Untuk menghindari atau menghentikan perdebatan Mas Bambang, kesayangan saya satu-satunya, sering bilang, "Perempuan selalu benar."

Saya bukan Milea yang tersenyum manis setiap diiyakan perkataannya oleh Dilan. Perdebatan terhenti tapi disertai rasa tak nyaman karena "pernyataan" semacam ini meniadakan dialog. Berhubung tidak boleh kelonan untuk meredakan emosi karena belum dapat ijab sah, satu-satunya jalan tuh kita harus ngobrol, Mas!

Bisa memaklumi ketidakberdayaan mas Bambang. Diskon 5% tertera di label harga sabun mandi saja sudah menjadi alasan kuat untuk beli empat batang sekaligus padahal tidak akan habis dipakai karena dalam waktu sebulan mungkin sudah bosan baunya lalu pengen ganti. Terjajah subtitle drama korea juga dianggap pengalaman hidup yang berharga. Laki-laki mana bisa paham perkara rumit semacam ini?

Saya sih bisa sedikit memahami situasi rumit yang dihadapi laki-laki. Sekadar saran, jika tak punya ilmu kebatinan, setidaknya cobalah memaksa diri berpikir lebih kreatif. Ikhtiar menyamar sebagai cicak yang menempel di dinding, misalnya. Hahaha.

Menjadi perempuan itu tak mudah. Belum kawin dikomentari terlalu pemilih; sudah kawin suaminya kurus yang disalahkan istri katanya tidak mengurus dengan baik; punya anak hidungnya beringus ibunya yang digunjingkan, anak dan suami terurus tapi saking sibuknya mengurus keluarga sampai diri sendiri dekil masih harus menghadapi komentar yang menyakitkan hati dianggap mirip babu.

Secara bersamaan, nilai seorang perempuan sering kali juga dilihat dari sebanyak apa ia berkorban. Atau dari stereotip tertentu seperti lemah lembut, penyabar, penyayang, anggun, elegan, dan seterusnya bahkan dibandingkan dengan perempuan yang lain tanpa ada habisnya.

Yang saya sebut di atas itu baru soal tekanan sosial yang didapat seorang perempuan dalam statusnya sebagai lajang, istri, dan ibu. Belum segala rupa permasalahan di lingkungan pekerjaan, pergaulan, kadang malah di keluarga sendiri.

Saya terlalu sering mendengar keluh-kesah mereka yang sudah menikah tapi merasa tak kunjung bertemu bahagia. Dulu berpikir merasa sendirian padahal sudah berpasangan hanyalah mitos belaka, kenyataannya ternyata berbeda.

Banyak hal terjadi yang tidak mungkin diceritakan oleh perempuan atau mungkin sudah diceritakan tapi laki-laki tak menganggapnya penting. Cerita dan ajakan berkomunikasi selalu dihentikan dengan mengucap mantra 'perempuan selalu benar' untuk menempatkannya dalam situasi yang serbasalah lalu terdiam.

Pada situasi tertentu perempuan selalu benar, tapi bukan berarti laki-laki akan selalu salah. Demikian juga sebaliknya. Apa susahnya berpikir seperti ini?

Terlihat rumit padahal sangat sederhana. Perempuan dan laki-laki punya kesamaan yang mendasar: sama-sama manusia.

Apa perempuan tak bisa jadi manusia apa adanya saja?

Menurut riset, laki-laki punya kecenderungan rasional daripada emosional, tapi bukan berarti perempuan itu keahliannya hanya merajuk saja tanpa bernalar. Menurut saya yang hanya cuilan donat, seperti inilah (kurang lebih) pintu masuk yang mudah untuk memahami kesetaraan gender. Entahlah bagaimana rumus kesetaraan gender yang ideal atau yang benar. Kadang saya ingin tahu, tapi kadang juga tak peduli.

Setiap orang menjalani kehidupannya sesuai dengan cara-cara yang ia pahami. Setiap orang menjadi musuh dari segala sesuatu yang tidak ia ketahui.

Menganggap perempuan itu makhluk lemah sampai tersenggol sedikit saja bisa jungkir balik, ngambekan, bisanya cuma arisan, Anda tahu Bu Susi yang hobi menenggelamkan kapal dan makan ikan? 

Menganggap laki-laki tidak paham urusan domestik, khususnya perdapuran, karena kodratnya sebagai makhluk yang setrong, sampeyan pernah nonton Om Rudy Chaeruddin masak di TV? Saya, seorang perempuan, paham bumbu dasar ada tiga jenis itu dari nonton acaranya Om Rudy.

Anggapan laki-laki harus setrong itu juga merusak laki-laki sendiri, tidak ada kesempatan untuk mengambil jeda dan menangisi apa pun yang melukai hatinya, itu juga toksik. Ya alhamdulillah kalau baik-baik saja, kalau jadi depresi trus piye? Tidak mungkin ada manusia yang setrong senantiasa. Avengers tah?

Laki-laki dan perempuan tidak sedang audisi untuk peran setan dan malaikat dalam menjalani kehidupan. Kita tidak hidup untuk selalu berdebat tentang benar dan salah.

Mari simak kembali persepsi tentang laki-laki dan perempuan jika yang Anda yakini masih seputar laki-laki itu Hulk yang kolornya selebar spanduk sementara perempuan adalah Cinderella yang butuh Ibu Peri.

Apa sih persepsi? Menurut KBBI, persepsi adalah tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu. Secara teori sih banyak yang menjelaskan tentang persepsi. Tapi saya batasi, persepsi yang dimaksud di sini adalah persepsi yang selektif. Jadi apa yang kita pahami dari sesuatu bukan hanya tangkapan pancaindra, tapi juga dipengaruhi oleh pengetahuan dan pengalaman.

Perempuan bukanlah teks yang tak bisa dibaca. Meskipun benar bahwa tidak ada yang akan bisa mengajarimu tentang perempuan.

JM Storm menuliskan beberapa puisi yang akurat sekali untuk menggambarkan perempuan, dari sudut pandang laki-laki yang berusaha mendengar dan memerhatikan. Ini favorit saya:

"She sees in black and white, thinks in greys, but loves in color."