hanya saat baju baru ada. Pasti maulah Tuhan bicara. Telinga kita saja yang tuli tak pernah peka. Aku dan “aku kecil” saling berebut benar. Biar saja mereka lelah bertengkar.

“Boleh aku pinjam uang ibu untuk membayar rumah sakit?” tanyaku

Ndak ada, mbak,” ujarnya lirih.

“Ya sudah. Siapa saja yang bisa meminjamkan? Aku yang akan bayar,” ujarku. Dan itu baru selesai satu tahun kemudian. Biaya kelahiran anak kok mirip pinjaman pegadaian.

Anakku tanggung jawabku. Aku akan besarkan ia dalam cinta tulus tanpa dendam pada dia yang menghilang. Itu janjiku. Ini mungkin semacam katalis dalam diriku. Menutup masa lalu dan hidup dengan cinta yang baru.

Jadi panjang, kan, soal jembatan itu? Jadi ngoyo woro aku cerita ini dan itu. Kulanjutkan, ya. Bukankah perutmu sudah kenyang dengan shirataki pedas buatanku?

Dua hari terbaring di ranjang, lalu aku belajar jalan. Berpegangan pada tiang-tiang di selasar rumah sakit. Tanpa ada yang memegang bahu di belakangku. 

Untungnya aku tak takut jatuh. Ketika tak ada tangan menopang, tak punya bahu buat bersandar, tenang…tiang-tiang selasar cukup kokoh untuk diam sejenak menghela kekuatan. Dan aku percaya itu. Awalnya tertatih lalu tertatah. Jalan mendekati normal, meski pelan melangkah.

Seminggu dalam diam. Lalu kita pulang. Kita? Tidak. Aku hanya pulang sendiri. Meninggalkan bayi di box mini. Bilir ubinmu tinggi. Kau harus tinggal beberapa hari lagi. Ini rasa sunyi yang sesungguhnya buatku. Perpisahan yang sebenarnya.

Atau barangkali hanya perasaanku yang nelongso saja? Mungkin ini lebih tepat. Atau ini kemelekatan awal. Rasa yang kita pupuk untuk tak mau lepas dengan darah daging sendiri. Barangkali. Ya, barangkali.

Tiga bulan kita bersama. Dan saat mencuci popok di kamar mandi, itulah saat tumpah air mata. Mungkin lelah untuk selalu menjaga tegar dan tabah. Tapi tak ada yang tahu, kok. Tak ada orang yang curiga, bukan, kalau kita mencuci di kamar mandi sambil berurai air mata? Toh, tetap senyum kalau keluar dari sana.

Aku percaya, cahaya matahari pagi menyembuhkan semua lelah, sakit, bahkan duka. Kepercayaan yang terus aku pupuk dan siram hingga sekarang.

Hanya tiga bulan hidup bersama? Sembilan puluh hari saja untuk menghirup wangi badannya? Iya! Dan perpisahan ini harus tanpa air mata. Kembali bekerja. Kembali ke ibu kota. Menyusur lebih dari 1000 kilometer setiap minggunya. Setiap minggu. Selama tujuh tahun lamanya. Iseng saja.

Boleh bantu hitung berapa kilometer hasil akhirnya? Lain kali aku cerita soal kereta, ya. Sambil kamu selesaikan dulu hitungannya.

Terpisah dan berjarak itu tak mengapa. Tak menjadi masalah. Masalahku hanya satu: baumu menghantuiku. Itu saja. Mungkin kayak di film-film kartun, ya. Kucing akan terbang melayang badannya saat mencium bau ikan goreng di wajan. Terbang sejauh bau terendus di hidungnya. Makin dekat makin kuat dia melayang membayangkan ikan.

Mungkin aku seperti kucing itu juga. Terbang melayang untuk membaui tubuhmu. Ah, biarlah. Menjadi kucing tak mengapa. Itu saja sudah membuatku bahagia. Gelisahku hanya saat menunggu akhir pekan datang. Saat itu aku akan berubah menjadi kucing terbang.

Sedang apa kau bayi kecilku? Masihkah susumu? Popokmu sudah diganti? Siapa yang meninabobokan kamu? Sudah bersihkan botol minummu? Siapa yang mencuci bajumu? Siapa yang menghalau nyamuk yang mengincarmu?

Saat tanya tanpa-jawab ini berputar sangat cepat dan berulang di kepalamu, bisa dipastikan lama-lama gelisah akan menyerangmu.

Kamu pernah cek tidak sih kalau tanya itu ternyata beragi? Ia akan mengembang sendiri sebesar yang ia mau. Makin tak terjawab, makin mengembang tanyamu. Dan ia akan meledak, lalu menyakitimu. Menyakiti tanpa kita sadari. 

Ah, ini mungkin jadi sebab orang bisa gila dengan tanya yang tanpa-jawab. Orang bisa gelisah karena tanya yang membuatnya resah. Orang bisa menggigil karena tanya membekukannya. Mungkin tanya tak perlu dikasih tanda tanya. Kurung ia dengan titik. Iya, titik.

Aku terlambat memberi tanda titik pada setiap pertanyaan yang muncul. Terlambat. Mungkin aneka tanya itu menjadi hantu yang sekarang menyerangku. Dan dia akan menyerang di atas jembatan. Menarikku dengan cepat, menerobos alas jembatan penyeberangan.

Lalu mobil-mobil di bawah akan menggerusku jadi cincangan. Dalam hitungan detik. Kali lain, ia akan menjatuhkan anakku yang kugendong dalam bayangan. Melesat cepat ke bawah lepas dari bopongan.

Dan akankah bayi kecilku tercincang? Ketika bayangan ini menjelma seolah nyata dalam ribuan kali tayang, kau akan lupa mana fakta dan mana yang tak nyata. Itu semua gara-gara aku lupa memberikan tanda titik pada setiap tanya. Dan dia akan jadi durhaka. Ingin membunuhku dengan kurang ajarnya.

Jadi kamu tahu, kan, kenapa keringat dingin meluncur saat di jembatan? Itu karena tanya yang jadi durhaka.

“Hidup harus santai. Tidak semua harus dipikir,” ujar teman menenteramkan.

Ora kabeh-kabeh kowe kudu ngerti jawabane,” teman lain menambahkan.

“Pikir saja kini, di sini dan saat ini,” kata bijak lain menghampiri.

“Ketenanganmu juga ketenangan untuk anakmu.” Ini mungkin lebih seperti law of attraction.

Aku iyakan. Meski perlahan. Ini obat yang harus aku telan pelan-pelan.

Sembuh? Ya, itu, kan, perkara waktu. Juga perkara apakah aku mengakui sakitku. Bukankah sakit harus diiyakan? Kalau kau menolak dibilang sakit, berarti sakitmu hanya sepihak. Obat pun hanya masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan.

Tapi entahlah. Ketakutan lenyap pelan-pelan. Ketika aku menyadari napas keluar-masuk dan bersyukur masih membuka mata di pagi hari lalu menjumpai matahari. Bukankah sudah kubilang, matahari pagi menyembuhkan.

Perempuan di atas jembatan itu aku. Ibumu.

Saat damai datang, hidup ternyata tidak di antara maki dan mati.