Salah satu universitas yang lebih universal dari universitas tempat kita kuliah ialah warung kopi. 

Bila universitas yang dikenal dengan kampus diisi beragam agama, suku, dan bangsa menyeleksi penghuninya, maka warung kopi tidak demikian. Semua boleh berada di warung kopi. Tidak peduli usia muda dan tua, agama, suku, semua boleh berada tanpa harus diseleksi.

Di Aceh, warung kopi merupakan tempat yang sangat pluralis. Bukan hanya orang yang datang, urusannya juga beragam. 

Tetapi sayangnya, sejak pemberlakuan syariat Islam, perempuan seolah dibatasi. Pemda Bireun, misalnya, mengimbau agar perempuan yang ngopi di atas pukul 21:00 WIB jangan dilayani.

Standarisasi ngopi bagi perempuan seolah membenarkan yang dikatakan Jean-Jacques Rousseau: "Manusia dilahirkan bebas, namun di mana-mana ia dipenjara; itulah perempuan." 

Pandangan negatif perempuan ngopi, terutama di malam hari, bahkan diatur secara formalitas, merupakan cara memenjara perempuan. Cara membatasi gerak perempuan yang selalu dianggap sebagai sumber masalah, terutama di negeri bersyariat Islam.

Padahal warung kopi di Aceh memiliki penerangan yang memadai. Tidak seperti diskotik maupun cafe-cafe. Dengan demikian, pandangan negatif, terutama sampai melarang perempuan ngopi di malam hari, tidak beralasan. 

Bahkan larangan duduk semeja bagi yang bukan muhrim bukan solusi mencegah pergaulan bebas. Bisa jadi mereka membicarakan bisnis atau urusan sosial; mengapa harus dipandang negatif apalagi sampai dilarang?

Kalau ingin mencegah zina, mengapa tidak didahului dengan memberhentikan praktik riba yang masih marak di Aceh? Bukankah dosa riba itu seperti menzinahi ibu sendiri (HR. Ath-Thabrani. Lihat silsilah shahihah no. 1871)? 

Bahkan satu dirham hasil riba ibarat melakukan 36 kali zinah (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al-Albani dalam Misykatul Mashabih mengatakan bahwa hadis ini sahih). Nah, di Aceh, masih banyak praktik riba yang kadang lembaga tersebut malah menjadi sponsor kegiatan keagamaan.

Sementara ngopi belum bisa dikategorikan zina meski dilakukan perempuan dan laki-laki bukan muhrim. Sehingga pelarangan maupun pemikiran negatif tersebut tidaklah bisa diterima, terlebih bila sesama perempuan ngopi di malam hari.

Imbauan maupun stigma akan perempuan ngopi di malam hari mendapat perlawanan perempuan Aceh. Anda bisa datang ke beberapa warung kopi di Aceh. Misalnya Anda bisa mengunjungi Gerobak Arabica di Pango. Atau warung kopi Solong di Ulee Kareng, Banda Aceh.

Barangkali mereka punya dalil kuat untuk ngopi di malam hari. Mereka tidak peduli anggapan orang lain. Mereka paham sejarah bagaimana Cut Nyak Dhien memimpin perang bukan hanya sebatas ngopi. Bila berperang saja it's oke, mengapa ngopi harus diatur segala?

Memang benar, masih ada yang menganggap perempuan ngopi di warkop, apalagi di malam hari, kurang etis. Bahkan kaum terpelajar masih mempersoalkannya. Umumnya alasan utama mereka ialah kurang etis.

Entah etis bagaimana yang mereka maksud. Yang pasti, sikap ambigu bahkan diskriminatif kerap terjadi. Diskriminasi terhadap perempuan ini umum terjadi di Indonesia, bukan hanya di Aceh

Misalnya, ketika kaum laki-laki mempersoalkan perempuan tanpa jilbab, namun diam ketika kaum mereka pakai celana pendek. Padahal keduanya sama-sama memperlihatkan aurat. Namun perempuan selalu menjadi terpidana, sementara laki-laki bebas.

Mereka juga kadang lupa, merokok di warung kopi yang mengganggu orang lain hukumnya haram. Sementara perempuan ngopi di warung kopi hingga kini belum ada fatwa haram. 

Ego kelakian memang luar biasa menjajah kaum perempuan. Urusan ngopi pun perempuan diatur sangat detail. Padahal terkadang para mahasiswi ngopi malam hari karena membuat tugas kuliah. Dengan adanya WiFi, mereka bisa menghemat paket data.

Vonis negatif perempuan ngopi di warkop, terutama malam hari, seakan membenarkan bahwa laki-laki itu makhluk bahaya. Alasan keamanan menjadi salah satu sebab perempuan sebaiknya tak ngopi di warkop pada malam hari.

Dahulu, semasa mahasiswa, kami punya joke jika ada perempuan larut malam masih di warung kopi. Perempuan itu pasti Kohati (Korps HMI-Wati) atau Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia). Pasalnya, perempuan di Aceh umumnya mana berani selarut itu di warung kopi.

Paradigma negatif tersebut tampaknya harus diubah. Perempuan juga butuh kenikmatan ngopi di malam hari di warkop pilihannya. Soal penyimpangan, misalnya pergaulan bebas disebabkan warkop, saya belum menemukan faktanya.

Perempuan Aceh cukup mampu menjaga diri. Pergaulan bebas tidak bisa menjadi dalil batas jam malam ngopi bagi kaum perempuan. Toh pergaulan bebas melibatkan laki-laki, bukan hanya perempuan.

Bukankah di bisnis esek-esek ada peran para lelaki hidung belang? Produsen dan konsumen melakukan interaksi simbiosis mutualisme hingga lahir bisnis esek-esek. Mengapa hanya perempuan yang harus diwaspadai?

Pandangan negatif perempuan nongkrong di warkop pada malam hari, apalagi sampai pelarangan, bagi saya, merupakan gejala kolonialisme. Absolute power laki-laki terhadap perempuan harus dikurangi atau dihapus. Perempuan dan laki-laki harus menjadi mitra membangun dan merawat peradaban.

Ganti kapitalisme kaum laki-laki terhadap perempuan dengan kopitalisme. Ini paham yang menjadikan warung kopi sebagai simbol kebinekaan. Tidak ada satupun regulasi maupun nomenklatur yang menyatakan warung kopi milik laki-laki.

Benar bahwa mayoritas penikmat kopi di kedai atau warung kopi adalah laki-laki. Namun sebagai mayoritas, mereka tidak boleh semena-mena, malah harus menjaga kelompok minoritas. 

Bila urusan ngopi saja kita tidak mampu adil pada perempuan, bagaimana dengan urusan lainnya?