Histeria kesetaraan gender sudah terdengar nyaring di mana-mana. Perayaan Hak asasi di Hari Perempuan dan Hari Kartini seperti sudah menjadi ritual keramat. Para lembaga advokasi dan pegiat kesetaraan gender membawa sesajen mistis berupa kain bertuliskan slogan kesetaraan hak dan keadilan bagi perempuan.

Orasi mereka seperti doa yang berulang setiap tahun, menuntut penghapusan diskriminasi terhadap perempuan dalam bentuk apapun. Hari ini kesetaraan sudah hampir mencapai klimaksnya. Kesetaraan sudah terjadi di pelbagai sektor seperti dalam bidang kerja dan strata sosial.

Sayangnya tren baik tersebut tidak terjadi di dunia pertelevisian tanah air. Sinema elektronik (sinetron) dan perfilman hari ini seperti tidak mempunyai semangat yang sama. Ketidakadilan gender masih menjadi bahan dagangan yang meyakinkan di dunia pertelevisian. Kekerasan dan pelemahan peran perempuan masih tampak jelas tersaji. Parahnya, produk-produk yang menimbulkan  bias gender dan mendiskriminasikan perempuan  masih tidak terbendung.

Suara nyaring pegiat feminisme kalah nyaring dengan suara tangisan dan rintihan perempuan di dalam sinetron. Ia  menggunakan media yang lebih efektif (televisi) sebagai penyalur pesan-pesannya yang menjadi semakin hidup, bergairah, dan memenuhi sasaran secara lebih efektif bila dibandingkan dengan pengeras suara yang berkoar menyuarakan kesetaraan. Pencegahan dan pengawasan oleh lembaga terkait terhadap sinetron menjadi abai.

Seperti kata George Ritzer dalam tesisnya,  manusia adalah aktor kreatif dalam membentuk realitas sosialnya. (Ritzer, 1992:43). Namun, paradigma sosiologi itu  Sudah tidak terjadi ada saat ini. Manusia tidak lagi menjadi aktor kreatif bagi dirinya.

Gejala tersebut dapat dinilai ketika dunia sinetron dan perfilmaan menyuguhkan apa yang disebut Karl Marx sebagai Kesadaran palsu. Alam pikiran manusia sudah teralienasi dari keberadaan sosial yang sebenarnya, dan lebih mengikuti tren yang dibentuk oleh sinetron dan film.

Tidak mengherankan jika dewasa ini, tak sedikit perempuan Indonesia lebih baik menyetarakan dirinya dengan lakon aktris dalam sinetron ketimbang menjadi seperti apa yang dikatakan Ritzer. Cerita perempuan dalam sinetron jelas telah mendegradasi semangat kesetaraan yang telah lama diusung.

Cerita sinetron telah merekonstruksi realitas  sebagian perempuan indonesia sebagai perempuan melankoli yang siap dianiaya. Dampak yang paling menohok adalah tren media sosial sebagai ajang pagelaran kesedihan. Seolah ‘sosial fiktif’ turut mengadvokasi pertunjukan air mata yang berasal dari si pengunggah foto.  

 Selain itu, Sinetron dan televisi telah muncul sebagai fenomena perubahan sosial. Ide ide itu dituangkan ke dalam instrumen kapitalis sehingga akhirnya perilaku masyarakat menjadi bagian dari masyarakat kapitalis yang konsumtif serta menjadi bagian dari produksi itu sendiri. jika dapat di sederhanakan maka setiap deraian air mata, perselingkuhan, dan semua adegan dalam sinetron menjadi instrumen kapitalis. Perempuan indonesia terpaksa mengkonsumsi produk abal kesenian.

Keprihatinan tersebut harus bisa menggugah  insan pertelevisian untuk mengubah alur cerita perempuan dalam sinetron dan film. Streotip terhadap perempuan harus segera diminimalisir. Jadikanlah perempuan sebagai intrik cerita yang bermakna bukan hanya sebagai objek sengsara. Tak cukupkah kita melihat keprihatinan yang di derita cut nyak dien dan kartini sebagai simbol kesetaraan? dan Menolak segala intimidasi dan diskriminasi terhadap perempuan. 

Ada baiknya kita menimbang hal ini melalui kacamata kenegaraan. Pada era Abdurahman wahid (Gus Dur) telah keluar Intruksi presiden no.9 tahun 2000, tentang pengarusutamaan gender dalam pembangunan nasional.

Hal ini adalah upaya dalam rangka meningkatkan kedudukan, peran, dan kualitas peremuan, serta upaya mewujudkan kesetaraan dan keadlian gender dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dipandang perlu melakukan strategi pengarusutamaan gender dalam seluruh proses pembangunan nasional.

Di point ke dua termaktub bahwa harus pengarusutamaan gender di bidang komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE). maka kesimpulan akhirnya adalah hari ini sedang terjadi diskriminasi terhadap perempuan dalam bentuk apapun termasuk dalam bentuk sinema maka itu adalah tindakan insubordinasi. Harus dilaporkan dan ditindak tegas!.