Sesaat setelah berbicara melalui telepon, ia lalu duduk di depan mesin jahit listrik. Menyelesaikan sisa pesanan masker kain. Aktivitas membuat masker baru dilakoni seminggu terakhir ini. Semula ia hanya mengerjakan pesanan berupa mukena dan sesekali menerima permak pakaian.

Orang yang diajaknya berbicara di ujung telepon itu adalah koleganya yang selama ini menjadi reseler hasil mukena yang dijahitnya. Kini, si reseler memesan lusinan masker kain. Pesanan masker melonjak setelah stok masker medis menjadi langka.

Horor yang menghampiri bukan karena terpapar virus, melainkan dampak ekonomi yang mandek. Ia menerima pesan pahit dari langganannya yang membatalkan pesanan mukena.

“Apa boleh buat, saya tidak tahu kalau kondisinya bisa seperti ini,” ucapnya.

Pupuslah rencana yang sejak semula sudah membayangkan meraup keuntungan di bulan ramadan. Permintaan mukena sebagaimana ramadan sebelumnya akan meningkat.

Ketika bertandang ke rumahnya untuk mengambil pesanan masker kain, ia tampak menyiangi tanaman di kebun samping rumahnya. Ia lalu menceritakan kalau pesanan masker telah membantu menyelamatkannya menutupi modal pembuatan mukena.

Melawan Social Distance

Ini kisah lain dari seorang perempuan pekerja. Saban hari, ia menjajakan kue keliling kompleks perumahan. Sejak pemerintah pusat hingga di daerah mengeluarkan imbauan berdiam di rumah.

Imbauan itu ditanggapi beragam kelompok masyarakat. Mbak Jum (46), demikian ia disapa, tetap menunggangi sepeda motornya keluar masuk kompleks perumahan. Jika tidak berjualan, ia kewalahan menutupi kebutuhan ekonomi keluarganya.

Perempuan pekerja yang tetap menjalankan aktivitas sebagaimana biasa, daftarnya bisa sangat panjang. Posisinya di sektor informal berdampak lebih besar dibanding pekerja kaum perempuan di sektor formal yang memiliki perlindungan dari tempat mereka bekerja.

Potensi bahaya yang dihadapi bagai pisau bermata dua. Mundur kena–maju juga kena. Jika berdiam (mundur), bayangan ketar-ketir ekonomi menghampiri. Jika tetap keluar (maju), bahaya terpapar virus merupakan ancaman nyata.

Namun, ia tidak mau berpangku tangan. Kalaupun ada derma yang mereka terima, sifatnya hanya sementara dan bukan jaminan kebutuhan yang terus berjalan.

Profesi serupa yang ditekuni Mbak Jum tidak punya kuasa mematikan ekonomi lalu menghidupkannya kembali. Sekali ekonomi berhenti, maka selamanya mati. Kalaupun harus dihidupkan, akan tergantung dengan perkembangan situasi.

Membaca kiprah perempuan pekerja di situasi normal pun, ancaman tetap menghantui. Belum lagi jika kita mendata berapa jumlah pekerja perempuan sebagai TKI di luar negeri. Pandemi Covid-19 ini tentulah menjadi tambahan horor yang harus dihadapi secara bersamaan.

Prospek di Lautan Virus

Sekarang kita tengok kiprah pekerja perempuan di sektor formal. Di hari-hari sejak imbauan penjarakan sosial diterapkan, seorang wiraniaga yang bekerja di perusahaan dealer mobil tetap beraktivitas sesuai jadwal.

Kita tahu, metode kerja wiraniaga sesungguhnya dinamis. Dikatakan demikian karena cakupan kerjanya harus selalu membuka peluang untuk menabung data prospekan. Jadi, meski mengikuti jadwal kerja dari Senin hingga Sabtu, di hari Minggu pun mereka tetap melakukan rutinitas pekerjaan.

Begitulah semesta kerja dunia wiraniaga. Nah, ketika warga diminta berdiam diri di rumah, ia harus merespons situasi horor ini sebagai tantangan yang harus dihadapi.

Jadi, ia tetap melakukan kunjungan ke sejumlah rumah dengan sentuhan kreativitas. Tentunya ia sudah melengkapi dirinya dengan balutan masker menutupi mulut dan selalu membawa handsanitizers.

Ia menceritakan kalau kunjungannya ke beberapa lokus mencari prospekan, Dirinya juga membawa misi mulia dengan membagikan masker gratis kepada setiap orang yang menjadi calon pelanggan.

Meski misinya itu tetap saja berisiko, ia tidak punya pilihan karena atasan di kantornya selalu menagih hasil kerja berupa laporan kunjungan. 

Sejauh ini, memang, sejumlah perusahaan memberlakukan WFH (Work From Home). Peluang ini sebenarnya cocok bagi kerja wiraniaga. Ia bisa tetap melakukan prosepekan dengan menelepon.

Tetapi, kebijakan internal setiap perusahaan tentu ada perbedaan. Dan, di perusahaan tempatnya bekerja, WFO (Work From Office) tetaplah yang diutamakan. Pagi melangkah mencari prospekan, sore hari dilakukan evaluasi di kantor.

“Ini berat, tetapi harus tetap berpikir positif,” tukasnya.

Kiprah ketiga perempuan pekerja di atas menjadi cerminan betapa di masa sulit. Tuntutan memenuhi target dan gerak ekonomi tetaplah prioritas. Hal ini juga menjadi kaca spion untuk melihat ke belakang, kalau betapa negara dan swasta sama sekali tidak memiliki tabungan dalam menghadapi bencana.

Bencana Covid 19 ini tentu saja berbeda dengan bencana alam atau krisis ekonomi. Ini perang melawan sesuatu yang tak kasat mata namun mematikan. Tapak ini perlu menjadi pembelajaran bersama kalau lumbung harus selalu diisi agar bisa bijak menghadapi horor yang mematikan.