Jika Dayang Sumbi masih hidup, dan mendongengimu layaknya Syahrazad.

Beratus-ratus tahun kemudian, tepat di lokasi Sangkuriang menendang bahtera bikinannya, di sisi waduk besar yang ia bangun dalam semalam bersama para kuli dari golongan jin, yang kemudian saat Belanda masuk airnya sudah surut, lalu menebangi hutan di gunung-gunung dan menjadikannya perkebunan teh, tepat di titik itu, daun-daun teh tampak berderak.

Persis di tempat Sangkuriang melakukan tendangan voli itu, seorang mandor Indo, yang mungkin terinspirasi Tumang, memaksa gadis pemetik teh yang sial hari itu, untuk bersenggama dengan gaya anjing di siang bolong. Bagaimana aku bisa tahu? Kau mungkin bertanya. Perempuan yang tidur seranjang di sampingku malam inilah yang menceritakannya.

Setelah waduk buatan Sangkuriang menyurut, lalu berubah jadi rawa-rawa, dan beberapa manusia yang bosan berhum menetapkan diri untuk bermukim di sini, sampai kemudian datang politikus Belanda, dan dengan seenak jidat memerintah ini itu, salah satunya membangun jalan mencapai 1000 km di sepanjang pulau Jawa dari sebelah utara mulai dari Anyer hingga Panarukan untuk pertahanan, jalan yang melintas di kota bernama Bandung ini. 

Untuk membangun jalan tersebut, gubernur jenderal bernama Herman Willem Daendels itu mengerahkan rakyat dengan berbagai kebijakan yang keras dan kejam. Berkatnya, banyak penguasa lokal dan rakyat yang mati dibunuh, bahkan potongan kepala mereka digantung untuk menghiasi pohon di sepanjang jalan. 

Daendels mengontrol dan melintasi Kota Bandung tempo dulu sehingga sampai di jembatan Sungai Cikapundung yang pada saat itu sedang dirampungkan pembangunannya oleh pasukan Zeni Militer Belanda, yang dibantu oleh penduduk Kampung Cikapundung Kolot. 

Coba usahakan bila aku datang kembali, di tempat ini telah dibangun sebuah kota, Daendels mengultimatum lalu menancapkan sebuah pasak. Daendels memang ganteng, tapi aku ingin memuntahi wajah pongahnya itu, komentar perempuan yang tidur seranjang di sampingku, yang mengisahkan kalau dirinya bersitatap langsung dengan gubernur jenderal itu sehabis mencuci di Kali Cikapundung.

Setiap aku tidur dengan perempuan itu, dia selalu memberi dongeng-dongeng yang memikat. Meski dengan alur kronologi yang kacau, campur aduk antara fakta sejarah dan cerita rakyat yang penuh fantasi, tapi tetap saja, cara bertuturnya itu memaksaku untuk mempercayai semua ocehannya. Aku memanggilnya Syahrazad, tokoh di "Kisah Seribu Satu Malam" yang jago mendongeng itu.

"Si bangsat Daendels emang ganteng," puji Syahrazad mengulangi. "Mirip George Clooney."

Bukankah kau kerja di kebun teh saat era kolonial itu? aku menginterupsinya. Ketika dia bercerita, aku memang pendengar yang baik, bagai bayi yang diteteki ibunya, meski memang sesekali bertanya bila ada hal-hal tak kumengerti (dan begitu banyak yang tidak kumengerti).

"Ya, aku jadi pemetik di kebun teh Malabar milik Bosscha. Sampai saat aku menonton laku cabul si mandor itu, kemudian aku putuskan untuk minggat," Syahrazad menghela napas. "Si anjing itu mengingatkanku pada mantan suamiku, cinta pertamaku."