"Sama seperti di film favoritmu, semua cara akan kucoba, walau peran yang aku mainkan bukan pemeran utamanya." (Sheila On 7).

"Pemeran" Utamanya Perempuan

Dalam seminggu, pada Desember 2019 ini, aku menghabiskan waktu dengan menonton tiga film. Tiga film ini yang lagi diputar di bioskop Mamuju, Sulawesi Barat.

Film pertama, film barat (Amerika) yang berjudul Star Wars; The Rise of Sky Walker. Kemudian, dari negeri sendiri, ada film Habibie-Ainun. Film yang terakhir, yang masih dari negeri sendiri, Imperfect: karier, cinta, dan timbangan.

Semua pemeran utamanya adalah perempuan. Perempuan yang "cantik", "cerdas", dan "berani". Cantik, pintar, dan berani, aku berikan tanda kutip (") karena kecantikan, kepintaran, dan keberanian mereka yang berbeda-beda dalam menghadapi berbagai perang.

Ya, perang. Mengutip tulisan A. Setyo Wibowo dalam kata pengantarnya, Bahagia Ala Stoa, dalam buku Henry Manampiring, Filosofi Teras, filsafat Yunani - Romawi kuno untuk mental tangguh masa kini, mengatakan bahwa hidup kita ini setiap hari adalah berperang!

Karena ketika kita keluar rumah, kita harus berperang menghadapi macet di  jalanan di Jakarta yang membuat emosi. Tiba di kantor, kita harus siap dengan berbagai persoalan yang membuat stres. Belum lagi berita-berita di TV, radio, dan medsos isinya penuh perang, perang mulut.

Namun, dalam film ini, mereka (perempuan) berperang dalam kehidupan mereka masing-masing dalam film. Film-film ini mengangkat sosok tokoh-tokoh perempuan yang luar biasa menghadapi berbagai persoalan yang terjadi dalam hidup mereka.

Star wars; the rise of skywalker dibintangi oleh aktris cantik Daisy Ridley, yang berasal dari Inggris. Daisy Ridley berperan sebagai Rey. Film Habibie-Ainun 3, walau terlihat bercerita tentang kehidupan mantan presiden Republik Indonesia, Bj, Habibie namun film berfokus pada cerita kehidupan pribadi ibu negara, Ainun. Ainun yang cerdas yang dimainkan oleh Maudy Ayunda. 

Dan film Imperfect, dimainkan dengan berani oleh Jessica Mila. Aku katakan dia berani memainkan film ini, karena Jessica Mila yang terlihat sangat cantik dan lembut di sinetron Ganteng-Ganteng Serigala bisa keluar dari zona nyamannya. Dia menjadi Rara yang gemuk, dan hitam.

Rey, Ainun, dan Rara

Dari menonton film pertama, yang kutangkap adalah Rey merupakan anggota dari "komunitas" Resistance. Ketika teman-temannya diserang oleh kelompok First Order, Rey merasa terpanggil untuk membantu berperang melawan First Order. 

Nyatanya, Rey harus berhadap-hadapan dengan Ren, seorang laki-laki yang harusnya menjadi soulmate-nya, temannya, partnernya bersama melawan kekuasaan Palpatine, penguasa tertinggi di First Order. 

Bukan hanya Ren, Rey harus sendiri "berkelahi" dengan kakeknya sendiri, Palpatine. Ternyata dia adalah keturunan langsung, emperor jahat, Palpatine. Menurut Palpatine, dia akan diangkat menjadi pemimpin menggantikan dirinya.

Dalam perkelahian ini, Rey harus berperang batin antara mengikuti perintah kakeknya, Palpatine, agar kelompok Resistance selamat atau melawan kakeknya sendiri. 

Rey yang cantik dan tangguh itu akhirnya mengikuti kata hatinya, semua diselesaikan dengan hati. Dia mengingat mengapa dulu orang tuanya memisahkan dia dari kehidupan aslinya, agar dia menjadi seseorang yang memiliki hati. Dia melawan kakeknya dengan kekuatan hati perempuan melawan simbol kejahatan Palpatine.

Dalam film Habibie-Ainun, Ainun yang cerdas itu harus berhadapan dengan senior-seniornya di jurusan kedokteran, Universitas Indonesia (UI). Para senior, yang berkelamin laki-laki itu, memandang rendah pada Ainun yang cerdas, yang bercita-cita jadi dokter. Menurut mereka, perempuan walau belajar, berkuliah, mereka akan ke dapur juga ketika menjadi istri (berumah tangga).

Ainun melawan stigma-stigma itu dengan tetap giat belajar, dan melakukan kerja-kerja sosial, menolong orang yang tidak mampu yang sakit dengan ilmu kedokteran yang dimilikinya.

Namun, Ainun sempat putus asa, ketika dia merasa gagal menolong anak yang jatuh dari permainan pasar malam. Tapi, anak itu meninggal. Ainun pulang ke rumah dan disemangati oleh ayahnya.

Ainun kembali berkuliah dengan spirit baru. Namun, masalah yang lain muncul, Ahmad, pacarnya, anak seorang profesor, dosennya sendiri harus putus dengannya. Padahal, mereka selalu bersama dan saling mendukung. Mereka berpisah karena beda visi dan misi. Ainun ingin mengabdi di negaranya, Indonesia. Sedangkan Ahmad yang berjiwa bebas petualang ingin hidup di luar negeri.

Pada akhirnya, Ainun berperang melewati semua masalah dalam hidupnya. Lalu, lulus dari UI dan mendapat predikat sebagai lulusan terbaik. Seniornya, yang dulu meremehkannya, kemudian mengakuinya. Ainun yang cerdas dan baik hati itu merasa bahagia dapat membuat orang tuanya, dosennya, dan teman-temannya bangga padanya.

Rara digambarkan sangat berbeda dengan adiknya yang cantik, putih, dan ramping. Sedangkan, Rara bertubuh tinggi besar, gemuk, dan hitam. Di rumah, Rara "tidak dianggap" oleh teman-teman ibunya, para mantan model.

Di kantor pun, Rara harus berperang melawan teman-temannya yang sok cantik, sok keren, sok pintar, ketika dia harus bersaing mendapatkan posisi sebagai manejer. 

Menurut bosnya; otak Rara memang nomor satu, namun casing-nya harus dipermak. Untuk menjadi manejer, Rara harus merubah imejnya terlebih lagi, dia bekerja di industri kecantikan di mana cover yang dinilai duluan.

Rara pun berniat berubah, untuk menurunkan berat badan. Dia "berperang" dengan olahraga, mengurangi makan, dan belajar berdandan pada adiknya. Rara kemudian punya body yang seimbang, lalu menjadi tambah cantik, keren, dan modis.

Namun, perubahan Rara membuat pacarnya, seorang laki-laki yang sejak awal menerima dia seada-adanya menjadi merasa Rara bukan yang dulu. Rara tidak menjadi dirinya sendiri. 

Akhirnya, Rara sadar. Dia tidak harus menjadi sosok yang orang lain gambarkan tentang konsep kecantikan yang mereka amini. Rara tetap cantik walau dia gemuk, hitam, dan bukan perempuan yang "sangat modis".

Selamat kepada Rey, Ainun, dan Rara. Mereka mampu menjadi diri sendiri, berperang dengan caranya, melawan sesuatu yang menghambat kehidupan mereka. Dan tidak harus mengikuti standar orang-orang atau kata orang. Namun, mengikuti kata hati dan orang yang mendukung. Pastinya, tetap jadi "pemeran utama" bagi diri sendiri.