Sore santai dengan riuh rendah angin musim semi, membuat burung-burung bernyanyi di dahan pohon mangga milik anak tetangga. Setiap sisi kota juga ramai seperti biasanya dengan hiruk pikuk bunyi kendaraan roda dua, tiga bahkan yang tidak beroda, rintih keluhan dan juga tentunya haha hihi tawa, Basa-basi pun  yang tak berkesudahan. 

Pada teras rumah dijamu oleh romansa tenang dengan segelas coklat hangat bersama sang kekasih ikhtiar bernama buku, Lembar demi lembar bernuansa dengan sang pujaan yang penuh pesona. Tersontak  kaget serta heran terdengar suara perempuan  di batas tembok yang menjadi sekat antara rumah-rumah, Sang perempuan bercengkrama sesamanya dan bercerita tentang hubungan atau relasi yang ia dapati.

Bukan sengaja ku menguping, tapi organ alami pendengaran menjalankan fungsinya sejalan takdir. Dari cerita yang ada, sang perempuan tengah dilema dengan sebuah perasaan yang bertaut pada hubungan tiada kejelasan, begitulah perempuan ketika dijadikan incaran bagai objek buruan untuk dipuaskan secara instan oleh kaum yang lemah iman. 

Ada juga sosok perempuan lain yang ikut menyemarakkan ceritanya dalam kumpulan tentang sebuah hubungan persahabatan katanya, (aku tidak yakin) bukan hanya karena perihal sayang dan cinta tapi perihal kebersamaan kokoh yang telah dibangun, disimpan pada palung hati yang paling dalam. Sekali lagi begitulah perempuan, wajahnya begitu kelabu, aksaranya penuh sendu, sajak-sajaknya melukis rasa beku, matanya selalu nanar penuh candu tak menentu.

Ingin menjadi perempuan seperti apa itu adalah sebuah pilihan, menjadi perempuan seperti menjadi api unggun yang memberikan sebuah kehangatan, terkadang bisa jadi api yang berkobar dengan amarah yang melahap habis sekitarnya termasuk diri sendiri. Menjadi perempuan seperti air, kadang kala hadir bagai selembut tetes embun atau sejuk dan tentram dalam rintik hujan, kadang juga hadir sebagai hempasan ombak menghantam karang atau badai yang mematikan damainya lautan.

Menjadi perempuan seperti memegang navigator dalam pelayaran, yang memiliki peran menuntun arah dan laju kapal meskipun ia bukan pengendali kemudi atau nahkoda, tapi ia ada sebagai komponen pelengkap perjalanan kapal hendak ke mana akan bermuara, ke negeri indah penuh pesona atau tersasar ke negeri antah-berantah penuh petaka.

Secara psikologis, perempuan adalah makhluk yang penuh emosi, mengandalkan perasaan, dan mudah tergoda. Secara alamiah ini menjadi kelemahan bagi perempuan dalam mengambil sikap, apalagi terhadap sesuatu yang sering menjadi batu sandungan, hingga jatuh terjungkal dan kalah. Apalagi kalau bukan cinta. Ya, Cinta pada sesuatu yang membutakan dan menulikan sosok diri yang lugu.

Dengan maraknya rayuan maut nan bersilat lidah, kaum elit (hidung belang) dengan mulut yang katanya penuh dengan keteduhan. Namun hati-hati, itu mematikan nalar lalu menghanyutkan dalam aliran kesesatan. Berbalut gombalan, perlu disadari itu sudah pelecehan secara verbal yang akan berlangsung pada tindakan diluar noma-norma yang diwariskan. Bukan karena sasarannya perempuan, tapi karena kekurangan oksigen pada otak mereka hingga menjadi pendek akal tak terelakkan. 

Seketika aku jadi ingat kalimat ibu sosok perempuan tangguh penuh cinta, dengan tutur lembut kalimatnya berbunyi “perempuan harus pandai-pandai menjaga diri”. Aku pikir memang harus begitu, dengan kecamuk tatanan sosial, situasi pandemi yang membuat angkat tangan, menuntut kebutuhan dengan ekonomi pas-pasan.

Di usia yang sudah meraih angka 2 posisi pertama, aku mulai mengerti, aku terdiam, aku tersenyum. Ku dekati cermin yang hampir runtuh, paku-paku kehilangan kepercayaannya, rapuh bisa saja jatuh berkecai. Itulah perempuan tanpa penjagaan iman. Penjagaan iman ini menjadi penyeimbang, agar ia tak menjadi api dengan kobaran yang memakan sekitarnya dan tidak juga membadai. Iman bergandengan penuh mesra dengan ilmu, ilmu yang akan menjadikan perempuan, ia akan menjadi bidadari surga atau mara bahaya.

Untuk perempuan sejatinya harus menyadari bahwa dirinya adalah perhiasan berharga, menjaga diri berarti menjaga sebuah kehormatan dari perhiasan terbaik di bumi ini. Teruntuk perempuan jangan terlalu baik yaa terhadap lawan jenismu, kami laki-laki kecuali pada ayah dan saudaramu. Bagi kami laki-laki, setiap tutur kalian adalah keindahan dan kenyamanan. Ah, bahkan ketika diampun kalian adalah makhluk yang indah. Maha Suci Tuhan yang sudah menciptakan kalian dengan begitu rupa.

Perempuan, tentang menjaga? Marwah diri tidak pada genggaman orang lain, melainkan pada diri sendiri. Ayat-ayat kitab suci telah banyak memberi notifikasi agar wanti-wanti untuk harkat martabat kedudukan makhluk sebagai kekasih tetap pada jalannya. 

Dengan penjagaan saja banyak indikasi terutama opini-opini memenuhi stigma meraih kenikmatan dunia, maka dari itu jaga persepsi (terutama hati), kontrol interpretasi karena perempuan tingkat kepekaan begitu tinggi, dari itu kalian istimewa.

Begitulah gejolak dalam relung hatiku terhadap cerita kumpulan perempuan, orang-orang baik dengan iman akan bahagia. Orang melakukan sebaik apa yang dipercaya, menjadi sekuat harapan dengan apa yang dirawat, dan tumbuh sebanyak yang diakui atas kemanusiaan dalam semesta.