Inspirasi bisa datang dari mana saja. Tak butuh peristiwa besar yang diberitakan luas untuk menginspirasi. Peristiwa-peristiwa sepele yang mungkin kita anggap sebagai bagian dari keseharian pun dapat memberi inspirasi bila benar-benar diresapi dan direnungi. Inspirasi terbesarku datang dari perempuan-perempuan yang ada di sekitarku.

Perempuan pertama yang menginspirasiku adalah ibuku. Ia yang telah bertaruh nyawa untuk melahirkanku secara normal. Tidak sedikit pun pernah terlintas di benaknya bahwa bentuk tubuhnya mungkin takkan seindah semasa gadis dulu atau resiko perdarahan yang mungkin terjadi.

Bagaimana pun, kondisi layanan kesehatan ketika aku dilahirkan hampir 35 tahun silam tentu tak sebaik saat ini. Toh, itu tak menyurutkan tekadnya. Baginya memang sudah kodrat seorang perempuan untuk mengandung selama sembilan bulan, melahirkan dengan susah payah, serta berjuang membesarkan sang buah hati terkasih hingga menjadi sosok yang membanggakan.

Bibiku juga adalah inspirasi bagiku. Ia, yang ditinggal meninggal suaminya lima tahun lalu, mampu menjalankan berbagai peran sekaligus. Pada saat yang bersamaan, ia menjadi ibu sekaligus ayah bagi kedua anaknya, pencari nafkah juga pengurus di sektor domestik. Hebatnya, beliau selalu punya waktu untuk melakukan semuanya tanpa pernah menggerutu atau mengeluh. Di mataku, beliau sungguh adalah perempuan perkasa.

Namun, bukan hanya mereka saja perempuan yang menginspirasiku. Inspirasi terbesarku justru datang dari bocah-bocah perempuan yang sama sekali tak kukenal sebelumnya.

Mereka adalah bocah-bocah yang mungkin dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang, namun bila direnungi justru memberi inspirasi betapa perempuan, berapa pun usia dan bagaimana pun keadaannya, ternyata memiliki keuletan yang mengagumkan. Dalam hal ini, kesulitan hidup di jalanan, terutama untuk sekedar memperoleh air demi bertahan hidup, menjadi tantangan mereka.

Elizabeth (7) dan Nurma (15) kukenal di jalanan. Sebelum mengenal mereka berdua, aku selalu berpikir bahwa kesulitan memperoleh air bersih hanya terjadi di pelosok yang sering dilanda kekeringan dan sangat sedikit memperoleh curah hujan.

Para ibu berebut pasokan air bersih atau harus berjalan puluhan kilometer demi mencapai sumber air yang kadang mengering pada kemarau panjang. Namun, perkenalan dengan Elizabeth dan Nurma, menyadarkan kealpaanku memperhatikan persoalan pelik yang tak jauh dari keseharian sendiri.

Ellis, panggilan akrab Elizabeth, terlahir sebagai anak tunggal dari keluarga sederhana. Ayahnya telah tiada setahun lalu. Untuk mencukupi kebutuhan hidup, ibunya lantas bekerja apa saja. Walau sulit, kala itu, Ellis masih bisa menikmati keceriaan belajar di sebuah SD tak jauh dari gubuk mereka yang terletak di pinggiran Sungai Deli, Medan. Tapi, semua tak berlangsung lama.

Enam bulan lalu, ibu yang sangat dicintai Ellis terserang diare berat hingga tubuhnya lunglai tak berdaya. Para tetangga yang hampir semuanya senasib dengan keluarga Ellis mencoba membawa berobat ke sebuah klinik swasta. Namun, jangankan mendapatkan perawatan, mereka malah tak dipedulikan dan diminta pergi ke puskesmas atau rumah sakit milik pemerintah. Sayangnya, di perjalanan, sang maut menjemput.

Ellis tenggelam dalam tangis. Ia tak mengerti mengapa ibunya harus pergi begitu cepat. Ada seorang tetangga yang mengatakan bahwa ibunya terserang diare karena mengkonsumsi air kotor. Memang, akibat dihimpit kemiskinan, terpaksa air Sungai Deli yang keruh digunakan untuk berbagai keperluan sehari-hari.

Bila akan diminum atau dipakai memasak, ibu Ellis biasanya mengendapkannya sehari semalam. Itu pun hasilnya masih keruh dan berbau, tapi tak ada pilihan lain. Air telah merenggut masa depan Ellis. Jadilah ia sekarang bergelut dengan kejamnya jalanan demi bertahan hidup.

Ellis kemudian bertemu dengan Nurma. Nurma pun tak memiliki keluarga lagi. Nurma terpisah dengan ayah, ibu, dan adiknya yang masih berusia beberapa bulan saat banjir besar melanda rumah kumuhnya di pinggiran Kota Medan bertahun lalu. Air telah menghanyutkan kebahagiaan Nurma.

Kini, Nurma melewatkan hari-harinya bersama Ellis. Di pagi hari mereka melakoni pekerjaan sebagai pedagang asongan. Pada siang dan malam hari, mereka akan sejenak mengistirahatkan tubuh mungil yang didera rasa lelah.

Untuk mandi sehari-hari, Ellis dan Nurma biasanya menumpang pada sebuah warung makan. Itu pun tak setiap hari. Rasa sungkan kepada pemilik warung membuat mereka lebih sering terpaksa membersihkan diri di air Sungai Deli yang kecoklatan. Walau berbekal sebatang sabun, keruhnya air tetap tak mampu menyingkirkan debu dan kotoran setelah bergelut seharian di jalanan. Bukannya bersih, kulit mereka malah menjadi gatal dan bersisik.

Karena tak tahan dengan rasa gatal, Nurma sering menggaruk sekujur tubuhnya hingga lecet dan penuh luka. Sedangkan Ellis yang acapkali merasa gatal pada organ kewanitaannya sesekali membasuhnya dengan air rebusan daun sirih, sesuai saran seorang perempuan tua yang juga tinggal di jalanan. Sebisanya saja, karena uang yang ia peroleh lebih sering habis untuk makan.

Tak setiap kali merasa haus Ellis dan Nurma bisa langsung meneguk air segar. Meski terik terasa menyesakkan, mereka memaksakan diri bertahan hingga tiba waktu makan siang. Ketika itu, barulah mereka akan minum sepuasnya sembari menikmati sepiring nasi berikut lauk seadanya di warung makan langganan.

Sang pemilik warung, yang kebetulan adalah seorang janda tanpa anak, tak pernah keberatan mengisi ulang teko air di meja. Mungkin ia maklum betapa sulit bagi keduanya untuk memperoleh air minum.

Bukan hanya kesulitan air yang harus mereka hadapi. Pelecehan, kekerasan oleh sesama anak jalanan atau aparat pemerintah, hingga tatap tak bersahabat dari orang-orang ketika melihat mereka juga menjadi keseharian yang takkan pernah mudah. Toh, senyum dan tawa riang tetap terlihat di wajah lugu mereka.

Dengan caranya masing-masing, empat perempuan tadi telah menginspirasiku. Mereka menyadarkanku bahwa perempuan sama sekali bukan makhluk lemah, melainkan sosok yang berdaya dan memiliki kapasitas untuk melakukan banyak hal bagi diri, keluarga, komunitas, dan masyarakatnya.

Sekarang, aku punya perspektif baru dalam memandang perempuan. Bukan lagi perspektif yang bias dan kental dengan seksisme, namun perspektif yang bijak memaknai keberadaan mereka sebagai mitra sejajar bagi laki-laki untuk berjuang bersama mewujudkan dunia yang lebih baik untuk semua.