42490_29201.jpg
Perempuan · 5 menit baca

Perempuan: Kecantikan, Hak, dan Gairah Seks

Beberapa waktu lalu saya berdiskusi di warung kopi bersama teman saya, aktivis perempuan yang pada waktu itu menjabat sebagai ketua umum Korps HMI Wati, yang selanjutnya dikenal dengan istilah KOHATI. Pada waktu itu dia membuka pembicaraan dengan mengeluarkan buku tulisannya Naomi Wolf yang berjudul Mitos Kecantikan: Kala Kecantikan Menindas Perempuan.

Kemudian saya mencoba melontarkan sebuah pameo yang ditulis Danarto dalam esainya yang berjudul Perempuan, “menjadi perempuan adalah nasib buruk, tapi menjadi perempuan di dunia ketiga adalah bencana” (Danarto, 2016: 267). Bagi saya, pameo ini sebenarnya ungkapan kritik sosial terhadap perempuan, terutama pejabat publik perempuan, yang hanya memikirkan tentang kecantikan dan bagaimana merawat tubuhnya agar tetap terlihat molek.

Kecantikan bukan puncak dari peran perempuan dalam pentas peradaban manusia. Kecantikan hanya mitos yang mencoba untuk mendobrak ideologi feminisme, melalui mitos kecantikan ini tekanan sosial terhadap perempuan tentang ibu, domestis, kesucian, dan kepasrahan terus digencarkan dengan maksud agar nilai-nilai positif yang tertanam dalam diri perempuan dari feminisme tercampakkan (Naomi Wolf, 2004: 26).

Pornografi kecantikan – kecantikan terkomodifikasi dihubungkan langsung secara artifisial dengan seksualitas. Opini ini terus menjadi bahan untuk menggempur golongan meanstream supaya perasaan harga diri seksual perempuan menjadi runtuh dan rapuh, berat badan para model fesyen harus mempunyai selisih 23% dari pada perempuan biasa.

Selanjutnya beredar statement bahwa “cantik” ada secara objektif dan universal. Secara naluriah perempuan pasti mempunyai keinginan memiliki kecantikan, dan laki-laki pasti menginginkan perempuan cantik. Tekanan ini lebih banyak muncul dan dirasakan oleh perempuan, bukan laki-laki. Situasi ini menjelma menjadi sesuatu yang alamiah dan diperlukan karena hal itu bersifat biologis, seksual, dan evolusioner. Perempuan cantik dilambangkan kesuburan, sejak sistem seleksi seksual tersebut diterapkan, kecantikan menjadi sesuatu yang bisa niscaya dan baku (Naomi Wolf, 2004: 26).

Kecantikan dalam novel Cantik itu Luka karya Eka Kurniawan digambarkan sebagai momok nafsu kebinatangan para penjajah Jepang. Cantik bagi Dewi Ayu, tokoh utama dalam novel tersebut, adalah luka yang hanya menjadi pemanis untuk menggairahkan seksual laki-laki Jepang. Sehingga Dewi Ayu pada hamilnya yang terakhir mengutuk bayinya agar lahir sebagai perempuan buruk rupa. Katanya, “tak ada kutukan yang lebih mengerikan daripada mengeluarkan bayi-bayi perempuan cantik di dunia laki-laki yang mesum seperti anjing di musim kawin” (Eka Kurniawan, 2016: 4).

Cantik, senada dengan Kurniawan, Muhidin M. Dahlan menyatakan bawa cantik hanya lipstik dari cinta yang ujungnya hanya sebagai gairah seks. Cinta bagi Muhidin yang di ungkapkan melalu Kirani dalam bukunya Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur! Meoar Luka Seorang Muslimah adalah abstraksi dari rasa ketertarikan, keterkaguman, keterpesonaan, sekaligus penasaran yang menuntut untuk dituntaskan. Penuntasan rasa tersebut hanya bisa dilakukan melalui seks sampai penyatuan yang paling sempurna (M. Dahlan, 2016: 200).

Berbeda dengan perempuan feminisme yang hidup pada masa awal 1970-an, mereka merasa malu bila meng-khususkan perhatiannya pada suatu penampilan yang bersifat fisik, tubuh, wajah, rambut, atau pakaian. Meski hal demikian sedikit membuat para perempuan itu malu, tapi mempunyai pemikiran berbeda bahwa ada hal yang lebih penting dari pada itu, yaitu pertentangan antara kebebasan dengan kecantikan perempuan.

Dengan maraknya pasar industri kecantikan semakin menjadi-jadi sebagai mitos dan penuaan semakin bergentayang seperti hantu-hantu yang mengganggu perempuan. Dari sini perempuan yang seharusnya bergerak dan memperjuangkan hak-haknya.

