Indonesia merupakan salah sartu pemain besar dalam relasi ekonomi global. Indonesia merupakan negara dengan populasi terbesar ke-4 di dunia.

Jumlah penduduk Indonesia akan mengalami bonus demografi yang proporsi penduduk usia produktif mencapai 70%. Ini akan menjadi nilai tambah bagi Indonesia dalam memanfaatkan Sumber Daya Manusia sebagai upaya pengembangan ekonomi nasional.

Tren kreatif di Indonesia mulai berkembang di era globalisasi ini dan menjadi sektor utama dalam pergerakan ekonomi nasional. Untuk itu pemerintah dengan cepat bergerak mengambil kesempatan ini dengan fokus dalam sektor ekonomi kreatif.

Keseriusan pemerintah dalam mengembangkan ekonomi kreatif Indonesia dengan membentuk Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) agar Indonesia bisa menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia pada tahun 2013.

Dengan dibentuknya kementerian khusus ekonomi kreatif, maka sektor industri ini mendapatkan perhatian khusus dan fokus dari pemerintah. Indonesia melihat bahwa industri kreatif terus tumbuh. Industri kreatif akan menjadi kekuatan baru di era globalisasi.

Industri kreatif memberikan kontribusi yang besar dalam hal pertumbuhan ekonomi maupun penyerapan tenaga kerja. Sektor ekonomi ini berkontribusi 7,1% terhadap PDB nasional, menyerap 12 juta tenaga kerja dan penyumbang devisa 5,8% tahun 2014, dan telah berhasil memperoleh pangsa pasar di tingkat global dengan nilai ekspor mencapai USD 15,39 miliar pada 2015.

Tenaga kerja industri kreatif mengalami peningkatan setiap tahunnya. Berdasarkan hasil sakernas tahun 2011-2016, jumlah tenaga kerja ekonomi kreatif cenderung mengalami peningkatan, dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 4,69 persen per tahun.

Tenaga kerja ekonomi kreatif pada tahun 2011 tercatat sebanyak 13,45 juta orang perlahan terus naik hingga mencapai 16,91 juta orang pada tahun 2016.

Secara keseluruhan subsektor, komposisi tenaga kerja industri kreatif berdasarkan gender akan dijabarkan melalui data statistik berikut ini.

Gambar 1 : Komposisi Tenaga Kerja Industri Kreatif Berdasarkan Gender
Sumber: Badan Pusat Statistik 2018

Dari gambar di atas merupakan Laporan yang dikeluarkan oleh BPS dan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dalam laporan “Tenaga Kerja Ekonomi Kreatif”.

Menyimpulkan bahwa jumlah tenaga kerja perempuan mengalami peningkatan setiap tahunnya dan memiliki presentase lebih besar daripada tenaga kerja laki-laki. Ini menunjukan perempuan sebagai pemain utama dalam indutri kreatif dengan presentase sebesar 53,86%.

Jika dilihat dari jumlah dan pertumbuhan tenaga kerja ekonomi kreatif tahun 2011-2016, berdasarkan Sakernas, jumlah tenaga kerja ekonomi kreatif cenderung mengalami peningkatan, dengan rata-rata  4,69 persen per tahun.

Tenaga kerja ekonomi kreatif pada tahun 2011 tercatat sebanyak 13,45 juta orang dan terus naik mencapai 16,91 juta orang pada tahun 2016.

Grafik di bawah merupakan jumlah tenaga kerja berdasarkan 3 subsektor tertinggi: Fashion, Kriya dan Kuliner. Tahun 2016, subsektor kuliner mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 7,89 juta orang, Fashion, dan Kriya sebesar 4,13 juta orang dan 3,72 juta orang.

Gambar 2 : Jumlah Tenaga Kerja Sub Sektor Ekonomi Kreatif di Indonesia, 2011-2016  (juta orang)
Sumber : BPS RI, Sakernas 2011-2016

Perempuan dan ekonomi kreatif memiliki keterkaitan yang melekat belakangan ini. Perempuan mendominasi serapan tenaga kerja di sektor industri kreatif. Hal ini tentu menunjukan bahwa ide dan kreatifitas perempuan tidak bisa disepelekan.

Dalam mempelajari keinginan pasar dan mewujudkan dengan sumber daya yang ada, intuisi tajam dari seorang perempuan mampu mengantarkan perempuan menjalin jaringan komunikasi yang baik, baik di dalam maupun luar jaringan media sosial, sehingga memudahkan pemasaran produk dan jasa kreatif ke berbagai kalangan.

Kecenderungan perempuan memberdayakan ekonomi kreatif ternyata sudah menjadi fenomena yang mendunia. Hasil observasi dari Lembaga independent Ernst and Young berjudul “Cultural Times: The First Global Map of Cultural and Creative Industries” menggambarkan bahwa mayoritas industri kreatif di dunia masih didominasi kaum hawa.

Terutama di negara-negara berkembang dan dalam masa ekonomi transisi, pengusaha wanita banyak menjadi pencetus ide dan pembuat karya asli dari produk yang dihasilkan.

Dalam hal ini tentunya perempuan tidak bekerja sendiri. Adanya kebijakan pemerintah dapat mendorong keberlangsungan sektor kreatif, sehingga dapat menimbulkan dampak bagi perekonomian nasional terutama kaum hawa. Karena perempuan sangatlah rentan dengan kemiskinan dan tindakan stratifikasi sosial.

Kebijakan-kebijakan yang dilakukan pemerintah dalam pengembangan ekonomi nasional melalui industri kreatif akan meningkatkan peran perempuan terlibat secara langsung dalam perkembangan ekonomi kreatif.

Sebagai salah satu contohnya adalah Pemerintah bekerja sama dengan Yayasan Cita dan Kadin Indonesia memberdayakan kaum perempuan di berbagai daerah untuk menghadirkan produk-produk kreatif khas Indonesia.

Tidak hanya Yayasan Cita yang ikut serta dalam pengembangan kontribusi perempuan dalam ekonomi kreatif, thepressweek dalam artikelnya menyebutkan dalam sebuah acara Empower Women in Spark yang diselenggarakan oleh Women’s International Club.

Acara tersebut terdiri dari talkshow, fashion show dan bazzar yang dihadiri oleh: Rita Pusponegoro (presiden Women’s Internasional Club), Yukari Sunaga (istri Duta Besar Jepang untuk ASEAN), Sendy Yusuf (Istri politikus Dede Yusuf), Tini Sardadi (owner Artkea), dll.

Pada awalnya perempuan hanya dinilai lebih baik mengurus pekerjaan rumah tangga saja. Namun seiring berjalannya waktu, perempuan mulai menunjukkan keahliannya dan berhasil membuktikan bahwasanya keberadaan mereka layak untuk diperhitungkan.

Kecerdasan serta kepiawaian perempuan-perempuan Indonesia khususnya tidak bisa lagi dianggap remeh karena telah turut berkontribusi terhadap pembangunan.

Melalui sektor industri kreatif inilah pemberdayaan perempuan dapat dilaksanakan dengan sangat baik dan memberikan dampak bagi kelangsungan hidup bermasyarakat serta menaikkan martabat sebagai perempuan.

Perempuan tidak lagi dianggap hanya berada di bawah laki-laki, namun sanggup bersaing. Hal ini merupakan jalan strategis untuk merubah paradigma pembangunan sumber daya manusia (perempuan) yang lebih mengedepankan kesetaraan gender.