Hubungan tidak selalu baik dianggap oleh seorang laki-laki dan tidak selalu buruk dianggap seorang perempuan. Semua masalah perlu dipertimbangkan dan dipecahkan secara bersama. Tapi apabila wanita masih bergema atas ikatan, maka istilah kuno mengguyur dan liar di perasaan dan hasrat akan kepuasaan dan kewanitaannya.

Kenapa hari-hari ini wanita dicemaskan soal pernikahan selalu dianggap hal yang menyudutkan soal keperempuanan, padahal perempuan memiliki idealisme tinggi daripada laki-laki?

Salah satu faktanya, memori perempuan divisualkan ada dominasi laki-laki antara menguasai hak akan kebebasan, dan kesenjangan wanita. Sehingga ingin liar diikat, bebas dipangkas. Akhinrnya, kadar emosi mengalami stagnan.

Ini yang kemudian wanita lebih mengabdikan dirinya untuk dibuai daripada dituai. Karena memang dasarnya lelaki hanya diabdikan untuk membunuh bukan menghidupkan. Lagi-lagi stigma perempuan terus menghasut soal nikah hanya diperlukan laki-laki untuk memuaskan hasratnya, bukan menanggung beban dan menampung derita.

Pernikahan hanya mengandung pledoi masalah bukan solusi. Takdir yang diharap baik malah membalik tajur penghianatan. Memang masalah poligami bagi wanita itu musuh, tapi bagi laki-laki setia adalah penghianatan.

Tidak ada laki-laki yang mampu menguasi derajat dan kadar emosional, hasrat, dan kebebasan wanita. Yang hanya ada justru dominasi laki-laki di atas hak perempuan. bagi wanita lebih baik hidup sendiri daripada hidup terikat atas segala ikatan. karena kejernihan pikiran mereka, soal pernikahan itu hak bukan kewajiban.

Ini yang kemudian dugaan perempuan tidak bisa dihentikan dan dipadatkan oleh laki-laki. Sebab hanya hukum yang berlaku itu mengandung ketentuan dan syarat. Bila kewajiban dipetakan untuk mengatur dan mengikat, maka soal pernikahan tidak pernah selesai.

Maka tuntutan itu yang tidak pernah berakhir dan menuai pro dan kontra atas pikiran, hasrat, dan perasaan wanita. Wanita lebih terpaku atas hak dirinya bukan orang lain. Normal saja, ketika wanita menuntut pernikahan itu transaksi “produk” yang selalu menyenangkan suami untuk menafkahi lahir dan batin.

Namun apakah kemudian laki-laki membiarkan dirinya bertahan dan terus melangkah maju, tanpa menafikan dirinya diselimuti oleh hasrat dan perasaan wanita. Tidak, yang lebih pasti akan tahu memastikan kepuasaan dirinya hanya keadilan perasaan wanita.

Tidak ada satu pun ide dan pikiran bisa disematkan dan disejajarkan dengan kesetaraan perasaan. Bagi wanita “bodoh” menganggap dirinya rela untuk dimadu dan diduakan daripada dinomor-satukan.

Kenapa kata setia harus terpaung oleh dirinya bila kemudian akhir poligami dimutlakan mematikan perasaan?

Jelas sangat kontroversial untuk menghakiminya. Tapi apa boleh buat, wanita hanya lemah bermain perasaan daripada berlogika. Sebab dirinya tidak akan pernah kuat dan mampu berpikir.

Kenapa lemah dalam hal semacam itu, sementara dia kuat dalam hal lain? karena sejatinya wanita lebih dekat di hati untuk disayangi dan lebih jauh di tangan untuk dilindungi. Tidak ada hubungan yang digariskan lurus, melainkan ada bengkoknya.

Semua potensi, beban dan masalah mengandung solusi bukan keluhan. Wanita hanya ditakdirkan menabur bukan dituai. Tetapi wanita feminin, libertarian dan utilitarian menolak keras pernikahan tidak dikhususkan bagi orang yang lemah perasaan tapi kuat pikiranya.

Sehingga konsep kadar dan volume masalah bisa distabilitaskan. Memori ini yang memang menuai kontroversi antara laki-laki dan perempuan di lintas kesetaraan dan pernikahan.

Soal pernikahan bukan persoalan kebutuhan tapi soal pikiran, keadilan, dan kebebasan perasaan. Tidak ada potensi laki-laki yang memperlihatkan dirinya dikuasi oleh wanita, yang ada hanya memori wanita menganggap dirinya dikuasai dan didominasi oleh laki-laki.

Lalu pertanyaan, apakah perempuan rela berbagi suami dengan perempuan lain?

Lemahnya, tidak semuanya perempuan punya mental sekuat baja. Kalau berbagi suami, perlu percecokan dan perselisihan sengit antara pikiran dan perasaan. Perpaduan itu secara emosional tidak ada jawaban akhir bagi wanita.

Lalu jawaban awalnya apa?

Jika kemudian perasaan tidak bisa ketemukan. Sementara masalah tidak ada penyelesaian, kontrol hasrat tidak terkendali dan jawaban tidak ada ujung.

Semua problem itu ada pada wanita. Lelaki hanya tahu, bagaimana kemudian wanita tetap ideal dan tetap cantik seperti awal. Jika wanita diakibatkan hanya sebagai mutiara, maka kotoran hitam tidak akan pernah menumpahinya.

Tetapi jika hanya wanita dijadikan tontontan, maka nilai dan kehormatan harga diri wanita merosot. Tidak ada noda yang meninggalkan kotoran, dan tidak ada perasaan yang kuat menanggung luka.

Baca Juga: Jangan Menikah!

Siapa yang bisa memperlakukan wanita bisa menampakan perasaan dan hasrat yang sama?

Tidak ada hal perasaan bagi wanita bisa disetarakan dan disamakan. Kalaupun ada, maka narasi yang dibangun patriarki laki-laki atas kelemahan wanita. Tidak semua laki-laki mendidik wanita dilintas pertanyaan dan jawaban yang sama.

Dualisme pemikiran jelas berbeda, dan tidak mungkin dipadukan. Namun kombinasi antara tujuan, mimpi, dan harapan perlakuan perempuan harus ditemukan hasilnya sama.

Bisa dianalogikan 5+4 = 9  dan 3*3=9. Meskipun berbeda "cara" dan "proses" tapi hasilnya sama. Dan begitu pula soal pikiran, perasaan, dan hati perempuan harus disematkan hal yang sama.