Mungkin kita tidak familiar dengan istilah pink - collar ghetto. Namun, tanpa kita sadari bahwa pink - collar ghetto terjadi dalam kehidupan sehari – hari khususnya dalam dunia kerja. Istilah tersebut sebenarnya sangat merugikan perempuan. Yuk, disimak!.

Banyak sekali perempuan yang terjebak dalam pekerjaan tertentu. Rata – rata pekerjaan tersebut dibayar dengan upah yang rendah dan berbanding terbalik dengan realita pekerjaan yang dilakukan.  Hal ini biasanya disebabkan karena mereka adalah perempuan. Mereka yang terjebak dalam pekerjaan dengan upah rendah ini disebut pink - collar ghetto.

Lantas, apa sebenarnya pink - collar ghetto? Kalau dilihat dari google translate artinya Ghetto kerah muda. Ghetto ini sebenarnya kiasan untuk membangkitkan daerah orang pinggiran biasanya, karena faktor ekonomi dan sosial. Sedangkan pink – collar ini ditujukan untuk perempuan. Jadi, pink - collar ghetto itu seseorang yang bekerja di bagian yang didominasi perempuan. Namun, dengan upah yang rendah misalnya, pembantu dan pelayan.

Dalam sejarahnya, memperjuangkan hak perempuan dalam dunia kerja dimulai dengan membentuk organisasi. Organisasi perempuan pertama kali muncul mereformasi dan melindungi wanita di tempat kerja. Organisasi terbesar dan paling bergengsi adalah The General Federation of Women's Clubs (GFWC), Pada tahun 1910 perempuan bersekutu dan bersatu dengan Parti Progresif yang berusaha untuk mereformasi masalah sosial terutama dalam pekerjaan. 

Organisasi lain yang berkembang dari perempuan dalam tenaga kerja, adalah Biro Perempuan Jabatan Tenaga Kerja. Biro perempuan mengatur syarat untuk pekerja perempuan. Oleh karena itu, buruh perempuan menjadi bagian penting dalam ekonomi, usaha Biro perempuan pun meningkat. Biro mendorong majikan untuk memanfaatkan " kekuatan perempuan " dan membujuk perempuan untuk memasuki pasar pekerjaan.

Pada tahun 1913, The International Ladies Garment Workers Union (ILGWU) menandatangani " protokol dalam Industri Pakaian dan Pinggang " yang terkenal yang merupakan kontrak pertama antara buruh dan pengurusan yang diselesaikan oleh perunding luar.

Jika dilihat pada masa sekarang, kebanyakan dari perempuan memilih bertahan di pekerjaan tersebut karena tidak punya pilihan lain. Mereka biasanya dari kalangan menengah ke bawah dan punya tanggungan hidup yang harus dipenuhi. Banyak perempuan single parent diluar sana bekerja dan rela dibayar dengan upah yang murah karena mereka punya anak. Sedangkan suaminya tidak meninggalkan banyak uang. Perempuan tersebut harus mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain.

Selain itu, sempitnya lapangan kerja membuat perempuan bertahan dengan pekerjaan tersebut. Mereka hanya tamatan sekolah menengah atas atau bahkan ada juga yang tamatan sekolah dasar. Mereka tidak memenuhi kualifikasi dari lowongan pekerjaan yang disediakan, Mereka juga tidak punya keahlian khusus dan modal  untuk mendorong mereka berwirausaha.

Perempuan yang bertahan dalam pink - collar ghetto juga karena pekerjaan tersebut lebih fleksibel dan tidak memakan banyak waktu. Sehingga perempuan bisa mempunyai waktu untuk mengurus anak mereka.

Untuk mendapatkan posisi yang lebih tinggi, perempuan tersebut harus berkompetisi dengan pekerja perempuan lain. Mereka juga harus bersaing dan memperlihatkan keunggulan demi posisi yang diinginkan, Lagi, perempuan saling menindas satu sama lain.

Dibandingkan dengan perempuan, laki – laki justru mendapatkan opportunity lebih mudah naik jabatan walaupun sektor tersebut didominasi perempuan. Hal ini karena laki – laki dianggap lebih cekatan dan superior dibandingkan perempuan. Patriarki tetap saja melekat bahkan di dunia kerja. Asumsi patriarkis seperti ini menghambat kemajuan karir perempuan.

Nah, pink - collar ghetto juga berlaku bagi pekerja perempuan buruh kerah putih. Perempuan cenderung susah naik jabatan karena gender mereka. Belum lagi upah yang diberikan tidak sepadan dengan tenaga yang mereka keluarkan. Selain itu, gaji laki – laki lebih tinggi dibanding perempuan padahal dalam satu pekerjaan yang sama. Dan yang paling menyedihkan adalah perempuan selalu disingkirkan secara perlahan dalam pekerjaan misalnya ketika perempuan itu melahirkan dan punya anak. Beginilah, perempuan selalu dianggap makhluk nomor dua.  

Terus, bagaimana perempuan bisa keluar dari pink - collar ghetto? Jawabannya, dimulai dari perempuan itu sendiri. Ya, perempuan harus memutuskan pilihan mengenai karir mereka. Mereka perlu mengikuti pelatihan terutama teknologi karena kita sudah memasuki era teknologi.

Mereka juga perlu memperluas networking dan mempunyai personal branding yang baik. Satu yang terpenting adalah mempunyai mentor. Sesama perempuan seharusnya mendukung satu sama lain demi kemajuan bersama. Dengan memberikan wadah pelatihan ataupun menjadi mentor sekiranya sudah cukup.

Harapan terbesar adalah semoga perusahaan peduli dengan isu kesetaraan gender agar para karyawan dapat memaksimalkan potensinya dengan baik tanpa melihat gender. Perusahaan juga perlu memperkenalkan mentoring dan training bagi calon karyawannya.

Sesama perempuan marilah saling mendukung satu sama lain bukan malah menjatuhkan. Untuk mendapatkan kesetaraan, hendaklah saling bekerja sama.