Setiap tempat mempunyai kisahnya sendiri. Ada yang menamainya legenda, ada juga yang meyakininya sebagai mitos. Cukup banyak tempat yang dibangun dengan legenda perempuan, salah satunya Tiongkok. 

Diceritakan, sebelum ada manusia di bumi, hiduplah Dewi Nuwa. Dewi Nuwa berwujud setengah perempuan dan setengah ular. 

Suatu hari dewi Nuwa beristirahat di pinggir sungai dan merasa kesepian seorang diri. Ketika sedang beristirahat di pinggir sungai diraupnya tanah liat kuning dari dasar sungai. Tangannya pun sibuk membentuk tanah liat yang basah. Dewi Nuwa membentuk patung berwujud manusia laki-laki dan perempuan kemudian patung tanah liat tersebut hidup dan memenuhi Bumi. Dewi Nuwa pun tidak kesepian lagi.

Begitupun Sunda, sama halnya seperti Tiongkok. Sunda memiliki legenda dengan tokoh perempuan. Mungkin hanya sedikit yang tahu tentang kedudukan perempuan yang sangat berarti dalam Sunda. Perempuan dalam Sunda diibaratkan sebagai ibu dan kehidupan.

Tokoh Dayang Sumbi meskipun sebagai tokoh pendamping Sangkuriang tetapi perannya sangat penting. Dayang Sumbi melekat kuat dalam ingatan orang Sunda. Perempuan yang rajin menenun, cantik dan tidak pantang menyerah. Dalam cerita tradisi lisan yang menggambarkan kehidupan legendaris dan mitologis, Dayang Sumbi digambarkan sebagai manusia biasa. 

Memang tidak ada sumber yang menyebutkan secara jelas waktu dan tempat kejadian tentang cerita Dayang Sumbi. Menurut Edi S. Ekadjati dalam bukunya Kebudayaan Sunda, keberadaan Dayang Sumbi dipercayai sebagai kebenaran, bukan dibuktikan sebagai kebenaran. Setidaknya karakter Dayang Sumbi yang kuat (tidak cengeng) bisa dijadikan salah satu cerminan tentang sifat perempuan sunda dahulu.

Selain Dayang Sumbi, masyarakat Sunda juga hidup dalam mitos tentang Nyi Pohaci. Jakob Sumardjo dalam bukunya Sunda Pola Rasionalitas Budaya bercerita tentang Nyi Pohaci yang lahir dari sebutir telur. Telur tersebut berasal dari tetesan air mata dewa Naga Anta yang mempunyai bentuk ular.

Naga Anta tidak bisa membantu dewa guru membangun istananya. Untuk menebus rasa bersalahnya maka tiga telur tersebut diserahkan kepada dewa Guru yang berada di dunia atas.

Dewa Anta sendiri berasal dari dunia bawah. Salah satu telur berhasil mencapai dunia atas. Setelah Dewa Naga Anta mengeraminya maka lahirlah Bayi perempuan yang diberi nama Nyi Pohaci, dan disusui oleh istri dewa Naga Anta yaitu Dewi Umah.

Nyi Pohaci memiliki nama lain yaitu Sunan Ambu. Tidak ada sumber yang menyebutkan pada usia keberapa Nyi Pohaci meninggal. Jasad Nyi Pohaci dikuburkan di dunia tengah kemudian dari kuburannya tumbuhlah beragam tanaman yang amat berguna bagi manusia sunda.

Kepalanya menjadi pohon kelapa, Mata kanannya menjadi padi biasa (putih). Mata kirinya menjadi padi merah. Hatinya menjadi padi ketan. Paha kanan menjadi bambu aur. Paha kiri menjadi bambu tali. Betisnya menjadi pohon enau. Ususnya menjadi akar tunjang. Rambutnya menjadi rumputan.

Manusia sejatinya lahir dari hubungan seksual lelaki dan perempuan. Tetapi Nyi Pohaci bukan hasil kerja seksual siapa pun. Nyi Pohaci berasal dari setetes air mata Dewa Anta, jadi aseksual atau nonseksual, itulah sebabnya ia keramat. 

Dan yang keramat itu akan membawa berkat bagi manusia. Sebagai contoh: ketika kita mengeramatkan pepohonan, maka kita tidak akan sembarangan menebang pohon, alam pun akan lestari tak ada banjir dan longsor.

Tidak mengherankan jika masyarakat Sunda sangat suka memakan sayuran mentah atau dikenal dengan nama lalapan. Sayuran yang mereka petik sendiri dari kebun. Di tiap-tiap rumah warga ditanami beragam sayuran. Hal ini sudah terjadi berlangsung lama, turun temurun. Leluhurnya menurut mitos adalah sang dewi padi (pohaci), dewi kesuburan.

Kisah tentang Nyi Pohaci memberikan arti yang sangat dalam untuk orang Sunda. Tanaman lahir dari tubuh perempuan, perempuan yang berasal dari dunia bawah lalu dibawa ke dunia atas dan di turunkan di dunia tengah (dunia manusia) untuk memberi kehidupan pada manusia.

Nyi Pohaci tidak hanya dijadikan sebagai simbol ketulusan sang pemilik dunia atas terhadap perempuan dan terhadap manusia (dunia tengah) tetapi juga simbol kelestarian alam dan kehidupan berasal. 

Herry Dim dalam jurnal panggung tahun 2004 menyebutkan bahwa orang Sunda menempatkan konsep kesemestaan sebagai Rahim. Kita atau kehidupan atau yang berdiam di dunia tengah bertugas untuk membuahinya. .

Dalam karya sastra Sunda lama Ajip Rosidi menceritakan dalam bukunya yang berjudul Manusia Sunda ada tokoh Purba Sari Ayu Wangi, yang merupakan putri bungsu dari Prabu Tapa Ageung dengan permaisurinya Nitisari dari kerajaan Pasir Batang Anu Girang. 

Purba sari diceritakan sebagai putri yang cantik jasmani dan rohani. Kecantikannya memikat dewata. Ketika Purba Sari mendapat ketidakadilan, penguasa langit memberikan perlindungannya.

Dalam cerita Lutung Kasarung disebutkan penguasa langit adalah seorang wanita. Dialah Sunan Ambu atau Nyi Pohaci. Ambu adalah ibu, indung dan sunan adalah sebutan untuk orang yang dihormati di atas kepala. Purba Sari selalu mendapat panduan untuk hidup berladang dari Sunan Ambu melalui mimpinya.

Sama halnya dengan Dayang Sumbi, tokoh Purbasari pun dijadikan represensi perempuan Sunda zaman dahulu. Penyabar, gemar bertapa dan suka mengalah. Saya teringat, bapak saya selalu berkata, "Indung mah kudu dijunjung, Bapa kudu dipuja Indung nu ngakandung, Bapa nu ngayuga."

Sunda merupakan sebuah budaya yang menjunjung tinggi perempuan.