Pramoedya Ananta Toer mempunyai pandangan berbeda tentang perempuan sebagaimana yang di gambarkan dalam tokoh perempuan di setiap novel-novelnya. Baik, coba kita kaji dengan melihat tokoh Nyai Ontosoroh dalam tetralogi Pulau Burunya. Nyai Ontosoroh alias Sanikem adalah gundik dari Tuan Herman Mellema si saudagar gula. Ok, disini saya tidak akan membahas bagaimana dia menjadi gundik, tapi akan membahas bagaimana seorang gundik mampu bangkit berdiri sendiri dan menentang sitem patriarki.

Nyai Ontosoroh perempuan pribumi penetang peradaban patriarki sekaligus menjadi manifestasi bagi perempuan pribumi lain agar bisa bangkit dari setiap penindasan. Melalui perusahaan Buitenzorg yang diwarisi oleh gundiknya sendiri dan bekal ilmu pengetahuan yang diajarkan oleh gundiknya sendiri pula ia membuktikan bahwa seorang perempuan pribumi juga bisa berkembang menjadi perempuan taguh dan tidak selalu di kalahkan.

Melaui Nyai ontosorih ini Pram ingin menunjukkan bahwa perempuan mempunyai hak untuk menyalurkan kreatifitasnya dalam bidang usaha dan melejitkan kariernya. Nyai Ontosorh mampu menyuburkan produksi dan reproduksi perusahaannya dengan baik sehingga perusahaan tersebut melejit menjadi perusahaan besar. Hubungan sosial Nyai Ontosoroh juga terbangun baik, melalui perusahaan Buiternzorgnya mampu membuat lapangan pekerjaan bagi perempuan dan orang sekitar.

Sebagaimana Eko Ariwidodo mengatakan bahwa perempuna mempunyai peran penting dalam menjalankan sebuah usaha bisnis, jika laki-laki hanya mampu bertani dan mampu bagaimana mengembangkan hasil taninya maka perempuan mempunyai kemampuan reproduktif dan sosial (Eko Ariwidodo, 2016: 353). Peran perempuan dalam penyaluran haknya ini (kreatifitas reproduksi dan sosial), perempuan mampu meningkatkan pendapatan industri dan mampu memenej waktu produksi secara efektif.

Selain itu Pram menujukkan bahwa perempuan mempunyai suara dan berhak mempertahankan kepemilikannya. Ini tebukti ketika perusahaan besar Nyai Ontosoroh mengalami sengketa dengan Mauris Mellema, anak kandung Herman Mellema keturunan asli Eropa, bahwa berhak memiliki seluruh saham perusahaannya.[1]  Meski pihak pemerintah lebih mendukung pada Mauris selaku anak resmi Tuan Mellema, tapi Nyai Ontosoroh dengan segala kemampuannya tetap mempertahankan apa yang seharunya menjadi haknya.

Begitulah kata teman saya ketika chatingan via WA beberapa waktu setelah diskusi bersama aktivis perempuan itu. Bahwa kecantikan bukanlah suatu yang urgen dalam kehidupan perempuan. Baginya perempuan adalah ibu dari sebuah peradaban dan kecantikan adalah kidung dari agama baru. Ritus kecantikan bagian dari sesuatu yang kuno dan primitif sehingga sebagian dari esensi kesadaran kuno dan primitf tersebut dalam diri perempuan tetap terjaga.

Dalam kata lain ritus kecantikan ini mengajak berperang melawan keterlibatan perempuan dalam dunia publik yang sekuler, dengan superposisi yang berada ditengah-tengah. Padahal jika melihat konsep al-Umm al-Madrasah al-Ula kencatikan menjadi ritus paling dungu dalam membangun sebuah kehidupan, perempuan akan diperbudak oleh sistem industri yang sebenarnya memutilasi tubuhnya sendiri hingga pada bagian sekecil-kecilnya. 

Perempuan sebagai ibu dari peradaban harusnya tidak terjebak pada mitos kecantikan dan pemujaan atas ketakutan terhadap penuaan. Perempuan tentunya lebih menghayati dan memikir realitas sosial demi peradaban yang lebih baik dan lebih berkeadilan.

 

Daftar Rujukan

Wolf, Naomi. Mitos Kecantikan: Kala Kecantikan Menindas Perempua. Yogyakarta: Niagara, 2004.

Kurniawan, Eka. Cantik Itu Luka. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2016.

Dahlan, Muhidin M. Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur! Memoar Luka Seorang Muslimah. Yogyakarta, ScriPta Manent, 2016.

Toer, Pramoedya Ananta. Bumi Manusia. cet.17. Jakarta Timur: Lentara Dipantara, 2011.

Ariwidodo, Eko. Kontribusi Pekerja Perempuan Pesisir Sektor Rumput Laut Di Bluto Kabupaten Sumenep. Nuansa, Vol 13. No. 2. Desember 2016.

 

 

[1] Perlu diketahui bahwa kisah ini Pram tulis mengambila latar belakang sejara Indonesia masa kolonial. Dimana hukum yang berlalu adalah hukum kolonial, jika pernikahan dilakukan diluar hukum kolinial pernikahan tersebut tidak diakui dan hukum waris yang berlaku hanya berlaku kepada anak hasil perkawinan sesuai hukum kolonial.